Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label China. Tampilkan semua postingan

11 Mei 2009

Kucing, Ular dan Keledai dalam satu makan malam

Ditulis ulang dalam bahasa Indonesia:

China adalah negara yang cukup unik. Kamu hampir bisa makan apa saja kapan saja. Suatu ketika kami sedang makan siang bersama penduduk lokal di sebuah pelabuhan (di China), kami membicarakan apa saja yang pernah atau belum pernah kamu makan; apa saja yang pengen sekali kamu makan atau malah ngga mau nyentuh sama sekali seumur hidupmu. Saat itu, terungkap bahwa beberapa orang bahkan menyukai sup ari ari bayi. Iyakkkkhhhh.... :ymsick: 8-x :(

Beberapa dari kami pernah makan kelelawar (paniki), kalajengking, jangkrik, sejenis serangga, lebah dan larva. Makan celeng (babi hutan), ular, kelinci, kerbau (bukan sapi), angsa (bukan bebek), dan anjing bukanlah hal tak lazim bagi mereka. Untungnya, dalam pembicaraan itu, ada juga yang bisa gue pamer, karena gue pernah makan celeng, kelinci, ular, angsa, rusa dan monyet. Yang terakhir ini :() , malah gue satu satunya yang pernah :ympeace:

Pada akhir percakapan, kami sepakat untuk mencari daging kucing untuk makan malam. Karena tidak ada dari antara kami yang pernah mencicipi daging binatang ini, termasuk teman teman penduduk lokal.

Image

Sesampainya di restaurant, mereka memajang billboard besar dengan gambar kucing. Anak kucing yang lucu, gambarnya, sedang bermain main. Berjalan masuk ke dalam restaurant, sebuah pemandangan berbeda akan kamu dapatkan. Mereka memajang / menggantung kucing kucing panggang, full body. Pemandangan yang cukup menakutkan :-s Tapi beranilah, karena segera kamu akan makan mereka, bukan mereka yang makan kamu :D :ymdevil:

Ketika memilih menu, selain kucing, sepertinya mereka juga menjual ular dan (ini yang di luar kelaziman) daging keledai ! :-o Masih dalam atmosfir keingintahuan, akhirnya kita pesan juga itu. Ada 3 pilihan: daging, kulit dan (uuuuggghhh) darah! :ymsick: Kita pesan daging dan kulit keledai.

Untuk sop, kita minta sop ular. Pelayan menyarankan untuk mencampur ayam di dalam sop, supaya sop menjadi manis. Lalu, ada yang iseng bertanya, apakah mereka juga jual daging tikus. Entah beruntung atau tidak, mereka ngga jual #:-s

Ularnya kurang enak, karena ular kecil, dagingnya dikit dan kulitnya alot. Namun kuah sopnya terasa enak. Kalau kulit keledai, rasanya seperti kikil, jadi buat gue kurang OK karena gue ngga suka kikil. Kesimpulannya, daging kucing dan daging keledai is OK. Tapi kalau ada yang bertanya, apa gue mau memakan daging itu lagi, pastinya gue jawab ngga. Sekali sudah cukup. Hanya untuk menambah daftar gue aja, walaupun bukanlah daftar yang panjang... :p

Image

06 November 2008

HONGKONG, someday I will return (with my family) …

click the above tittle for photos related to this post

Hari pertama kerja, ngga ada yang menjemput dan susah banget dapet taxi. Gue dan Melia (rekan sekantor dari Indonesia) udah mulai kawatir kalo gue harus naik MTR (subway), dan hanya itu pilihan yang ada. Di dalam MTR, terngiang saat saat di Singapore, dimana semua orang berjalan dengan langkah yang amat cepat, dengan dahi yang berkerut kerut. Namun, berbeda sekali dengan di Sing, disini, kerut kerut itu berubah senyum ramah dan tangan menunjuk kemana harus pergi, di mana naiknya, turunnya dan keluar exit mana. Semua orang seems so nice. Dan dengan kebaikan beberapa komuter, kita sampai tanpa nyasar di Quary Bay, tempat dimana kita akan menghabiskan 1 minggu. Bekerja.


Siang itu, kita diajak makan di sebuah resto yang sangat ramai, masih satu gedung. Bukan hanya suara bercakap cakap orang Hongkong yang memang kenceng. Tapi juga bunyi piring, yang dilempar waiters ke meja, atau ke mana aja, asal ngga kena pelanggan aja. Malamnya, Thai food di sebuah resto yang letaknya di ground gedung yang sama, Thai Orchid. Yummy banget, kita pesen kepiting, tom yam, dan seafood curry dalam wadah labu (mentang mentang Halloween) :_P

Malam selalu menjadi saat terbaik yang ngga ingin dilewatkan di Hongkong. Kebetulan mereka (Joyce and Edmund) ada tugas market visit ke sebuah daerah clubbing yang disebut Lan Kwai Fong. Tempat bar bertebaran, tempat sebagian besar expat bule hang-out, minum, ngobrol dan beberapa ditemani teman wanita lokalnya masing masing.

2 siang berikutnya (Selasa dan Rabu) kita diajak mencicipi makanan khas orang china (mie) yang sangat sangat Hongkong tradisional. Mie putih (kwetiau) dengan pilihan daging sapi, jeroan, bakso ikan atau pangsit kulit ikan. Bukan terbuat dari kulit ikan, tapi bungkus/kulit pangsitnya terbuat dari ikan. Seperti yang sering Papa Mama bawa dari Bangka. Sungguh Yummy... Dengan beef slice-nya yang rada rada berlemak dan lembut banget.

Malamnya, setelah makan malam di suatu tempat yang juga Chinese banget, kita diajak ke tempat terbaik untuk melihat (hampir) seluruh Hongkong, The Peak. Joe dan Iris yang menemani kita. Konon, katanya, ngga afdol kalo ke Hongkong kalo ngga ke The Peak, dan ngga afdol kalo ke The Peak tapi ngga naik Peak Tram. Dan itulah yang kita lakukan. Beruntungnya, tiket Peak Tram seharga HKD 22 (sekitar IDR 30ribu) gue dapatkan gratis dari seorang turis (timur tengah/eropa timur) yang kelebihan tiket karena temannya tak jadi datang.

Dasar Hongkong surga belanja, di atas puncak inipun ada pusat belanja, namanya The Peak Galeria. Disini juga ada Wax Museum, tempat patung patung lilin orang terkenal. Tapi malam sudah terlalu larut. Kurang 20 menit lagi, Sky Terrace segera akan tutup pk. 11 malam. Dan untuk berada disana sekitar 15 menit, tiket masuk HKD 30 per orang terasa terlalu mahal. Ditambah lagi cuaca yang berkabut malam itu. Untung Joe membawa dslr Nikon, yang terlihat sangat canggih. Dia bahkan membawa beberapa lensa kamera di tasnya. Dan inilah Hongkong dari atas.


Malam berikutnya, kita terlalu telat dari kantor sehingga hanya bisa menyaksikan Hongkong laser show dari atas kapal feri. The best view adalah, kita menyeberang dari Hongkong island ke Kow Loon, trus dari sana melihat kembali ke Hongkong. Tapi sisi baiknya, di atas kapal, kita bisa lihat kedua sisi yang sedang memainkan laser show.


Tsim Sha Tsui adalah tujuan kita di bagian Kow Loon ini. Pusatnya orang orang hang-out juga. Bar, Pub dan diskotik betebaran. Dan seperti tak pernah tidur, selalu ramai walaupun larut. Disana kita belanja beberapa kaos berbahan bagus dengan harga ekonomis, pada pukul 11.30 malam hari biasa (bukan week-end). Malam itu Serena (FC) dan Alvin (staffnya) yang menemani kita. Alvin pribadi yang sangat baik dan warm, walaupun inggrisnya agak susah dimengerti.

Malam berikutnya (Kamis), kita ke tempat yang tak jauh dari Tsim Sha Tsui, dan bahkan lebih ramai dan semakin larut, rasanya makin ramai saja. Nama tempatnya, Mong Kok. Anak anak muda yang tidak dimarahi orang tua-nya kalau pulang malam (I quess). ABG dan anak muda berpakaian ‘menggoda’, lalu lalang atau minum bir adalah hal biasa. Disini pusatnya barang barang murah kualitas tau sendiri. Kita beli kaos ‘Hongkong’, dan souvenir souvenir kecil lainnya untuk teman dan kerabat di tanah air. Jam 11 malam ketika kita meninggalkan tempat itu. Lagi rame rame-nya orang naik subway, baik yang pulang maupun yang baru datang.

Malam itu, kita ditemani Carven, Sales Promotion Girl coordinator yang cute, nice dan sangat decent. Di bar manapun, kami selalu disambut baik, baik oleh pemilik bar maupun SPG SPG yang sedang ditugaskan Carven di sana. Dia tampaknya enjoy dengan pekerjaan ‘malam’nya dan dengan antusias bercerita suka dukanya selama setahun lebih menangani SPG. SPG juga manusia.

Besoknya agak santai. Sehabis closing meeting dengan orang orang di office, kita memutuskan untuk sekali lagi menghabiskan malam di Mong Kok. Kali ini acara-nya ‘Shop ‘til Drop’ :_P Mong Kok memang pusatnya kehidupan malam yang manawarkan semuanya. Makanan, bar, hotel murah, dan terutama belanja. Next time ke Hongkong, rasanya gue udah tau harus menginap di mana, hmmm…


Apalagi malam itu tepat tanggal 31 October. Dan orang Hongkong itu sangat kebaratbaratan. Ngga heran sih, mereka kan bekas negara 'pesemakmuran' Inggris. Malam itu kostum Halloween bertebaran, dan mereka niat banget dalam berdandan. Lihat saja !


Hari Sabtu adalah hari terakhir di Hongkong. Tepatnya setengah hari. Sebab, penerbangan dengan Cathay Pacific bermula jam 4 sore, artinya jam 2 sudah harus stand by di airport, dan jam 1 kurang sudah harus mendapatkan taxi. Setelah malamnya sampai di hotel jam 1 pagi, mengemas dll sampai jam 3 pagi, esoknya bangun jam 9. Artinya hanya ada 1 – 2 jam terakhir, sebelum makan siang dan berangkat ke airport.

Beruntunglah hotel tempat gue menginap sangat dekat dengan Causeway Bay, pelabuhan yang memisahkan pulau Hongkong dengan pulau Kow Loon. Dan disitu pemandangannya indah sekali. Hanya 1 stasiun subway jaraknya dari stasiun Tin Hau yang letaknya persis di depan L’Hotel. Jalan kaki pun mungkin hanya 20 menit. Tapi, gue pilih subway, karena takut nyasar :_P


Setelah tanya kiri kanan, akhirnya sampailah gue ke ‘teluk’ itu. Malah sempat meminta wisatawan lain mengabadikan pose gue disitu. Kebetulan gue pergi sendiri, Melia mungkin kecapean setelah semalaman shooping dan memilih istirahat di hotel. Sayang hari itu mendung, sehingga foto kurang mendukung. Memang sedang musim Autumn sehingga cuaca memang kurang bersahabat bagi photography.


Makan siang terakhir, kita pilih di depan hotel kita, Viking Seafood. Karena dari hari pertama sudah tampak menggoda. Namun, setelah memesan dan makan, ternyata agak kecewa juga.


Taxi ke bandara cukup mahal. Dari L’Hotel HKD 380. Seperti sudah kesepakatan, walaupun argonya hanya sedikit lebih dari 300, dia mengenakan semacam surcharge hingga mencapai angka 380.

Bandara Hongkong sangat besar. Dan sudah merupakan tempat ‘wisata’ sendiri. Puluhan bahkan ratusan outlet yang menjual macam macam souvenir menarik dan makanan. Salah satu-nya Kee Wah yang menjual kue tradisional orang Hongkong yang sangat terkenal dengan sebutan ‘pai istri’ (Louphopeng). Konon, bagi tiap orang yang mengembara meninggalkan istri (seperti gue), wajib membawa pulang kue ini pertanda, di dalam perantauan selalu mengingat sang istri di rumah yang dengan setia menunggu kepulangan suami.


Tak kalah serunya, Disney shop pun ada disini. Dan ramai sekali. Mungkin tak semua orang sempat ke Disneyland Hongkong seperti halnya gue dan Mel, tetap ingin sesuatu dari sana. Dan tidak semua orang yang ke Disneyland sempat membeli souvenir. Nah, disini lah pintarnya pihak Disneyland. Souvenir shop yang selayaknya berada di tempatnya, ia ‘pindahkan’ atau bahkan ‘dicopy’ ke bandara. Semua orang ingin membawa pulang sesuatu dari Disneyland. Semua puas dan Disneyland untung besar. Gue sendiri beli tempelan kulkas Disney untuk pajang foto anak, nantinya. Dan oleh oleh mobil mobilan The Cars untuk ultah si James.

Pesawat terbang persis jam 4 sore. Sehingga menunggu tak begitu lama. Belum sempat menghabiskan pulsa Simpati Kangen yang dibeli Minggu hari pertama. Pulsa HKD 50 masih tersisa 28, itu sudah telepon Natz, Papa-Mama di Bangka dan Khioko. Masih belum habis juga. Hemat dan Hebat Simpati ini.

Di dalam pesawat banyak sekali ‘godaan’ tontonan walau mata sudah 5 watt. Kebetulan gue belum nonton ‘Dark Night’ sehingga walaupun mata setengah terpejam, tetep gue tonton sampai habis. Dalam perjalanana menuju Hongkong, juga begitu, film Hanckok gue tonton habis. Pelayanan Cathay memang yahuuud…

Sampai di tanah air, imigrasi, bagasi dll (lama banget). Akhirnya keluar dan dijemput Natz dengan sopir. Se-enak enaknya di negeri orang, tetep hari terakhir mau pulang rasanya lebih exited daripada saat saat mau pergi. Hari itu, menurut tanggalan China, merupakan ultah gue. Gue dan Natz pergi makan mie kadut di Taman Palem. Ketemu Melen, yang hamil 4 bulan dan nakut nakutin lahir normal. Anaknya yang pertama (sekarang 5 tahun) lahir normal, dan dia bersumpah ngga mau lagi. Duh. Nakutin...

Eniwey, waktu di the Peak Hongkong, gue SMS gini ke Natz. “Kalo anak kita udah cukup gede, tujuan wisata ke luar negeri pertama kita musti Hongkong” dan Natz langsung meng-iya-kan :_)

28 Oktober 2008

HONGKONG at Halloween

Belum keluar dari bandara internasional HongKong, sudah disambut suasana Halloween. Bahkan ada karakter berbaju ‘seram’ yang bisa diajak berfoto. Dan layaknya turis. Kita ngga ketinggalan untuk itu.


Bandara Hongkong besar, tapi sangat mudah. Semua petunjuk dalam bahasa Inggris, semua orang bisa bahasa Inggris. Beda banget sama Guangzhou, yang notabene juga ‘mengaku’ bandara internasional.

Keluar dari Bandara dengan taxi sangat mudah dan ngga mahal. HKD 380 perkiraannya. Dengan bus HKD 150 per person. Makanya kita decide to take taxi. Sopir taxi entah sengaja entah ngga, mengantar kita ke hotel yang salah. Bukan L’hotel, tetapi Langham Hotel. Gue baru mau senang, sebab, sekitaran hotel itu merupakan mal dan pusat belanja dan makan, mirip hotel gue dulu di Liuzhou. + setengah jam kemudian, setelah memutar balik dan masuk tol sekali lagi, sampailah kita di L’hotel, yang… hmmm gue lebih suka suasana di Langham. Apalagi the actual bill, ternyata HKD 470, kata sopirnya, itu include tol HKD 30 + 40 (which yang 30 adalah salahnya dia) + tips angkat koper totalnya HKD 140 diluar argo yang cuma HKD 330. Artinya angkat koper HKD 70 ? (kurang sedikit dari Rp 100,000).

Waktu naik, gue agak simpati dengan si ‘asuk’ yang mengendarai taxi kita ini. Old man in the big city, working hard for his family. Sekarang agak berkurang. Paling ngga tidak terlalu kesal, since gue enjoy sepanjang perjalanan yang didominasi bay view, dengan alat berat pelabuhan, jembatan jembatan kokoh, dan kapal kapal pesiar yang gue harap ada tour malam hari yang bersahabat dengan kantong.

Sampai di L’hotel..hmm.. sekali lagi gue kecewa. Memang sebuah boutique hotel di tengah kota. Rate-nya hampir Rp 2 juta semalam. Bintang 4. Kamarnya ngga lebih gede dari Somerset. Dan sekitarannya ngga serame hotel yang salah alamat tadi. Entah lebih baik atau ngga, gue kok berharap hotel yang tadi tidak salah alamat. Sudah keburu exited soalnya. Ohya, waktu si pengantar bagasi menunggu tips, gue bilang, “sorry, I don’t have any change but only this” sambil nunjukin HKD 10 kembalian taxi tadi. Gue pikir tipsnya kekecilan waktu dia berjalan berlalu, “well, this the only small money I have” dia melirik, dan kembali, “Is it 10 dollar? 10 dollar is good enough”. Wah.

Laper banget. Makan siang terakhir jam 11an WIB. Sekarang udah jam 17an waktu setempat. Belum banyak resto yang buka around this corner. Akhirnya kita menemukan sebuah gerai yang harga makanannya reasonable. Dengan menu berbahasa Inggris dan seorang ‘ai’ yang bisa bhs Inggris. Senangnya. Meal pertama di Hongkong sukses. Wonton Soup, Hakau, dan Congfan. Melia pesen nasi goreng YangChou. Lumayan. Walaupun jangan berharap seenak di negeri sendiri.

Just around the corner of Hongkong, banyak sekali orang Indonesia. Most of them adalah orang Jawa yang TKI. Dan sama noraknya ketika mereka di negeri sendiri, mereka berpakaian agak mencolok dan senang berfoto. Hari ini Minggu, mungkin hari off-nya mereka. Kita bahkan menemukan seorang ‘asuk’ yang jualan perdana Simpati Kangen. My gosh.. I’m so gladful. SMS kurang dari HKD 0.5. Luar biasa Simpati. Menyelamatkan perasaan ‘kangen’ ini, to my baby, of course. My two babies at home :_)

After beli minum dan roti untuk besok pagi (hotel belum termasuk breakfast, breakfast + HKD 85 -> shoot me dead !), return hotel, gue dan Melia ke lantai 39 untuk sekedar melihat lihat. Kolam renangnya kecil banget, dan ada sauna yang sangat sepi pengunjung (untungnya). Sayangnya, gue ngga bawa celana renang. Mungkin gue akan beli aja. Sebab, untuk menuju kolam renang, harus lewat semacam pintu air yang sengaja mereka nyalain. Artinya, kalo ngga mau berenang, ya, jangan lewat. Kolam renangnya sepi. Sayang juga untuk dilewatkan.

Ada internet di kamar, tapi harus bayar sejam HKD 30, 3 jam HKD 50. Untungnya ada internet gratis di lobby. 2 komputer, first come first served. Jam 11 malam di Hongkong. Well, that’s the whole day. Setelah dokter bilang lebih baik jangan ke luar negri dulu dalam waktu dekat setelah masuk RS 2 hari, I hope I’ll doing fine for the whole week ahead. Sabtu depan gue pulang. Harusnya bisa cepat dan mudah. Pekerjaan ini maksudnya.


Jalan jalan malam di depan hotel. Double-decker dan taxi merah mendominasi. 3200 km dari rumah. Hampir 5 jam penerbangan. I miss my baby.

01 Juli 2008

Pregnancy and Ovulation Test Pack (oleh oleh dari China)

Perjalanan terakhir ke China (April 2008 yang lalu), ada oleh oleh yang cukup menarik yang gue bawa dari sana. Yaitu alat tes kehamilan dan alat tes kesuburan. Di awali oleh cerita seorang teman, sesama orang Indonesia, yang suami istri tinggal dan bekerja di China lebih dari setahun, Mario dan Vivi. Dari Vivi inilah kita tau ada test pack untuk kehamilan, bentuknya berupa lembaran kecil dan tipis, cara pakainya dicelupkan di pipis pertama di pagi hari. Mirip, bahkan sama dengan Sensitif, persis.

Oh, kalau gitu, bukan oleh oleh yang menarik dong, kan di Indonesia juga ada. Ntar dulu. Ini beda. Kenapa gue bilang beda? Siap siap untuk kaget ya…. Karena harganya hanya sekitar Rp 2,000 (uang Indonesia) !! Kenapa bisa murah sekali ?? Pasti kualitasnya jelek dan ngga akurat deh, what do you expext? It’s made in China !!

Ha ha ha, itu reaksi yang wajar. Mari gue jelaskan dengan logika kenapa bisa begitu murah. Pernah dengar kebijakan pembatasan penduduk di China, one family one child? Tau ngga kalau aborsi itu legal bahkan dianjurkan di China? Inilah kegunaan alat tes kehamilan ini bagi (sebagian besar) pasangan di China. Bukan untuk pasangan yang mendambakan anak dengan berdebar debar menanti hasil tes kehamilan dan berharap positif. Namun justru berharap negative (bila sudah punya anak satu). Kalau positif, dengan berat hati harus digugurkan, atau siap siap uang yang banyak untuk membayar denda kelebihan anak (nah lho, memang terdengar aneh di kuping kita). Di sana, perangkat apa pun yang mendukung kebijakan dan program pemerintah lokal, pastilah murah.

Pertama kali gue jumpai di Apotik, untuk tes kehamilan, berwarna biru muda. Untuk tes kesuburan berwarna merah muda. Kalau yang merah muda ini (ovulation test), untuk mengetahui masa subur. Logikanya orang Indonesia, kalau hasilnya positif, cepat cepat berhubungan supaya jadi anak. Namun, di China digunakan justru untuk menghindari. Jadi, jika hasilnya positif, bapaknya siap siap manyun, atau ke kamar mandi ‘mencari’ sabun kalau lagi pas pengen :_P

Ovulation test sedikit lebih mahal, sekitar Rp 3,000 an uang kita.

Soal keakuratan? Ngga tau deh dengan ovu test, tapi yang pregnancy test, boleh gue bilang 100% akurat. Di awal kehamilan, 2 kali test pakai test pack China dan 1 kali pakai Sensitif, hasilnya sama. Sama sama Positif. Dari sinilah kita tau bahwa Natz positif hamil. Sempet ragu juga sih, makanya bandingin dengan Sensitif yang kebetulan masih ada stoknya. Hasilnya, sama, positif.

Terakhir, kemaren, pas lagi jalan 5 bulan usia kandungan, kita iseng tes lagi dan lagi lagi hasilnya sama. Akurat.



Cara bacanya pun sama dengan Sensitif. Walaupun bacaannya tulisan China semua, gampang kok ditebak. 2 garis = positif, 1 garis = negatif, ngga ada garis = coba lagi. Sudah dikonfirm ke teman yang paham tulisan Mandarin.

Karena harganya yang super duper murah (bandingkan dengan Sensitif yang harga eceran termurahnya aja Rp 18,000), gue borong banyak sekali (satu dus isi 50 lembar). Demikian pula dengan Ovu test, lebih sedikit sih, soalnya buat iseng aja (2 pack isi 10 lembar). Lumayan buat bagi bagi saudara dan keperluan sendiri. Kalau ada teman yang mau agak banyak, terpaksa kita tarikin biaya, tapi sama kok dengan harga beli :_)

How to use the pregnancy test pack, click the above title or click here.

21 Mei 2008

GUIGANG, a transshipment city

click the above title for photos related to this blog

This is the third time I come to Guigang. The first and second were in summer (August) 2007 and winter (December) 2007. This time is from 15 Apr to 13 May 2008, spring 2008.

As a small city in Guangxi province, south of China, it’s quite surprising for me to see a medium-modern city compared to Indonesia. As if we compare to, for example, Medan (the third biggest city in Indonesia), Guigang looks more modern and sophisticated. Hotel occupancy were high, Restaurant full, Reflection, Bar, Night Club everywhere. Not even a year since my last visit, already two new shopping mall were built and opened. Unlike other cities in China, which developed in industrial or tourism, Guigang don’t have two of those potential. I can say, no place worth to visit as a foreign tourist here. However, since I were there, I just as well explored what they have, and I’ve made the conclusion :_)

So, what bring the, I can say, ‘fast growing’ (again, compare to Indonesia) in Guigang? All these were just an impact from the real business, port business, which majority has been owned by foreign private investment company, like these three major ports own by my boss, which every year I have to visit as part of my assignments.

Yup, Guigang is a transit city. As its main river, Xi River, is a direct connection to the Pearl River Delta, which connecting the central China with the south of China, Guangzhou, Hongkong and Macau. Now you know why Hotel occupancy were high, Restaurants full and Bar and Nightclub everywhere :_) I call it transshipment city, from the activity in our ports, which transshipped the cargo (container, coal, steel, etc,) from train or truck to ship and the opposite.

Places to visit
While I was there, as usual, as many Guigang people, visit Nanning is a must. Shopping (clothes and electronics) and Movies is one of the things you can not do in Guigang, with satisfaction. Three times I come to Guigang and three times also I go to Nanning, to shop, electronics, clothes and earrings for my lovely wife, books for my dad. As Nanning is only 2 hours from Guigang, it’s very convenience, even if you go by Bus, as much as RMB 14, you get a bottle of mineral water :_)

Nan San and Shi San are two of the ‘mountain’ you can visit while you were here. It called mountain because in mandarin, there’s no other term for hill. All with mountain shape is called mountain. And a bit difficult to explain to them (local people) about the different between mountain and hill. When we say Himalaya is a real mountain, a-ha, they seems begins to understand :_)

Shi San is a hill (The Western Hill) located near Guiping city (still in the Guigang area) and one of Top Ten Tourist Resort of Guangxi (as it written in the ticket), beside Li Jiang River and Elephant Trunk Hill which also located in Guangxi. I tried to climb the hill, but not reach the top. At the top (as told by my fellow Indonesian, Roy, really nothing to see, just a place where people worship with the hio – red stick which burned slowly and resulted a thick smoke and smell). While Nan San is not even a hill, just a park with several big rocks, which two of them can be climbed (has stairs). However, in my opinion, Nan San is more worth to climb, not so high and the view is amazing from above. Remind me a bit of Ma An San in Liuzhou. Nan San not only has rocks, it also has a small zoo with quite interesting animal to see, like camel, yak, tiger, bear, and kinds of birds like peacock and ostrich. We also BBQ there.

The other tourist object, which really really no need to visit :_P is Tung Hu Gong Yuan. Eastern Lake Park is a park in the center of the city, an old park that not much attention from the people. There’s a lake with lots of lotus leaves, unfortunately, in the spring, the flower don’t bloom, and only bloom in the summer.

The Food
This is the part I want to share the most. As I mentioned before, the restaurants full. Full with strangers who come and go, cargo owner, which I can say is a boss of their own business. That’s why hotels and restaurants were full, not to mentioned bar and nightclub and massage. As I come over and over to China, I become more familiar with the foods and don’t know why, they taste more and more delicious to my Indonesian tongue.

Breakfast
Favorite breakfast is mifen. Noodle, no, not noodle. It’s Kwetiaw (rice noodle) with meat (usually pork meat), and soup (usually boiled pig bone). Our favorite is the one near ex-Dewi’s place. Every driver who picked us know the place. My favorite is jiao je (boiled dumpling with pork meat and vegetable inside) while Roy never missed ju jiao (pig leg). At every opportunity, we must go there, never bored.

The other place is duck mifen, next to the above place. Also the one that near old town (which introduced by Bely – one of our translator), dumpling with to fu soup. Other is the one that also in the old town (introduced by Zhong Li – accounting staff), also mi fen with pork meat and ju jiao, but no jiao je. Last visit, we also eat mifen near the lake, also delicious.

Other breakfast is mien pao (bread) which for us, not delicious but can be eaten :_P Just to save time when we were in a rush to arrive at office.

Lunch and Dinner
My very favorite food is Ju du jie. It’s a hotpot soup with chicken and pig’s intestines (usus). Ju du Jie mean Pig’s intestines and chicken. Usually, we add potato (malingsu), ear mushrooms (mu’er), sea cucumber (trepang), to fu and seng cai (a kind of vegetable). The soup is very delicious, nothing can compare :_) I don’t used to like Ju du, but this one has become my favorite. Just wondering it, make me feel hungry ha ha.

Second, is the sea food porridge (hoi cou), porridge with crab, scrimp, catfish, and bamboo shell (seng je lo). All materials are still alive when they were picked and weight. A big bowl of porridge are served 30 minutes later. RMB 165 enough to keep 4 persons full after taking 5 or 6 small bowls of it.

Xiao Wei Yang (Little Lamb) also considered our favorite. The concept is similar to Xiao Fei Yang (Little Sheep) we ate at Nanning. There’s spicy soup and ordinary soup to cook your lamb, to fu, fish, beef, and vegetable. As usual, we also add mu’er and malingsu.

We also try cat meat here (+ donkey), but not so delicious. Please refer to my other blog.

Barbeque here also not bad. Sau Kau, they call it. Once we have sau kau in the square, but this time seems already close. Last time also eat sau kau near the lake. Also delicious. And this time we also make our own sau kau in Nan San with Pak Ansel and team, Manager Lou, Bely, Jenifer, Xiao Tang and others.

Other restaurants like Gui Huang, Yang Yang, Jin Long Jai and Ron’s canteen is not bad at all. We go several times to Jin Long Jai and Yang Yang, just near our hotel, newly opened.

Other food is office’s canteen food. There is 2 choices: from Mao Er (they call it cat foot – mao fan) or from Lumberyard (Cumucang). Both is not preferable :_P But sometimes, due to busy time, we have no other choice but to order from there. However, when eat at Lumberyard, the food is not bad, because we can have special order :_) In Mao Er, no special order.

I am scheduled to visit here twice a year. With my mandarin getting better, I don’t think I have other choice and say no to my boss :_( One side, I can learn more mandarin and have great opportunity to visit more places I’ve never been, but on the other side, I don’t want to leave my family so often and for quite a long time (a month). Especially these times, when we’re expecting a baby…

22 April 2008

Cat, Donkey and Snake in One Dinner

China is a quite unique country. You nearly can eat anything at anytime. There is one time when we were having lunch at one of company’s port, we were talking about what you’ve been eat or not yet been eat, what you eager to eat and what you would never even try for your whole life. It is revealed that some people even like to eat baby placenta in a soup.

Some have tasted bat, scorpion, cricket, even a kind of ant, bee, and larva. Eating wild boar (celeng), snake, rabbit, dog, buffalo, goose and dog are seems ordinary for them. A friend said he already taste the horse. Lucky, I got something to be proud of because I have taste the snake, goose, deer and monkey. The last one only me who had tasted :_) At the end of conversation, we agreed to go and eat cat meat for dinner. Since none of us have ever taste this kind of animal, including some of our local Chinese fellow.

Arrived at the restaurant, they hang the big billboard with pictures of cat. The kitty actually, and they were cute. But when you walk inside the restaurant, very different view you will see. They hang the cats, roasted, the full body. Quite scary for the first time. But be brave, soon enough you will eat them, not them eat you :_)

When choosing the menu, it seems that beside cat, they also selling snake and, this is extraordinary, donkey meat (Lu rou) ! Still in the atmosphere of curiosity, we just as well order also the donkey. There’s 3 choices, the meat, the skin and (uuuhhh) the blood ! We order meat and skin. For soup, we asked for snake soup, and then the servant suggests also the chicken in the soup, so the soup could taste better. We also asked whether they selling mouse meet. I don’t know whether fortunate or unfortunately, they don’t have.

The snake, because it is just a small snake, taste not very good. The soup taste awesome though. And the donkey skin, I think it’s just the same taste as kikil (leg of the cow). For me not ok, because I don’t like the kikil. I conclude that cat and donkey meat is ok. But, if someone asks me whether I’m going to eat those meats again or not, I will certainly say NO, once is enough. Just to add my list. Although it’s just a short list :_)

31 Desember 2007

Three Stooges in Liuzhou & Guigang, Nov – Dec 2007 (+Guilin)

Click above title for Photos related to this blog

Ini dia penggalan penggalan pengalaman three stooges selama penugasan ke China kali ini.

Breakfast DIMSUM
Ini ritual setiap pagi (tapi ngga eneg2 hehe). Dengan menu yang sama: Siomay, Hakau, Bakpao isi kacang, bakpao isi babi + onde. Roy dan gue selalu chang fen isi udang, Darwin selalu pitancou (bubur telor pitan). Dan selalu minta cabe racik. Every morning the same. Sampai sampai minggu terakhir, pelayan pelayannya udah tau menu kita hehehe. Sebenarnya ini bukan karena kita doyan, tapi karena memang ngga ada pilihan lain. Ngga ada resto lain yang buka sepagi itu (jam 7an) deket deket hotel dan kita ngejer dijemput jam 8 lewat 10 di hotel. Jadi yang paling nyaman, ya makan di hotel. Ohya, hotel kita ini rate-nya 198/night TIDAK termasuk breakfast, so breakfastnya kita bayar sendiri dan charge ke AKR. Sekali makan (bertiga) kurang lebih habis RMB 60 – 80, itu sekitar Rp 75,000 – Rp 100,000. Tapi sumpe dimsumnya enak banget, siomaynya gurih banget, dan udang di dalam hakau dan chang fennya tuh bener bener maknyus, udangnya ngelawan kalo digigit.

Tiap pagi yang makan disini rata rata orang tua (para pensiunan). Boleh dikata, most of time, cuma kita yang masih mudanya. Paling Sabtu dan Minggu aja yang agak rame dengan anak muda, hari lain, weleh, orang tua semua, kakek nenek dengan cucunya. Dan tempat duduknya pun sama setiap pagi, seperti udah di reserved, sampai hapal kita. Ada seorang ‘raja kecil’ yang tiap pagi di dudukin di bangku kecil dan diangkat sama pelayannya masuk ke restoran, persis raja jaman dulu. Tiap pagi selalu begitu, dia datang dengan kakek neneknya. Ternyata disini kehidupan para orang tua pensiunan disupport sama pemerintah. Semacam uang pension, RMB 1000 (sekitar Rp 1,250,000), diberikan oleh pemerintah sebagai jaminan hari tua mereka. No wonder, mereka orang-orang tua mengisi sisa hidup spt ini, tanpa rasa khawatir.

Riverside at night
Ini juga semacam ritual malam hari. Tau dong, kita kan badannya subur subur alias bongsor alias gendud. Jadi tau diri. Abis makan malam, pasti kita sempetin jalan jalan ke riverside. Ini tempat favorite kita. Sekitar 15 menit jalan dari hotel kita, ngelewatin pusat belanja trus lewat gang kecil, lalu turun tangga dan nyebrang jalan, nyampe deh. Liuzhou adalah kota sungai, dengan pusat keramaian kotanya ada di bagian tengah, yang dikelilingi oleh sungai, dan hotel kita, ada di pusat keramaian itu. Disini memang landscape-nya kota Liuzhou: Sungai, jembatan dan gunung (bukit sih lebih tepatnya). Dan disini, juga favoritenya orang sini. Setiap malam ngga pernah sepi. Ada yang pacaran (dingin dingin empuk bo’ hehe kita dibikin ngiri nih, soalnya 3-3nya co kesepian haha), ada yang sekedar jalan jalan, kadang bawa bawa anjing piaraan, ada yang mancing dan ada yang nari nari juga. Biasanya nih yang nari nari orang tua.

Ada juga jasa sewa perahu untuk keliling keliling sungai, tertulis biayanya RMB 60. Tapi kita ngga pernah naik, karena, rutenya keliatannya pendek, dan dengan jalan kaki aja bisa kita susurin. Walaupun keliatannya enak juga sih, mirip mirip nyusurin Chao Praya di Bangkok, tapi tanpa makan malam. Pikir pikir sih, mau juga, tapi nanti, kalau ada kesempatan datang kesini lagi bareng Natz, lagian, ngapain juga ni co betiga tigaan naik perahu nyusurin sungai malam malam, romantis banget en homo banget ngga sih he he.

Tapi ada juga sih kita naik perahu, tapi ini buat liat air terjun dari dekat. Di sungai seberang sana, ada dibuat air terjun buatan. Megah lho, malam malam di kasih lampu. Kita naik perahu kecil ke sana RMB 10/orang. Asik juga.

Yang paling banyak kita lakukan di riverside ini tak lain adalah: Berfoto. Udah kayak sesi pemotretan deh kalau udah di sini. Apalagi Darwin bawa bawa tripod (beli disini RMB 75). Tapi ngga malu kok, orang orang sini juga banyak yang foto, tapi he he, tetep aja ngga ada yang ngalahin kita deh hebohnya. Memang landscape yang sempurna untuk berfoto. Sungai, gunung, lampu, 2 pagoda putih dan kuning, dekor dan lampu yang unik yang berbeda antara 1 jembatan dengan yang lain. Bagi kita, ini memang tempat berfoto, dan foto yang sempurna untuk ber-narsis. Walaupun cuma pake kamera poket (disana ada tk foto yang nawarin pake kamera pro, tapi kita ngga tanya 1 jempretan berapa harganya), hasilnya tetep oke, dan sekali lagi, sempurna untuk ber-narsis ria…

Riverside in the morning
Nah, kalau yang ini, bukan sesuatu yang bisa lo dapat tiap hari. Hari biasa, kerja, hari libur, bangun siang hahaha. Pada suatu hari minggu, kita sempetin ke sana, untuk berfoto he he, untuk apa lagi? Dan itu bukan pagi, hampir jam 11 he he. Tapi kalau dilihat dari fotonya, kayak masih pagi banget, soalnya memang cuaca musim dingin, berkabut. Walaupun dingin banget, boleh percaya boleh ngga, ada orang yang berenang !! Gelo ngga tuh orang ?? Ada juga orang yang ngelatih anjingnya dengan ngelemparin sesuatu ke air sungai yang dingin, trus anjingnya disuruh berenang, ngambilin.. wuuuhhhh, pasti dingin banget tuh ya…


Liuhou Gong Yuan
Sabtu pertama kita di Liuzhou, kita manfaatkan untuk jalan jalan sekitar kota. Di pusat kota ada sebuah taman yang populer banget bagi orang Liuzhou. Namanya Liuhou Gong Yuan (Liuhou Park). Liuhou ini sebenarnya nama orang, orang besar, pemikir, penulis, dan sastrawan dijaman dulu, dan dia adalah pendiri kota Liuzhou. Tamannya gede banget, ada sungai dan jembatan segala. Masuknya juga gratis. Makanya ngga heran, tamannya rame banget, sama ortu dengan anaknya (yang cuma semata wayang), anak anak ABG dan para manula. Bener bener nikmat dan terasa banget kualitas hidup yang tinggi disini. Anak anak lari lari, main komedi putar, main mancing mancingan (mancing ikan mas, dari kolam kecil), main marmut, dll deh. Keliatan banget ortunya bahagia dengan keceriaan anaknya. Yang ABG sibuk berfoto. Sebagian Manula asik main mahyong, yang lainnya terlihat berlatih paduan suara. Ada pula yang berlatih Tai Chi. Pokoknya OK banget, Kita menghabiskan setengah hari disana, dan rasanya betah banget berada disana..

Ohya, sebelum kesana, kita sempet mau mampir ke museum. Tapi kita ngga jadi masuk karena ternyata bayar he he, apalagi untuk kita orang asing (ceileee) ternyata tarifnya lebih mahal, RMB 15 per orang. Dengan tidak tahu apa yang ada di dalam, ditambah ngga boleh foto foto, kita memutuskan ngga jadi masuk ke dalam.

Ma An San
Ini dia gunung (bukit sih sebenarnya) yang paling ngetop di Liuzhou. Kenapa gue sebut gunung, karena dalam bahasa China, ngga ada beda antara bukit dan gunung, semua disebut gunung (san). Dilihat dari kriterianya sih, lebih tepat bukit daripada gunung. Bukit inilah yang menghiasi jendela kamar hotel kita. Boleh dibilang, kita dikasih view terbaik sama hotel kita. Sebenarnya ada bukit bukit yang lain di kota Liuzhou ini, memang kotanya terkenal dengan landscape berbukit bukit. Kalau dilihat penampilannya dari bawah, Ma An San ini ngga lebih keren dari bukit yang lain. Bukit yang lain malah terlihat lebih megah. Ada yang punya pagoda diatasnya, ada juga yang ada bangunan khas china yang tajem tajem itu lho. Menurut gue sih, Ma An San biasa aja ya, cuma ada tiang menara di atasnya, mungkin menara sinyal telepon he he. Tapi kalau untuk view dari atas gunung, semua orang pasti akan bilang Ma An San lah yang paling worth untuk di daki. Dan memang benar.

Abis capek jalan di Liuhou Park, sore harinya, jam 3, kita diajak sama orang kantor (Liao Jun – asmen accounting, bhs Inggrisnya jago, cuma aksennya aja yang rada pelo he he), untuk mendaki bukit ini. Sebenarnya untuk mencapai bukit ini, bisa dengan jalan kaki, tapi Liao Jun insist untuk naik taxi, untuk hemat tenaga, katanya. Dia bener. Soalnya kita mengira akan ada gondola untuk naik ke atas, karena dari jendela kamar, terlihat ada gndolanya. Ternyata, ngga. Itu gondola buat dari Ma An San ke bukit yang lain yang berdekatan. So, untuk naik ke puncaknya cuma ada satu cara, yaitu, mendaki. Untungnya bukan mendaki seperti mendaki gunung gunung di Indo yg beneran mendaki he he, ini udah disiapkan tangga, jadi cukup menyusuri anak tangganya. Tapi tetep jangan dikira gampang… perjuangan berat juga lho, apalagi buat kita yang ngga biasa naik tangga, bentar bentar minta istirahat, bentar bentar minta istirahat he he, tapi bagi mereka orang China, contohnya si Liao Jun, ngga ada capenya sama sekali, napasnya pun tetep teratur. Pendakian ini kira kira mirip dengan naik ke Bukit Kasih di Manado, yang waktu itu karena hujan, ngga jadi daki sampai atas. Kali ini beda, Ma An San kita benar benar sampai atas, dan…. Benar benar worth banget, ngga salah yang dibilang sama orang orang. Dari atas sini bisa lihat seluruh kota Liuzhou.

Dari sini bisa dilihat pusat kotanya yang dikelilingi sungai, membentuk bulatan di tengah tengahnya. Seperti terlihat di gambar atas. Di sisi yang lain bisa dilihat rumah rumah susun, dan di agak kejauhan, terlihat bukit bukit yang tersusun indah. No wonder bukit inilah yang paling top among the others, e, tapi ngga tau juga sih, soalnya kan belum daki bukit bukit yang lain, next time deh, sempetin.

Yang uniknya, sebelum nyampe puncak, ada sebuah goa yang mirip terowongan. Dan pada waktu turun, bisa liat telapak Dewa (Immortal footprint). Setidaknya itulah yang tertulis di awal awal pendakian. Tapi makin di cari, makin ngga ketemu itu telapak he he. Akhirnya sampai sore jam 6, kita menyerah, soalnya saking capeknya, si Darwin ampe kram kakinya, ya, akhirnya kita memutuskan untuk kembali ke bawah. Pulang kembali ke hotel, kayak masih kurang cape, kita memutuskan untuk jalan kaki. Sampai deket hotel, kita nunggu. Ternyata si Liao Jun sudah janjian ketemuan sama Li Cai Xia (Managernya) sama Dewi untuk dinner bareng. Ternyata Dewi juga lagi main ke Liuzhou, belanja katanya.

Guilin Mi Fen vs Ro Se Fen
Ini pertama kalinya (dan sedihnya, sekali kalinya) gue makan ro se fen. Sama Dewi, Li Cai Xia, Liao Jun dan Zhou Li (orang accounting juga). Tentunya juga Roy dan Darwin. Entah karena emang enak atau karena capek abis daki Ma An San, gue makannya lahap banget dah… sampai kuah kuahnya yang pedes habis ngga bersisa. Plus baso daging yang mirip perkedel rasanya, gue lahap sampe lebih dari 10 kayaknya. Nikmat abis.

Ada 1 lagi jenis mi yang mirip ro se fen, namanya Guilin mi fen, dari namanya aja udah ketahuan, asalnya memang dari Guilin. Di Guigang juga pernah makan, tapi aslinya kita makan di tempat asalnya, Guilin. Ciri khasnya Guilin Mi fen adalah pedes, dan memang aslinya pedes banget, ampe jontor makannya he he.

Bedanya apa ya antara mi fen biasa, Guilin mi fen dan ro se fen? Kira kira bisa gue jelasin begini nih: mi fen biasa dengan Guilin mi fen hampir ngga ada bedanya kecuali pedasnya, dan juga bumbunya. Guilin mi fen biasanya nyediain cabe kering dan minyak cabe + kacang, daun bawang dll. Kalau mi fen biasa, ngga. Isinya sih kurang lebih sama, daging babi iris. Dengan pilihan tambahan kayak sam can, kaki babi, kembang tahu, dan telur rebus masak kecap. Kalo ro se fen? Ya, kurang lebih sama juga he he, cuma, kuahnya aja yang ngebedain. Kuahnya ro se fen itu = kuah rebusan kerang, memang kuahnya rasanya mantap, nikmat.

Di Guigang, makan Guilin mi fen sekali dan mi fen biasa beberapa kali yang di tepi sungai, pinggir jalan begitu, tapi nikmat lho, sampai 2 kali kita makan ke situ. Yang di pinggir sungai ini, pake irisan babi, irisan daging sapid an hati babi. Uhuy…
Di Guilin 3 kali makan Guilin mi fen. 2 kali makan pagi di depan hotel, 1 kali dlm perjalanan (kaki) ke Elephant trunk hill.
Di Liuzhou, 1 kali makan siang mie fen ditemenin si Cai (orang accounting). Dan semuanya ENAK. Mi nya ngga sama lho dengan mi di Indo. Minya terbuat dari beras (= kuetiau), bentuknya bulet panjang kayak mi, tapi warnanya putih. Rasanya juga lebih soft. Kalau mi rebus kayak Indo disana gue ngga nemuin, mungkin ngga ada, kecuali mi instant. Tapi kalau mi goreng ada, namanya Zhao Mien (mi goreng). Jadi ada 3 macam Zhao: Zhao mien (mi goreng), Zhao Fen (kuetiau goreng, tapi bentuknya kyk mi) dan Zhao Fan (nasi goreng). Hati hati, lidah kepeleset dikit, bisa keluarnya menu yang beda dari yang dipesen.

Jin Long Jai and others
Masih soal makanan, ini salah satu resto favorite kita, dan memang resto franchise yang ada di beberapa kota, Jin Long Jai. Makanannya ya, standard, Chinese food. Tapi yang bikin beda, makanannya mirip dengan makanan indo, ngga perlu takut takut untuk mesen, ngga perlu takut rasanya ngga keruan. Lagi, pelayannya baik baik dan ramah, kalau resto lain, kalau mereka ngga ngerti kita ngomong apa (maklum, orang asing), kita suka ditinggal dan ngga diladenin. Kalau disini, ngga begitu, semuanya ramah, bahkan seneng dengan kedatangan orang asing. Bahkan Jin Long Jai yang di Liuzhou, deket hotel kita, ada satu pelayan yang manis, cakep gitu deh, mirip anak Untar. Darwin bilang, kalau di Indo, dia udah jadi bini-nya laupan deh, atau paling ngga pacarnya OK hehe, disini cuma jadi pelayan restoran.

Makanan lain yang berkesan disini, yaitu Yang Yang (di Guigang), juga ada 1 resto yang masakannya mirip banget sama masakan indo (lupa namanya), itu favoritenya Pak Lino (GM di Guigang), tapi kata mereka (orang local), makanannya keasinan hehe, emang mereka demennya yang tawar tawar. Ada juga barbeque malam malam di lapangan Guigang. Lumayan lah makanannya, soalnya bosen juga kalau tiap saat makannya Chinese food. Disini memang makanan bentuknya Chinese food semua, mirip mirip semua, cara penyajian maupun rasa, juga alat makannya yang berupa mangkok nasi, mangkok sop, piring kecil dan tempat sambel lengkap dengan sumpit. Kalau mau sendok, ya harus minta sama pelayannya. Begitu juga dengan cabe, ngga akan tersedia kalau ngga diminta.

Kalau di Liuzhou, favorite kita, 1) dimsum hotel hehe, walaupun doyan, bosen juga sih, tiap pagi sih soalnya. 2) makanan pilih pilih di deket hotel. Makanannya macem macem, mulai dari dimsum (kalah enak dari hotel punya), celup celup (kuah pedes), goreng goreng (nasi, mie dll), babi-ayam-bebek panggang dan macem macem deh. 3) kuotie yang isinya sop (nahlo). Ini oke banget lho, dan unik banget. Makannya aja ada caranya yaitu, diambil pelan pelan, tarik pake sumpit, jemput pake sendok, supaya ngga sobek kulitnya kan nanti sopnya tumpah. Nah, begitu gigit, langsung di seruput tuh sopnya panas panas, kalau ngga juga bisa tumpah kan. Wah, pas diseruput itu loh yang nikmat banget… Maknyus gitu rasanya.. Mantap deh… Sopnya bisa pilih, babi, kambing, sapi atau rasa pedas. Spt dijelaskan Sheng Wei Hua (manager production – yg ngajak kita ke sana), cara bikinnya pun khusus, yaitu, sopnya dimasukkan freezer dulu. Pas kita pesen, baru dikeluarin dan dibungkus dengan kulit kuotie, trus dikukus. Mantab deh pokoke.. 4) Udah itu doang deh kayaknya hehehe, soalnya, most of time di Liuzhou, kita dinnernya makanan kantin, soalnya kita kerja sampai jam 7, jam 6 udah laper, jadi kita selalu (hampir selalu) makan di kantin siang dan malam. Ohya, tapi ada 1 malam mereka (bos bos di kantor) ajak kita makan buffet hot pot all you can eat. Cuma RMB 38 per orang, bisa makan sampai besok pagi (begitu tulis spanduknya, kita sih ngga ngerti, itu di jelasin sama Pak Sanjaya – GM, orang Indo). Makanannya mirip Little Ship di Nanning, sayur, tahu dll dengan irisan daging kambing yang amat tipis sekali. Enak, tapi bahaya bagi kesehatan he he

Kantin Guigang vs Liuzhou
Kalau di Liuzhou, kita ‘rajin’ makan di kantin, soalnya menunya masih ok lah dan cukup manusiawi. Misalnya nih, udang goreng mentega (masih berkulit sih), bakut kecap, ayam goreng gurih yang segede gaban, dan sop jagungnya itu loh, jagungnya manis banget, ngga nemuin deh di Indo yg kayak gitu.

Beda banget sama kantin Guigang (Lumberyard). Mau mati deh rasanya. Ngga selera banget. Untungnya nih, kita siap dengan sambel botol, Lao Gan Pa (beli di Liuzhou, gambarnya orang tua cowo). Kata mereka (orang orang local), ada lagi yang lebih enak, yaitu Lao Gan Ma (gambarnya orangtua cewe), tapi pas kita coba, ternyata ngga, enakan Lao Gan Pa. Malah kita berencana mau beli untuk bawa pulang, tapi niatnya harus diurungkan, karena koper udah masyaalah kepenuhan. Tapi herannya, si Dewi (yg notabene orang Indo) juga bilang Lao Gan Ma lebih enak. Makanya gue bilang “si Dewi ini bukan cewe Indo yang bisa berbahasa china, tapi cewe China yang kebetulan bisa berbahasa Indonesia”. Ini dia tampang si Darwin yang ketangkep kamera, sesaat dia liat menu-nya kantin Guigang. Selera ngga? :_)

Da Long Tan
Hari minggu pertama, kita sempetin untuk pergi tamasya, setelah Sabtunya ke Liuhou Park dan Ma An San. Masih dalam kota Liuzhou sih, sebuah taman dan danau yang letaknya agak pinggiran kota. Bersama Dewi yang kebetulan lagi main ke Liuzhou, yang semalemnya nemenin kita juga makan ro se fen. Dengan naik bus RMB 1.2 per orang, cuma sekitar 45 menit, udah nyampe persis di depan pintu gerbang taman. Dan spt Liuhou Park, Da Long Tan ini juga free of charge. Enak banget sih orang China.

Taman ini walaupun mirip dengan Liuhou Park, nuansanya beda banget. Lanscapenya yang beda, danau yang luas dengan latar belakang bukit bukit yang megah banget. Biasalah kita langsung berfoto foto ria he he. Emang bagus banget buat foto, dan memang orang local foto prewed-nya disini, kalau ngga mau jauh jauh ke Guilin. Hari itu aja kita liat ada 2 pasang calon pengantin yang lagi foto prewed. Juga ada foto model yang lagi sesi pemotretan di seberang danau sana.

Enaknya begitu. Ada perkumpulan orang orang tua bahagia yang lagi spend week end di sana. Semua berpakaian serba putih putih ala Tai Chi, ada juga yang pink pink ciong sam (kebaya ncim). Mereka ngajarin kita main nendang nendang bulu lho. Bulu warna warni yang dikasih pemberat terus di tendang tendang ke atas, jangan sampai jatuh ke tanah, makin lama makin dianggap jago. Dari kita ngga ada yang ‘keliatan’ mahir pun ngga he he. Malu deh sama a’i a’i.

Ngga jauh dari situ ada meja pemujaan, zaman dulu dipake buat acara minta hujan dan lain lain. Dari situ, naik tangga ada kelenteng. Ditengahnya ada danau kecil dengan patung kura kura ditengah, di cangkangnya ada semacam centong. Kalau bisa lempar koin dan masuk ke dalam centong itu, wishnya bisa terwujud, begitu katanya. Ya udah kita tuker uang koin sama a’i a’i yang jaga. Roy, Dewi dan gue. Cuma gue yang masuk lemparannya he he, pada lemparan pertama, tapi gue lupa make a wish :_( “Makanya masuk” celetuk si Roy.

Turun dari situ, ngeliat orang orang naik perahu nyusurin danau, jiwa anak anak kita bergejolak juga pengen ikutan nyebur. Dewi kita minta nanya nanya si penjaga perahu, ada 2 macam perahu, yang pake motor RMB 35, yang pake dayung (goes pake kaki) RMB 25. Sama sama 45 menit. Kita pilih yang RMB 25 dayung sendiri, ngirit RMB 10 he he… Ngeliat pemandangan bukit bukitnya emang jadi lebih dramatik dan terasa lebih teduh ngeliatnya dari tengah danau.

Abis puas berfoto dari pagi sampai siang, kita bersiap balik hotel, karena sudah janji late check-out jam 2. Jam 2 abis check-out janjian ketemu Karen dan adiknya (Amei) untuk makan siang bareng (di Jin Long Jai dkt hotel). Jam 4, mobil VW Passat dari Guigang (sopirnya: A Jie = sopir dan mobil yang sama yg dulu jemput kita di bandara Nanning tengah malam jam 1, Agustus lalu) datang menjemput kita untuk membawa kita ke Guigang. Ada penugasan khusus yang ngga dischedule sebelumnya, request mendadak dari bos besar mumpung kita berada di China dan hanya 4 jam dari Guigang. Kita ‘diculik’ 1 minggu untuk penugasan khusus ini.

Toko Roti Guigang
Ngomong ngomong soal Guigang, ada sesuatu di sini yang menggelikan banget. Disini kan kita nginep di hotel melati, jadi ngga ada breakfast. Untuk breakfast yang deket hotel, boleh dibilang ngga ada, ada juga resto yang ngga enak dan bukanya sore pula. Walhasil, kita harus menyiapkan breakfast sendiri, dan biasanya malam kita beli roti untuk besok pagi. Toko roti disini banyak sebenarnya, tapi rasanya ancur semua. Satu satunya yang bisa dimakan hanyalah toko roti yang di mal. Dulu, waktu penugasan Agustus, kita (Roy dan gue) sering mampir ke toko roti ini, dan ada 1 penjaganya yang ngajak gue kenalan soalnya dia bilang dia mau belajar bhs Inggris. Duh, pokoknya sampai ngasih no HP segala. Nah, kalau temen temennya ganjen sama si Roy, pokoknya heboh deh, kalau kita datang. Dari jauh aja kalau udah keliatan, langsung diteriakin kayak celebritis kampong. Jadi malu lho. Masak fans nya penjaga toko roti he he, merah deh mukanya…

Kasian juga lho dia, dia menyebut namanya Ally. Waktu bulan Agustus juga pernah ngasih no HP, trus gue coba telp karena Dewi nyuruh nyuruh. Nah pas gue telp, ada jawaban yg kira kira artinya begini, “tlp yg anda tuju tidak cukup dana untuk dihubungi”. Ternyata disana masih kayak di Indo dulu, yang kalau HP ngga ada pulsa, bukan cuma ngga bisa telp keluar, tapi juga ngga bisa diteleponin. Ya, begitulah, dia kan cuma seorang gadis penjaga toko roti. Ni, ada fotonya.

Bu Xing Jie Guigang vs Bu Xing Jie Nanning vs Fei Er Liuzhou
It’s shoping time !! To be in China is to shops !! :”) Kota sekecil Guigang pun bisa ada tempat belanja yang murah dan ok, walaupun kurang begitu nyaman dibanding Nanning. Murah, murah dan murah. Kualitas, tau dah he he he…

Di Guigang, Roy dan Darwin belanja jacket. Murah banget, cuma RMB 49. Tapi ukuran Darwin ngga ada ha ha ha, yang ukuran Darwin harganya mahalan dikit, RMB 69. Gue belanja jacket juga, tapi bukan buat gue, buat my baby :_) jaket tebel lho, ada topi pinggiran bulu yg bisa dilepas (seleting), dalemnya kayak mantel, anget banget, sale, cuma RMB 49. Disana juga beli HP (titipan Pak Masyuni, sopir AKR), cuma RMB 500, MP3, MP4, Kamera 1.3 MP, touchscreen (iya, touchscreen !!), bentuknya tipis, warna hitam dengan warna krom dipinggirannya. Looks cool, cool banget.

Di Guigang, karena kita stay 1 week end di Guigang, minggunya kita manfaatin jalan jalan ke Nanning (cuma 2 jam perjalanan bus). Dewi, Xiao Lin (Accounting Manager Mao Er – pengganti Dewi), dan kita bertiga, naik bus RMB 42 per orang (dapet minum gratis) menuju Nanning, Minggu pagi jam 10. Sampai disana jam 12, langsung makan siang deket Bu Xing Jie. Makan siangnya mantep, dan banyak, soalnya siap siap tenaga untuk belanja he he. Ohya, jadi inget, kita makan paginya juga mantep. Pangsit isi daging babi, panas panas. Di Nanning, gue beli anting dan bros pesenan my baby, sampai habis RMB 100 lebih. Sama baju sweater hangat tapi bolong bolong, harganya cuma RMB 39. Dewi juga bawa kita ke tempat jualan tas cewe yang bagus dan murah murah. Disitu gue beli 2 tas + 1 tempat koin, total cuma RMB 50. Dapet 1 tas pesta (ibu ibu – buat mama), 1 tas bunga bunga untuk jalan jalan dan 1 tempat koin RMB 4. Puas belanja, kita kembali ke bus stasion jam 6 sore. Makan malam KFC di sana, trus naik bus jam 7. Jam 9 malam nyampe kembali ke Guigang. Puas belanja kaki nyut nyut karena nyusurin Bu Xing Jie Nanning yang emang luas banget. Sampai hotel taroh barang dan mandi, gue dan Darwin keluar lagi. Ke tempat refleksi deket hotel, RMB 20 per orang. Wah, nyaman banget lho. Pertama dikasih air panas untuk rendem kaki (mungkin untuk menghilangkan bau kaki juga kali ya), sambil pijet punggung. Abis itu baru dipijet kakinya. Terakhir, rendem kaki lagi. Wuah, pokoknya enak banget, kaki langsung hilang pegel pegelnya. TOP.

Kalau di Liuzhou, tempat belanja yang murah dan ok-nya bukan di Bu Xing Jie. Bu Xing Jie yang deket hotel kita itu harganya walahualam mahal, dan banyakan branded, kita kan nyarinya yang murah dan bagus, bukan yang mahal hehe. Ada tempat namanya Fei Er, mirip Mangga Dua kalo di Indo. Letaknya deket Ma An San, jalan dikit. Di sana kita ditemenin si Cai (orang accounting), Yoyo dan Zhen Yi (orang purchasing). Disana kita borong pernak pernik olimpiade berupa gantungan kunci Fu Wa (Beibei, Jingjing, Huanhuan, Yingying dan Nini, jadi Beijing Huan Ying Ni = Beijing welcomes you). Sampai 50 biji = 10 set, untuk bagi bagi ke anak anak kantor di Jakarta. Karena beli banyak, kita dikasih cuma RMB 1.5 sebijinya. Juga beli mainan bentuk Fu Wa, yang kalo ditarik talinya, tangan dan kakinya bisa ngangkat. 1 set RMB 17.5. Ada lagi nih pernak pernik lain yang kita beli, soalnya disini selain jual pakaian, juga jual pernak pernik, kayak di Mangga Dua atau TokoTiga kalau di Indo. Boneka babi putih babi hitam RMB 15. Darwin juga beli boneka Sinchan sampai 2 set, RMB 20/set, 1 set isi 2 boneka. Gue beli sandal bulu berbentuk Garfield yang mukanya lagi memelas, lucu banget, I couldn’t resist not to buy :_P RMB 20/pair. Tas kecil bergambar Mickey Mouse Cuma RMB 4. Kita juga beli angpao untuk kondangan. Juga penahan kotor lengan yang ada karet di kedua ujungnya. Biasanya dipakai di musim dingin, untuk melindungi jaket/baju panjang dari kotor, RMB 2 per buah, gue beli 2 buah, iseng aja. Emang sini pusatnya pernak pernik, mau makanan cemilan juga ada, tapi kita ngga beli, soalnya makanan China mah ngga ada yang enak, rasanya aneh buat lidah orang Indo, enakan juga cemilan Indo sendiri.

Abis dari pusat pernak pernik, kita beralih ke pusat pakaian. Gue beli baju dalam hanget buat Nat RMB 25. Ada juga sih yg murah, yang RMB 19 juga ada, tapi kata Cai, jangan beli yg begitu, ngga bagus, ngga nempel di kulit, kalau dipakai lari lari. Juga jaket tebel yang dalamnya ada bulu bulu yang mau gue hadiahin buat bokap in case beliau ke China lagi musim dingin, atau pergi lagi ke dataran tinggi macam Huang San atau Tibet. Harganya RMB 79 doang, yang pas besokannya cerita ke Liao Jun, komentarnya singkat, “hard to believe”. Padahal katanya jaketnya itu untuk di daerah North yang jauh lebih dinginpun masih sanggup. Roy dan Darwin juga beli jaket lagi, harga RMB 59, lebih tipis. Mereka belinya sama dan dipakai bersamaan, kayak dari panti asuhan.

Malamnya kita berlima (Yoyo pulang lebih awal karena ada janji sama keluarganya), makan malam di Jin Long Jai deket Fei Er, disana, kita pesen menu yang kurang lebih sama dengan yang dipesan sebelum sebelumnya, tapi di Jin Long Jai yang ini rasanya lebih kurang enak.

Pulangnya, ditemenin jalan kaki sama Cai sampai pinggir Ma An San. Si Cai ini bisa bahasa khe lho, bahasa leluhur gue. Kadang kalau ada bahasa yang gue ngga ngerti, dia coba dengan bahasa khe, e.. malah gue ngerti, jadinya nyambung deh sama dia. Fresh graduated dan baru kerja 2 bulan di kantor tempat kita ngaudit. Gue panggil dia Xiao Mei (adik perempuan) karena sama sama orang khe.

You Yi BingGuan vs Liuzhou BinGuan vs Home Inn
Ini tentang penginapan kita di Liuzhou dan di Guigang. Walaupun sama sama namanya BinGuan, ngga berarti keduanya sama lho. BinGuan memang sekelas di bawah FanDien (Hotel), jadi bolehlah diartikan losmen.

Kalau You Yi BinGuan, tau sendiri lah ya, udah pernah gue ceritain sebelumnya (assignment August 2007). Yang ini beneran losmen. Bentuknya aja ruko, 6 lantai, masing masing lantai ada 4 kamar, 2 kamar gede, 2 kamar yang kecilan. Letaknya pun ngga strategis. 30 menit jalan kaki ke Mal satu satunya di kota Guigang. Makan pagi pun susah, makanya malamnya kita beli roti untuk persiapan sarapan pagi. Kali ini parah, dulu, gue dapet kamar lantai 2, Roy lantai 4. Kali ini, kita bertiga dapet kamar lantai 5, hehe gede deh tuh betis. Tapi walaupun kelasnya losmen, kecil, fasilitas boleh dibilang memadai. Ada air panas, TV 21”, AC dan pemanas, telepon, jasa laundry, WC bersih dengan kloset jongkok, dan ada line internet, gratis pula. Harganya pun murah, RMB 60 semalam (cuma IDR 75,000). Lau pan nya pun baik, udah kenal lah dengan kita, gimana ngga, ini udah semacam hotelnya AKR. Dulu, waktu lagi akuisisi, semua orang AKR, termasuk big bos, semuanya tinggal dan bermarkas disini. Xiao Tang, Xiao Mao dan 1 lagi (lupa namanya), selalu menyapa dipagi dan malam hari, dan siap membantu, walaupun kita dengan bahasa mandarin yang sangat terbatas. Ada 1 hal yang enak di sini, deket ke tempat pijet refleksi, refleksinya pun murah, RMB 20 selama 1.5 jam sudah termasuk rendam kaki di air panas berisi ramuan obat plus pijat punggung yang sangat melegakan otot otot, apalagi pas pulang dari belanja di Nanning.

Lain lagi Liuzhou BinGuan. Ini mah ngga layaknya losmen. Kelasnya pun bintang 3. Semacam Somerset-lah kalo di Surabaya. Lengkap dan OKEH. AC, pemanas, air panas, telepon, kloset jongkok, bath tub, meja dan kursi tamu, lengkap. Ngga ketinggalan line internet yang juga gratis. Dan kamar kita menghadap ke landscape yang paling terkenal di kota ini, Ma An San. Apalagi letaknya yg sangat strategis, deket kemana mana. Keluar aja, udah Wu Xing Jie, dengan banyak tempat makan dan jualan. Riversidepun paling Cuma 15 menit jalan kaki. Tapi ya, itu deh, ratenya cukup mahal. Kita stay kurang dari 3 minggu disana, habis RMB 13,000 an (sekitar 16 Jutaan), termasuk laundry sih, jadi 1 orang kena 5 Jutaan untuk 2 minggu lebih. Kira kira kalau dibandingkan Somerset ya dia lebih mahal. Di Somerset 2 minggu dengan laundry dan makan malam (kdg kdg) habis 4 Jutaan per orang. Tapi ya, walaupun bintang 3, yang bisa servis kita dengan bahasa Inggris, minim banget, rasanya sih cuma 1 orang yang bisa. Untung cek in cek out dibantu sopir atau Karen.

Kalau Home Inn, ini hotel kita di Guilin, nginep semalam aja. Keliatannya ini jaringan hotel, kata Karen, ada di banyak kota di China. Dia juga yang bookingin kita disini. Hotelnya kecil, di pojokan walaupun masih itungan tengah kota. Tapi dari luar juga keliatan asri dan bersih, dengan nuansa kuning. Bener, dalamnya pun apik, bersih dan oke banget. Kayak hotel hotel kelas menengah di Bandung. Ratenya sekitar RMB 160. OK kok. No complain. Nyari makan (breakfast) pun gampang. Keluar hotel langsung ketemu Guilin Mi Fen. Highly recommended.

Beli Teh
Ini juga pengalaman tersendiri. Ketika nemenin Roy nyari teh buat Ardiansyah. Jadi ceritanya begini, mertua si Ardi lagi sakit kanker, katanya, dengan minum teh hitam (black tea) bisa pulih kankernya. Jadi Ardi ngasih kita uang cukup banyak, RMB 1,000 untuk belikan teh hitam kualitas bagus, pokoknya spend aja tuh uang, habisin, kalau kurang nanti dia ganti, untuk 1 Kg teh hitam, kualitas bagus.

Begitulah, sampai sana, kita tanya tanya orang, apa sih teh hitam itu, berapa harganya, beli di mana? Masalahnya adalah, 1) ngga ada itu yang namanya teh hitam, orang sana ngga ngerti, atau jangan jangan memang beneran ngga ada. 2) ngga ada teh spesifik yang bisa nyembuhin kanker, ngga ada. Ini menurut penjelasan Sheng Wei Hua (manager produksi), teh itu ada 3 macam, teh biasa (warnanya coklat muda), teh hijau, dan teh merah (warnanya cokelat pekat), mungkin yg terakhir ini yang disebut teh hitam. Dan ngga ada teh spesifik untuk nyembuhin kanker, mungkin, menurut dia, mungkin seseorang yang senang minum teh, dia merasa puas dan senang, lalu berbagai penyakit bisa dikalahkan, mungkin, katanya sambil ketawa.

Jadi gimana dong. Roy SMS Ardi. Ternyata oh ternyata, mertua nya itu sudah meninggal. Tapi titipan tehnya tetep jadi, ngga dibatalin, mungkin keburu janji sama mendiang mertua, jadi tetep mesti dibeliin juga. Dan tetep dia minta RMB 1,000 dihabiskan, pokoknya beli yang kualitas bagus. Kalau menurut orang sana RMB 1,000 bisa beli yang sangat bagus, walaupun ada juga yang mencapai RMB 10,000 per Kg, tapi yang RMB 1,000 per Kg sudah masuk kategori kualitas terbaik.

Sampai kita pergi ke Guigang, nanya nanya, kesimpulannya masih abu abu, masih ngga begitu jelas. Sampai si Linda (penerjemah kita) memperkenalkan Yunan Puer Ca (Teh dari Yunan), yang rasanya pahit, dan warnanya coklat pekat. OK, kita sepakat, inilah yang (mungkin) disebut teh hitam. Lagipula, Ardi sudah diwanti wanti kalau ngga ada teh yang untuk kanker, tetep dia minta, beli aja teh hitam. Mungkin karena mertuanya sudah meninggal anyway. Tapi tetep belinya di Liuzhou, lebih lengkap dan ada pusat penjualan teh, daripada di Guigang yang kota kecil. Tapi paling ngga kita udah punya kesimpulan: Yunan Puer Ca.

Kembalinya kita ke Liuzhou, abis seminggu di Guigang, kita sempetin untuk mampir ke pusat penjualan teh disana, dengan minta ditunjukin sama sopir (Lao Lan). Disana ternyata lengkap semua, dan asli baru tau kalau teh itu ternyata seperti wine, yang kalau disimpan makin lama makin enak/harum dan otomatis juga makin mahal. Dan di tempat teh itu, si pemilik toko punya meja penyajian teh dimana dia bisa menjamu tamunya untuk minum berbagai macam tehnya sebelum memutuskan untuk membeli. Kita juga begitu, ditawari dan dijamu dengan macam macam teh, sampai kebelet kencing hehe. Tapi memang unik, menyajikan tehnya dengan style, cara dia meracik, menyiapkan dan membersihkan gelas, menuang dan menyajikan itu benar benar ada cara tersendiri yang bagi kita cukup memukau.

Akhirnya Roy belikan Yunan Puer Ca, buatan tahun 2006. Karena dari yang kita coba, memang itu yang paling terasa enak, terasa tehnya dan mantap. Harganya pun ngga mahal, RMB 120 per bungkus sekitar 360 g. Belinya 2 bungkus. Plus kotak ekslusif totalnya RMB 270. Jadi uangnya bukannya kurang, malah lebih banyak, cuma kepake seperempat lebih sedikit. Mudah mudahan yang nitip puas.

Tentang kejorokan orang China
Semua yang jorok tentang orang China mau gue ceritain disini. Beberapa memang sudah menjadi habitt dan ngga aneh bagi mereka. Kita membuktikannya sendiri.

1) Kuuuuaaarrrrrk Phuiiiihhhh…. Ini yang paling sering dijumpai. Ini adalah cara mereka mengeluarkan reak. Pake intro dulu, tarik dulu, persis Son Go Ku (Dragon Ball) mau melakukan Kamehameha. Ditarik dulu sampai ujung tenggorokan maka keluarlah semua. Ngga tua ngga muda, ngga di taman, di danau, di pinggir sungai, di Gunung, di taxi, di restoran (ilfil ngga?), anywhere, bahkan di toko buku. Iya loh, di toko buku !! Trus yang gue bingung, itu buangnya kemana, toko buku lho, buang ke mana??!! “ya dibuang ke isi buku, trus tutup dan tarok kembali bukunya” seloroh Darwin. Mmmmhh… he’s probably right. Suara latar kuark phuih sampai beberapa kali terekam di handycam gue, parah deh. Yang gue inget, terekam waktu lagi di Ma An San, dan lagi di Yu Long River (Guilin). Gue pernah iseng, melakukan itu di depan banyak orang di riverside, waktu orang lagi ramai dan gampang banget untuk drow attention, tapi apa yang terjadi? Ngga terjadi apa apa, ngga ada 1 orang pun yang menoleh ataupun merasa aneh. Semua berlaku spt ngga terjadi apa apa, seperti hal yang gue lakuin itu biasa, dan memang hal biasa bagi mereka. Ancurrrrr….

2) Ngencingin anak di sembarang tempat. Ini juga yang bikin dongkol. Could be anywhere. Air tergenang dijalan yang keinjek sama elo itu belum tentu air hujan, bisa jadi kencing anak kecil. Beneran! Kita saksikan dengan mata kepala sendiri, waktu makan Mi fen di deket sungai Guigang, belakang kita itu pintu rumah orang. Ibu muda yang punya rumah, sambil menggendong anaknya, dengan santainya melorotkan celana anaknya, lalu “sssssssssshhhhh…” dan mengalirlah kencing anaknya. Persis di depan rumahnya sendiri. Orang bodoh mana yang mengencingin anaknya di depan pintu rumahnya sendiri. Tapi begitulah. Ngga cuma itu, even ada tempat yang lebih layak untuk ngencingin anak ngga jauh dari situ (di deket pohon misalnya), mereka tetep ngencingin anaknya sembarangan. Di depan mal, di ubinnya mal, padahal deket situ ada pohon, kan bisa kencing di tanah deket bawah pohon, walaupun itu juga jorok, tapi daripada di ubin dan menyisakan genangan kuning. Bener bener ngga habis pikir lho gue. Pokoknya kapan dan dimanapun si anak mau kencing, langsung buka celana dan seeerrrr, dan itu ajaran orang tuanya. JOROKNYA TURUNAN. Anak anak dari kecil aja diajarin jorok, ya ngga heran kalo gedenya juga jorok.

3) Yang namanya tangga, pasti bau kencing dan kadang, malah ada ee-nya. Di tangga riverside, dari jembatan (jalan raya) menuju ke bawah. Duh baunya. Dan ini bukan di satu dua tangga, tapi di setiap tangga di setiap jembatan. Ngga di Liuzhou, ngga di Guilin. Kenapa ya? Masak kencingin tangga bisa bawa hoki?

4) WC umum ngga ada yang bersih, even di mal yang bagus sekalipun. WCnya pasti jorok, bau dan tergenang air. Itu baru WC mal, belum WC umumnya Pom bensin atau tempat umum lainnya, wah tak terlukiskan deh. Bau dan malah ada ee di mana mana. Orang sana bahkan ee ngga tutup pintu, dan ngga disiram, jadi eenya masih pluk, nempel disitu. Gue liat dengan mata kepala sendiri. Makanya kalau stop di pom bensin, gue tahan tahan sebisa mungkin untuk ngga kencing, wueleh, kalau terpaksa sekali baru gue sudi. Juga dengan WC kantor kita di Guigang, joroknya ngga ketulungan. Mereka pernah nanya ke gue, mau ngga kalau seandainya stay kerja di sana, gue bilang, “if they fixed the toilet, maybe I’ll consider” sampai segitunya, kalau toiletnya spt itu, mempertimbangkan pun ngga mau gue. Sampai sampai ya, kalau kita kebelet boker, kita tahan sampai di hotel, kalau bener bener ngga tahan lagi, pura pura ketinggalan sesuatu di hotel, minta dianter sopir balik hotel :_) Dan kalau udah di hotel sebelum pergi, pasti bela belain boker dulu biar bersih, kalau ngga, berabe dan menderita deh. Ya, satu satunya tempat yang aman untuk boker (dan kencing) ya di hotel. Even hotel melati kita di Guigang sangat bersih dan klosetnya kloset duduk. Most of kloset umum adalah jongkok. Malahan, ketika di Nanning, abis belanja dan mau pulang, sebelum naik bus berjam jam dan harus pipis di pom bensin, kita sempetin pipis bersih dulu di Nanning Hotel **** he he, idenya Dewi tuh, soalnya hotelnya deket Bu Xing Jie tempat kita belanja.

5) Pupuk dari ee manusia. Ini bukan hanya mitos atau issue. Kita menyaksikan sendiri. Kebon yang dilengkapi dengan tempat boker, yang ada parit saluran ee ke kebon mereka. No wonder, sayurnya manis manis dan gede gede seger lagi he he. Yang ini, gue sih ngga mau bayangin pas lagi makan, pokoknya makan aja, lahap aja deh, ngga usah pikirin pupuknya.

6) Kalau makan orang sini pasti pasti ngecap. Cap cap cap… Ngga ada table manner. Even yang cakep sekalipun, yang biasanya sopan, ngga nyangka deh bisa membuat loe ilfil ketika makan bersama.

7) Mulutnya bau. Mungkin karena musim dingin ya. Soalnya kita juga ngerasain, mulut tuh kering, jadi bau. Jadi, kalau mau discus dengan seseorang, kita siap permen he he, kita makan, dia juga kita tawarin, supaya mulutnya sama sama wangi.

8) Jarang mandi, kalau lagi musim dingin. Ini diakui sendiri sama mereka. Kebanyakan ngga mandi pagi, tapi tetep mandi malam. Jadi sehari sekali. Ini sih gue anggap ngga jorok jorok amat. Soalnya kan musim dingin ngga berkeringat, dan ngga bau. Gue sendiri begitu kok he he, mandinya cuma malem aja, pagi cuci muka, gosok gigi dan boker, udah.

Atoi dan Ncek Apiaw
Sebutan Atoi menjadi begitu populer diucapkan sama kita. Mulanya sih dari gue yang selalu nyebut, “uuuu… Atoi” atau “Atoi bangeeetttt”. Itu untuk nyebut orang China sini, yang cowok dan yang kerempeng dgn gaya yang sok cool, sok asyik dan sok keren. Jadinya si Darwin dan Roy juga ikut ikutan he he. Emang cowok sini tuh ya, atoi atoi semua, alias, kerempeng, sok gaul, sok gaya dan sok keren, sok cool padahal, bujubuneng dah… Ngga ada keren kerennya, malah geli liatnya…

Ada lagi yang lebih rendah kelasnya dari Atoi, yaitu, Ncek Apiaw, ini sih istilahnya Darwin. Tau Marcy Grey ngga? Nah rambutnya lagi ngetrend di kalangan Atoi. Kebayang ngga sih, badan begeng, kepala kecil, rambut segede bagong… bener bener ngga proprsional. Nah itulah yg kita sebut Ncek Apiaw. Setiap kali yang begituan lewat, gue langsung panggil Darwin, “Win, keren banget tuh orang, gila, mau dong kayak gitu” hehehe. Pusing liat kelakuan co co sini. Yang bikin geregetan tuh, ce-nya cakep cakep, sampai sampai Darwin ngumpat ngumpat tiap kali liat co ce lagi jalan, yang co Atoi abis, yg ce cakep dan manis gitu deh hehe, “Ngga rela gue, ngga rela” umpat si Darwin hahaha.

Penutup
Beginilah suka duka, lucu dan seriusnya pengalaman Three Stooges in China. Akan ada banyak lagi “aksi” kita lho he he, soalnya jadwal tahun depan, 3x ke China, 2x ke Guigang dan 1x ke Liuzhou. Next time, sebisa mungkin, mau mengunjungi lebih banyak tempat lagi yang belum sempet kali ini, spt suku Miao (deket Liuzhou), Vietnam (deket Guigang), Li Jiang River, Reed Flute Cave dan the famous Yang Shuo. Next time maybe sama My Natz, dan kalo berani lebih jauh, mau ke Beijing, Shanghai, maybe Jiu Jai Gou, Xi an, Huang San dll deh he he. Dan kalo bisa, jangan transit Guangzhou lagi deh (always that Bin Bin Plaza), sebisa mungkin transit Hongkong hehe, e, ngga ding, sekarang udah ada penerbangan langsung Jkt – Nanning (2 jam dari Guigang, 6 jam dari Liuzhou, naik mobil). Liat nanti deh he he, apa cerita berikutnya. Yang jelas, cerita kali ini, bagi gue, cukup berkesan dan gue merasa sangat beruntung bisa mengalaminya.