Tampilkan postingan dengan label sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakit. Tampilkan semua postingan

26 Agustus 2009

Salah Kaprah gue tentang ASAM URAT

Setiap kali ke dokter, apa pun penyakit gue, ujung ujungnya dokter pasti kawatir dengan tingkat asam urat gue yang terlalu tinggi (sempat mencapai 10.5, sekarang ada di kisaran 8.5). Kemaren ini gue ke dokter karena pilek dan hidung tersumbat, eh.. yang dibahas malah asam urat dan akhirnya dikasih obat asam urat juga :( Bahkan dokter kandungan Natz (waktu lagi hamil Kelly) pernah membahas asam urat gue juga, coba ! dokter kandungan aja ikut nimbrung... [-(

Saking banyaknya info, banyak hal yang gue sadari ternyata salah kaprah. Gue yakin gue bukan satu satunya yang pemahamannya salah, ini seperti MITOS. Mitos tentang asam urat yang diyakini kebenarannya oleh umum, padahal belum tentu benar. Antara lain:

Asam urat tinggi menyebabkan nyeri luar biasa pada sendi

Dokter sering bertanya: apa badan kamu ngga sakit sakit, tangan ngga kesemutan dll. Gue jawab: ngga. Dokternya bingung. Gue juga bingung, dan sempet meragukan hasil lab asam urat itu (padahal udah beberapa kali di tes, hasilnya sama).

Memang, penderita asam urat itu umumnya mengeluhkan sendi yang ngilu dan kesemutan pada jari tangan dan kaki. Namun tidak semua penderita begitu (contohnya gue). Nyeri itu disebabkan oleh menumpuknya purin yang tidak bisa dikeluarkan lewat metabolisme (lewat feses/air seni), yang kebetulan lebih sering numpuk di persendian. Dalam kasus gue, justru lebih bahaya, karena kita ngga tau dimana purin itu 'bersembunyi'. Menurut dokter Rajesh, could be anywhere, ginjal, empedu atau organ tubuh lainnya. Bahaya-nya bisa membentuk batu ginjal or batu empedu... waaaakssss :-s

Jeroan, daging kambing, kacang2an merupakan penyebab Asam Urat tinggi

Saran dokter: jangan makan kambing, jeroan dan kacang2an. Bahkan ada dokter yang langsung memvonis: "makanya jangan sering sering makan kambing sama jeroan"... :-w mau marah ngga bisa... padahal kedua jenis makanan itu bukan kesukaan gue, apalagi jeroan, hampir ngga pernah gue sentuh :( Kalo kacang harus gue akui gue doyan, tapi juga sangat gue hindari... Dalam hal ini, gue juga sempet bingung: kok asam urat gue ngga turun turun...? So...?

Memang benar, makanan seperti jeroan, daging kambing, kacang2an, cumi dan udang, melinjo adalah pemicu naiknya kadar asam urat. Namun tingginya asam urat lebih merupakan masalah pada metabolisme tubuh. Dan perlu diketahui, SEMUA makanan yang kita makan mengandung purin (zat penyebab asam urat tinggi), hanya masalah banyak/sedikitnya. Dan makanan tersebut di atas memang diketahui mengandung purin yang cukup tinggi. Dijelaskan dr. Rajesh, 2 orang yang mengkonsumsi makanan yang sama persis, belum tentu tingkat asam urat keduanya sama. Tergantung metabolisme masing2 orang. Dan hal ini, ditegaskannya: belum ada obat yang bisa menyembuhkannya di dunia medis !! :-o whoaaaa :(( gue akan asam urat seumur hidup dong... :( Nah, hal ini menyangkut mitos yang ketiga.

Konsumsi obat asam urat berarti ketergantungan

Kalau belum ada obat penyembuhnya, berarti konsumsi obat asam urat adalah ketergantungan? Mengingat harus dikonsumsi terus, kalau ngga, akan naik terus?

Itulah pemahaman gue selama ini. Gue pernah mengkonsumsi allopurinol (obat generik untuk asam urat tinggi) selama beberapa bulan. Terus gue stop karena merasa harus bisa tanpa obat. Diet asam urat, hindari jeroan dll (spt di atas) sebagai solusi. Tapi apa daya, tingkat asam urat tak kunjung turun. Berarti gue sudah ketergantungan sama obat... :(

Salah Besar !! Dr. Rajesh mengatakan, belum ada obat penyembuhnya, yang ada adalah penanggulangannya. Penyakitnya tidak sembuh, tapi penderitanya bisa ditolong. Dia analogikan dengan penderita myophia (mata minus), matanya tidak bisa disembuhkan, tapi penderitanya bisa ditolong dengan bantuan kacamata. Well, analogi ini tidak berlaku sejak ditemukannya lasik :p , tapi intinya begitu. Jadi bukan ketergantungan, tapi merupakan solusi. Sampai ditemukannya obat untuk benar benar menyembuhkan (spt lasik untuk mata rusak).

Jadi kesimpulannya?

Asam Urat tidak musti menyebabkan nyeri pada persendian dan kesemutan pada jari tangan dan kaki. Hanya saja, itu gejala yang paling gampang kelihatan. Kalau menumpuknya di ginjal/empedu/organ lain, lebih tidak bisa keliatan gejalanya, sampai parah. Harus diingat juga, nyeri pada persendian tidak melulu akibat asam urat, bisa juga hal lain, misalnya kekurangan kalsium.

Jeroan, kambing dan kacang2an benar menyebabkan asam urat tinggi, namun bukan itu root cause-nya. Masalahnya lebih kepada metabolisme tubuh masing2 orang yang berbeda dalam mengeluarkan purin yang terkandung dalam makanan. Tiap makanan yang kita santap mengandung purin, tergantung tubuh kita bisa mengeluarkan dengan baik atau tidak.

Obat penurun asam urat adalah satu satunya solusi saat ini. Ada Allopurinol untuk generiknya, yang mahal, ada Zyloric (harganya bisa > 10 kali lipat). Kalau tingkat asam urat diatas 7.5, sudah harus konsumsi obat ini. Dan itulah yang sekarang gue lakukan :)


So, thanks to dr. Rajesh (RS PIK) yang meluruskan pemahaman gue tentang penyakit 'manahun' gue ini. Now, jangan berharap asam urat turun, tapi lakukan yang harus dilakukan: hindari makanan yg mengandung purin tinggi, konsumsi obat asam urat (rutin, spt halnya memakai kacamata), dan minum air putih yang banyak (min 2.5 ltr sehari) dan sering (min tiap 1 jam sekali). Air minum untuk menggelontor purin sebanyak mungkin keluar lewat urin :)

Hal lain yang gue dapet adalah: bersepeda ke kantor (B2W) yang gue lakoni sekarang amat bagus :-! Tapi jangan berharap berat badan bisa turun (seketika). Lagi lagi pengetahuan dari dr Rajesh: lemak itu sangat ringan (buktinya mengapung dalam air), sehingga kehilangan lemak tidak serta merta kentara pada berat badan. Justru, dengan berolahraga, otot bertambah sehingga berat badan justru akan cenderung naik. Jadi yang lebih tepat untuk mengukur lemak sudah turun/belum adalah bukan dari berat badan, melainkan dari indikasi lain: badan yang lembek menjadi lebih keras (berotot) dan Lingkar Perut semakin mengecil ! :p So, gowes ke kantor harus semakin getol nih... B-)

Oh... kini ku tau.... :p :ymparty:

02 Juli 2009

Doctor, where's your heart...?

Suatu malam, di RS Herima DMB, terbaring seorang anak cowok, ABG, yang tidak bisa bergerak, cuma bisa meringis kesakitan... "sumpah Pa... sakit banget..." Papa nya dengan suara lantang memberi kekuatan anaknya itu: "berdoa Nak, berdoa ..!" Tubuhnya terlihat mengkilap, mungkin obat yang dibalurkan ke tubuhnya untuk mengurangi pengaruh air keras yang tersiram ke hampir sekujur tubuhnya.


Gue dan Natz ngga tau apa yang terjadi pada anak itu sehingga ia tersiram air keras. Malam itu kacau, sanak keluarga, dokter, suster bahkan polisi hilir mudik di ruang IGD yang sempit itu. Terjadi perdebatan antara dokter dengan keluarga, mau dirujuk kemana si pasien. Si orangtua keliatan tak berdaya secara ekonomi, sehingga ia terlihat sedikit emosi, dokter yang menangani tak kalah gusar, berkali kali ia teriak: "panggil KJ, KJ mana sih?!" (gue ngga tau KJ itu apa, tapi itulah yang ia ucapkan berkali kali, sampai suster dan staff RS ikut ikutan latah nyariin KJ).

Yang gue inget banget malam itu dan menyayat nyayat hati gue sampai hari ini adalah pernyataan dokter, sebut saja Dokter ITA (nama sebenarnya!), ke dokter lainnya yang persis di depan gue, dan gue yakin terdengar jelas oleh keluarga si pasien: "SAYA UDAH NGGA BISA URUS NIH, SAYA MAU PULANG",,,, Gue speachless beberapa menit... apakah pantas seorang dokter mengucapkan kata kata demikian...? Lebih baik copot saja predikat dokternya dan berikan ke orang lain yang lebih berhati... Dok, di mana hati mu malam itu? Ngga sadarkah bahwa tingkat kesembuhan (cacat parah/tidak), bahkan nyawa sang anak ada di tangan dia?

Kata kata itu sangat melukai hati gue, sebagai orang yang bercita cita jadi dokter, pengen nolong orang sakit, di hadapan gue ada seorang yang sudah jadi dokter, yang harusnya jadi panutan gue, menolong orang lain, mengutamakan orang sakit, dia ngga bisa urus pasien karena dia udah mau pulang....?? sampai hari ini pikiran gue masih kacau dengan perkataan itu. Kalau terjadi pada keluarga gue, mungkin sudah gue hajar tu dokter :( X(

Gue jadi teringat film yang menginspirasi gue bercita cita jadi dokter, PATCH ADAMS (walaupun akhirnya gue end-up jadi auditor :p ). Dalam film itu, menjadi dokter bahkan bukan sekedar menyembuhkan pasien, tapi mencari inspirasi bagi pasien untuk sembuh, bertahan hidup dan menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Bahkan ketika seorang pasien sudah pasti meninggal, pastikan dia bahagia menghadapinya. Sementara dokter Ita? dia mau pulang... pasien itu bukan siapa siapa, bahkan bukan apa apa di matanya [-( Dia masih jauh sekali dari sentuhan personal yang diharapkan dari seorang dokter, sebatas sentuhan klinis pun ia belum tuntas.

Patch Adams bukan cerita khayal tentang dokter ideal idaman setiap pasien. Ia nyata, ia mantan penghuni lembaga rehabilitasi (RSJ) yang akhirnya menjadi dokter, dokter yang memandang pasien bukan sekedar pasien, dan hidup bukan sekadar hidup (dan Robin Williams memainkannya dengan baik sekali!). Ia pendiri Geshundeit Institute (1971 di West Virginia) yang merawat pasien dengan hati tanpa pungutan uang sepeserpun. Dan ia tidak sendiri! Bukti bahwa masih banyak orang yang peduli tanpa pamrih dan tidak memilih menelantarkan pasien hanya karena kepingin PULANG...

Gue sudah berusaha menyampaikan hal ini melalui www.rsiahermina.com, tapi setiap kali submit, halamannya error, dan sudah gue coba mungkin > 10 kali, sampai gue menyerah. Mungkin harus ada mata kuliah "kemanusiaan" / "hati nurani" bagi para calon dokter dan refreshmen untuk dokter yang sudah praktek, sehingga pilihannya menjadi dokter bukan semata karena materi, melainkan hakikinya seorang dokter, yaitu menyembuhkan pasien, menolong umat manusia.

Apakah harus seperti film John Q (Danzel Washington) yang harus menyandera separoh penghuni RS, hanya untuk mendapatkan perhatian, agar anaknya bisa ditransplantasi jantung (dengan jantungnya sendiri!) karena uang dan asuransinya tidak mencukupi?

20 April 2009

Papa operasi Katarak

Sabtu, 18 April 2009, gue nganter Papa ke JEC untuk kontrol mata sehabis operasi katarak sekitar 2 minggu lalu. JEC Menteng bersama Mama dan James. Sempet puter puter juga karena gue sebenarnya rada keder daerah menteng (walaupun dulu sekolah deket deket sini - SMUN 68) :p

Sudah sejak ke Jakarta terakhir (Imle) yang lalu Papa mengeluhkan mata kirinya yang sudah sangat rabun malah menjurus tidak bisa melihat. Dan sejak sebulan yang lalu, meminta kita untuk carikan dokter mata apa yang bagus di Jakarta. Sampai membatalkan niatnya untuk jalan jalan Jogja - Solo - Semarang (habis denger cerita gue jalan ke Semarang, Papa bersemangat bener :D ).

Nah, dari rencana semula mau datang setelah cengbeng (sembahyang kubur) di Bangka, jadwalnya maju, karena Om (MinPak, Koko-nya Papa, juga dari Belinyu) tiba tiba sakit keras dan di opname di Jakarta. Karena suatu peristiwa, Om yang lain (KongSuk, adik Papa yang di Jakarta) meminta Papa datang, karena Kokonya itu bandel dan ngambek dan hampir kehilangan semangat untuk sembuh. Maka datanglah Papa 2 hari sebelum cengbeng, bersama istri MinPak dari Bandara langsung menuju RS Sumber Waras. Menyusul Mama pas setelah sembahyang (hari H setelah sembahyang). Gue lupa entah Senin or Selasanya Papa operasi (soalnya Khioko) yang antar.

Akhirnya operasi di JEC Menteng dengan dokter Donny (anaknya dokter mata terkenal, Istiantoro, dokternya muka arab gitu dan masih muda, mirip mirip pesintron :p ). Biaya operasi beberapa menit itu menghabiskan biaya sepuluh juta @-)

Waktu kontrol mata Papa dinyatakan bagus :bravo: dan ngga ada masalah serius. Papa mengeluhkan adanya sesuatu seperti benang yang goyang goyang di dalam matanya. Kata dokter itu agar agar di dalam mata yang belum stabil. Setiap mata kita ada agar agar (pengisi) yang, jika sudah berumur, memang agak mencair. Benang bekas operasi belum bisa dicabut, masih harus menunggu sebulan. Mustinya operasi katarak tidak membedah dan tidak perlu jahit jika belum parah. Papa dibolehkan datang lagi kapan saja, mau 2 minggu, mau sebulan, mau 3 bulan... :D Karena dokternya tau Papa dari daerah, maka dikasih keleluasaan. Resep untuk mata + baru akan dikasih pada waktu itu. Hasil tes mata Papa +2, tapi kata dokter masih bisa naik turun karena kondisi mata belum stabil.

Abis keluar ruangan dokter Papa lega banget. Sebelumnya tampak tegang sekali. Sampai minta gue yang temenin masuk karena takut tegang jadinya ngga nyimak kata kata dokter. Begitu selesai, dia ceria banget. Hanya tinggal tetes mata 3 kali sehari aja. Mata Papa masih merah sih, tapi kata dokter ngga apa apa. SEMUA BAIK BAIK SAJA...

Malamnya nengokin Om (MinPak) di rumah anaknya di Melati Mas, Serpong. APAK tampak jauh lebih sehat dari semula yang pucat banget. HB sampai tinggal 3.5 dan sempat tak sadarkan diri, setengah sadar seperti orang kurang waras. Waktu masuk RS Sumber Waras, Papa sempat protes, kenapa lu orang masukin ke RS begini? Setelah dijelaskan baru bisa terima :p

Tapi APAK masih jauh dari sembuh. Penyakitnya rada berat, ULKUS, lambung luka / robek. Setelah pengobatan ULKUS selesai, masih ada PROSTAT mengantri. Tapi melihat dari wajahnya yang sudah berwarna dan setelah 10 kantung darah (gol O) di RS Sumber Waras, kini bisa rawat jalan dan punya semangat optimis untuk sembuh.

Papa menjadi lega. Matanya OK, Kokonya pun mulai membaik kondisinya. Papa memutuskan kembali ke Bangka Rabu, 22 April 2009 ini :( Datang lagi, Kelly sudah merangkak, kata Mama :)



Malam di RS Sumber Waras pas jenguk MinPak, rasa kasihan dan sedih gue terbalut rasa syukur. Memandangi orangtua sendiri yang masih segar bugar sehat walafiat. Papa, tahun depan genap 60 tahun. Mama bahkan Feb lalu sudah merayakan tahun emas + 10. Dan sebagai keluarga yang pernah kehilangan anggotanya, kita tau benar arti bersyukur atas kesempatan dan kebersamaan ini. Makanya, waktu, pada saat mereka datang ke Jakarta, gue dedikasikan untuk mereka. Everyday is a celebration, setiap ada kesempatan, kita kumpul, makan dan ngobrol. For I know someday I will lose them, but before I kneel at their graves crying, I shall laugh with them, hug them, and show them how much I love and thankfull.

Sejak punya Kelly, gue jadi tau bagaimana perasaan orangtua terhadap anaknya. Dan betapa sakitnya hati mereka waktu gue membantah, berbohong dan lari dari mereka. Waktunya menebus sakit hati itu selagi sempat :)

26 Februari 2009

Lil' Kelly masuk Rumah Sakit

Jam 11 gue sampai di RS Hermina Daan Mogot. Mendarat di Bandara Soekarno Hatta, langsung naik taxi menuju RS. Kamar 207, terbaring lunglai Kelly kecil dengan infus terpasang. Gue memang sengaja ambil penerbangan paling pagi, Jumat, 20 Feb 2009, begitu dapat kabar dari Natz kalo Kelly diopname di RS. Ranjang RS tampak terlalu besar untuk Kelly yang baru 3 bulan.


Hari Jumat itu, bergantian antara Mama Natz, Natz, gue dan Fitri (pembantu) yang jagain Kelly sambil sesekali menggendong dia. Karena sakit, jadi lebih manja dari biasanya dan ngga mau lepas dari gendongan. Selain obat dari dokter Adi, Kelly dibantu penyembuhannya dengan inhalasi (uap) yang diberikan 3 kali sehari selama di RS.


Untungnya, hari Sabtu, dokter Adi menyatakan Kelly bisa keluar hari itu juga. Senangnya. Tapi rumah harus bersih, supaya Kelly ngga terkena lagi. Dan masih harus kontrol dokter 2 - 3 hari lagi. Termasuk setiap hari harus di-inhalasi.

Menurut diagnosa dokter, Kelly terjangkit RSV (Respiratory Sencytial Virus) yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini memang rentan untuk anak umur dibawah 6 bulan. Virus ini bisa berpindah melalui ciuman dan juga bisa menempel di meja dan terutama boneka yang ada di rumah. Nyesel juga sih sering banget ajak Kelly keluar rumah (tiap week-end). Juga AC rumah ngga pernah dicuci, boneka berserakan, juga seprei dan bed cover jarang diganti. Semua itu menambah berat penyakit Kelly.

Kronologi:

Sabtu 14 Feb 2009
Pulang dari La Piaza, mampir di ayam bakar dekat bandara. Mungkin ini penyebab paling utama. Karena tempat jualannya sangat tidak hieginis walaupun makanannya enak. Malamnya, Kelly mulai batuk kecil yang kita kira batuk biasa.

Minggu 15 Feb 2009
Masih kita kira batuk biasa, apalagi pagi itu sarapannya nasi uduk yang pedes banget, curiganya ASI Natz 'terkontaminasi' sambel pedes itu. Karena ngga curiga penyakit berat, gue tidak mengubah jadwal berangkat ke Makassar keesokan harinya.

Senin 16 Feb 2009
Kelly genap 3 bulan hari ini. Batuknya makin parah. Sehingga dibawa ke dokter Bachtiar, specialis anak. Sengaja kita tidak ke dokter Elvira (dokter yg menangani Kelly sebelumnya karena salah kasih jadwal imunisasi). Dokter Bachtiar menyalahkan susu yg selama ini dikonsumsi Kelly (Nan H.A.1) sebagai penyebab batuknya. Kita pikir benar juga, karena napas Kelly memang suka tersumbat walaupun ngga parah, kita pikir ini komulatif dari itu, lendir menyumbat pernapasannya. Akhirnya ganti susu ke Nutrilon soya, atas saran dokter Bachtiar.

Kamis 19 Feb 2009
Malam, napas Kelly tersumbat, hampir ngga bisa napas, sehingga nangis sampai ngga keluar suara. Untung Mama Natz bekas perawat, jadi bisa ngasih pertolongan pertama yaitu disedot (mouth to mouth) lendir dari mulut Kelly. Malam itu juga dibawa ke RS (IGD - karena udah malam). Infus pun dipasang. Kelly nangis sejadi jadinya pada saat dipasang infus selama 2 jam! Butuh 3 perawat untuk megangin dan pasang infusnya.


Malam itu juga masuk kamar 207 untuk dirawat intensif.
Sementara gue yang mendengar kabar itu, langsung nyari tiket pesawat untuk penerbangan paling pagi untuk Jumat.

Jumat 20 Feb 2009
Mulai penyembuhan dengan inhalasi, dengan dokter Satrio (sangat simpatik). Atas saran dokter Satrio, kita pindah dari dokter Bachtiar ke dokter Adi, yang katanya lebih enak diajak konsultasi. Dokter Satrio juga mempertanyakan kenapa menyarankan pindah susu ke soya? Hal itu membuat Kelly susah berak dan menghambat penyembuhan secara inhalasi, yang lendir (dahaknya) bisa keluar melalui berak. Susu pun kembali ke Nan H.A.1

Gue sampai RS jam 11 (langsung dari Bandara) dan mendapati Kelly tertidur lunglai. Malam itu gue, Natz dan Fitri gantian berjaga.

Sabtu 21 Feb 2009
Dokter Adi kontrol siang, dan langsung menyatakan bisa rawat jalan aja. Asal inhalasi diteruskan. Malam itu tidur di rumah Mama Natz (kamar Natz).

Minggu 22 Feb 2009
Kontrol ke dokter Adi dan inhalasi lanjutan. Setelah di cek dokter Adi, langsung minta kita untuk inhalasi 2 kali - 3 kali sehari. Dokter Satrio juga bilang kok tambah parah dari pas keluar RS? Kita mensinyalir kamar Natz yang tidak bersih, AC dan horden yang tidak pernah dicuci. Namun dokter Satrio masih menyatakan cukup sehari sekali.

Minggu sore itu yang inhalasi banyak banget. Dan anak anak yang diinhalasi hampir semuanya nangis sampai menjerit jerit. Kelly sih cukup anteng, bahkan beberapa kali sampai tertidur. Inhalasi (uap) tidak ada rasa apa apa, hanya saja, mungkin anak kecil tidak suka karena di bekap dengan alat pernapasan begitu, kesannya serem.

Senin 23 Feb 2009
Pagi pagi inhalasi lanjutan. Dokter Satrio meminta untuk mulai sehari 2 kali, biar cepet sembuh. Ditambah obat racik dari dokter Adi.

Selasa 24 Feb 2009
Keadaan Kelly makin membaik dan sudah bisa diajak bercanda. Bahkan suka manggil manggil suster/dokter kalau dicuekin. Benar benar lucu. Setiap habis inhalasi, dipijat pijat. Ada juga suster yang baik yang ngajarin cara yg baik nelungkupin bayi. Katanya harus sering sering ditelungkupin agar pernapasannya makin baik. Setiap habis ditelengkupin, suka keluar reak yang kentel, dan banyak.


Rabu 25 Feb 2009
Jauh makin baik. Rabu malam, kontrol dokter Adi, dokter bilang sudah sembuh total, obat pun tidak dilanjutkan lagi, Kelly hanya diberi vitamin yang dicampurkan ke susu 2 hari sekali. Dokter Satrio pun menyatakan inhalasi cukup satu kali lagi (Kamis pagi). Bunyi 'ngik' di saluran napas pun sudah ngga terdengar. Setiap kali kontrol dokter Satrio, diperdengarkan suara napas Kelly melalui steteskop. Awal awal saluran pernapasan bawah masih 'ngik'. Belakangan suara 'ngik' hanya terdengar di saluran pernapasan atas, sampai hilang sama sekali.

Kamis 26 Feb 2009
Inhalasi terakhir. Seringnya inhalasi, dokter, para suster dan kepala bagian fisioterapi anak sampai hafal setiap kali Kelly datang. "Kelly..." selalu dipanggil. "Kamu ndut banget...". Sampai terakhir terakhir sering 'ngobrol' sama Kelly. Lucu, Kelly juga 'nyahut' soalnya.

Lega deh, si Kecil udah sembuh total sekarang. Giliran kita nih yang remuk tulangnya he he, jagain dia terus. Senin bahkan sempet panggil mbok pijet he he. Hari ini (Kamis) langsung nyari babysitter (dari kemaren sih). Soalnya Fitri pake pulang kampung segala (minggat - alasan anaknya DBD). Babysitter namanya keren, Avril, lengkapnya Supriyati (nah lho).

Mulai sekarang rumah harus bersih, gendong Kelly harus cuci tangan, kalau perlu mandi dulu dan ganti baju. AC teratur dicuci dan boneka pun sudah disingkirkan. Kejadian ini ngga boleh terulang lagi.



Kelly masuk RS, fotonya di Kelly Gallery

18 Januari 2008

TIPUS

Tahun 2008 awal ini, gue jadi sering banget mondar mandir bolak balik ke rumah sakit. Pertengahan Mei tahun lalu, gue kena tipus dan sempet opname 2 malam di RS PIK. Total absen kantor 2 minggu lebih, ganti dokter sampai 2 kali, terakhir sama dr. Sonya yang minta opname, dan beberapa kali check lab (lupa berapa kali saking banyaknya).

Saat itu positif tipus, dokter udah confirm bahwa bener kena tipus. Dan yang namanya orang kena tipus itu, walahualam susah banget harus jaga makannya. Denger denger sih harus makan extra bersih dan ngga boleh keras, asem dan pedes selama, wuih.. 1 tahun.. Gue ngga. Begitu sembuh dan masuk kantor, gue langsung ke kebiasaan lama. Pagi mi / nasi uduk abang abang, siang kantin carefour Puri atau kantin RCTI atau tempat lain yang murah meriah, yang tau sendiri kebersihannya sudah tentu tidak terjamin. Makan pedes adalah favorite gue, semua serba pedes, kalau kurang pedes, gue ngga selera hehe, di rumah aja selalu masak dengan cabe rawit.

Belum genap setahun tipus gue sembuh, terbaringlah gue lagi, dengan penyakit yang sama :_(
Tapi kali ini gue ngga mau di opname, ngga ah, enakan juga dirumah. Parahnya lagi, minggu depan (Sabtu ini deng, 19 Jan 2008 ini), gue bersama Nat dan rombongan Papa Mama dan Mama mertua berangkat ke Malaysia, Singapore dan Phi Phi Island. Gimana dong. Ngga ada cara lain, gue harus sembuh sebelum itu. Apa yang gue lakukan? Istirahat, udah dari minggu lalu gue ngga masuk kantor, cuma masuk hari Kamis ½ hari dan Jumat. Jaga makan. Ngga ada makanan lain selain bubur dan hanya bubur. Dengan ayam rebus. Cemilannya roti marie sesuai pesenan dokter. Tiap hari gue harus ke dokter untuk disuntik entah apa. So, tiap hari bolak balik RS PIK Senen – Jumat (14 – 18 Jan 2008) untuk sebuah suntikan, soalnya gue kan ngga mau opname. Kalau gue diopname, nanti Papa Mama pikir apa, takutnya dicancel lagi the whole trip minggu depan :_(
Jadi, gue harus sembuh sebelum itu. Perkara disana harus jaga makan, ya memang harus hehe.

Yang kali ini, spt yang dijelaskan dokter, cuma gejala tipus aja kok. Terlihat dari hasil pemeriksaan lab. Parathipy ada tipe H dan O dengan varian A, B, C. Nah, yang positif di gue itu varian A tipe H. H artinya cuma ada kaki tangannya si virus di badan gue, sedangkan badannya (O), ngga ketemu. Artinya, virusnya belum sempat berkembang. Tapi gue harus waspada, karena kadar Hnya cukup tinggi (1/320). 1/320 artinya si H ditemukan sampai 4 kali sample darah gue diencerkan (1/80; 1/160; 1/240; 1/320). Kalau, A, B dan Cnya ini kata dokter cuma namanya saja, bukan mencerminkan parahan yang mana (kayak hepatitis A, B, C). Dijelaskan dokter, parathipy ini ngga terlalu bahaya, yang bahaya, ya Thipy itu sendiri alias tipus beneran.

Dan ngga cuma itu. Ternyata oh ternyata, asam urat gue juga tinggi banget, 10.4 dari batas maximal normal 8.5. Pasti kegemaran menyantap kambing dan kacang kacangan dan cemilan sebelum tidur nih. Parah. Untung gue bukan penyuka jeroan, kalau iya mungkin lebih tinggi lagi kali. Jadilah, mulai sekarang juga stop semua kacang kacangan, tempe, tahu, buncis, kacang panjang, gado gado, ketoprak, karedok, dan tentu saja, emping (hehe masih ada1/2 bungkus yang belum digoreng di lemari). Untungnya, masih ada untungnya, gue ngga kena demam berdarah yang sekarang ini sedang mewabah.

Di rumah sakit
Ini pengalaman yang memperingatkan. Sungguh bukan pemandangan yang enak dilihat. Orang tua yang napasnya udah ngga teratur, jalan dengan tongkat, bahkan sebagian besar mereka ada di kursi roda. Tapi bukan itu. Liat deh raut mukanya. I don’t see life there. Setelah puluhan tahun meniti hidup, tidak ada kehidupan di wajah mereka, tidak ada kepuasan, kebahagiaan dan keberpasrahan. Bahwa hidup gue sudah baik, ber-isi, dan gue bahagia setelah semua ini. Ngga ada. Semua raut wajah cemberut, bertekuk tekuk dan marah, dan mengatakan “gue masih mau hidup, karena gue belum puas” “gue mau berjalan lagi, karena ada tempat yang mau gue kunjungi” “gue mau bicara lantang, masih banyak yang gue belum ungkapkan” “gue mau mengangkat tangan, karena banyak yang belum gue ulurkan” “gue mau kesempatan kedua, yang mana pada saat itu berakhir, gue mau duduk di kursi roda ini dengan banyak orang, terutama orang orang yang gue sayang mengingat gue, menyapa gue dan mengatakan betapa hidup gue baik dan berkualitas, dan gue bisa pergi dengan tenang; bukan seperti sekarang, yang bahkan bagi orang orang terdekat, gue adalah beban yang ngga lama lagi terlepas dari mereka.”

Gue juga punya keinginan yang sama; dan gue, bersama Nat, masih banyak kesempatan. Kesempatan yang kita sendiri ngga mulai mulai. Ngga, gue bukan takut mati dan ngga masuk surga. Gue lebih takut, ketika hari itu tiba, gue belum pasrah dan masih menyesal. Itulah ketakutan terbesar dalam hidup gue.