Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

27 Februari 2009

AIRPORT LOUNGE

Dengan seringnya gue berlancong, baik bisnis maupun leisure, gue coba merangkum info tentang executive lounge yang pernah gue singgahi.

Last update: 5, 11 and 20 December 2008 (in blue color)

Info terbaru: GE Gold Card sudah tidak bisa digunakan secara gratis. Penggunaan GE Gold di executive lounge akan dikenakan potongan point 1,250 point (kalo ada - kalo gue sih ngga ada point sama sekali :_P)

TERMINAL 1 A JAKARTA (update: Jul 2008)
Simba Lounge
Gue pernah masuk sini sekali, compliment gara gara pesawat Lion Air yang gue tumpangi delay sejam lebih. Kecewa berat sih pas masuk. Makanan kecil yang sangat terbatas, bahkan bangkunya pun ngga nyaman. Kayaknya ini lounge khusus untuk frequent flyer-nya Lion. Ada juga kartu kredit yg bisa dipakai, tapi musti yang kerja sama dengan Lion Air, misalnya BII Lion Platinum. Untuk non Lion frequent flyer musti bayar. Siapa juga yang mau.
Ada satu lagi, Lion Air Lounge, tapi letaknya di bawah, bersebelahan dengan counter chek-in-nya Lion Air. Belum pernah kesana, tapi rasanya term and condition sama dengan Simba Lounge.

JW Lounge
Ini lounge baru, kira kira baru 1 – 2 tahun. Sangat nyaman, ada toilet di dalam dan bisa wifi pula. Makanan kecilnya pun lumayan. Ada juga nasi goreng dan soft drink sepuasnya. Hanya saja, harus sedikit bersabar dengan agent agent kartu kredit yang berkeliaran di sana. Kalau mau lolos, ya, bilang aja, “oh, tadi saya masuk pake itu kok” sambil nunjuk kartu kredit yang ditawarkan hehe.
Kartu yg diterima disini:
Mandiri Prioritas
BCA Prioritas
Telkomsel Priority
Danamon Platinum
ABN Amro Platinum
BRI Platinum
BNI Platinum dan Gold
Bukopin Gold
Niaga Platinum dan Gold
GE Gold
Panin Platinum
Kartu kredit Bank Mandiri dan Bank Mega dulunya bisa, tapi pas terakhir gue ke sana, udah ngga bisa lagi.

Ada satu lagi Lounge, gue lupa namanya, tapi ini ngga penting-lah untuk dibahas. Soalnya masuknya musti bayar, Rp 60,000 per orang, tanpa bisa menggunakan kartu kredit apa-pun sebagai complimentary.

TERMINAL 1 B JAKARTA (Update: Dec 2008)
Eljohn Executive Lounge
Lumayan sesak disini, terkadang harus berbagi meja dengan orang tak dikenal saking penuhnya. Biasanya ada menu bubur kacang ijo. Soal wifi belum tahu soalnya belum pernah coba. Ada bagian khusus untuk smoking. Kartu yang bisa, antara lain GE Gold, Mega Translution dan Bank Mandiri. Tapi untuk update-nya belum tau, soalnya udah lama ngga kesini (terakhir Oktober 2007). Yang pasti GE Gold masih bisa, baru baru ini dikonfirm Papa Mama. Ohya, kalau CS-nya GE card bilang kartu tambahan ngga bisa untuk executive lounge, cuekin aja, nyatanya, bisa kok. Udah dibuktiin Papa Mama (dua duanya kartu tanbahannya gue).

Ini update terbaru, Dec 2008 yang lalu baru sempat singgah ke sini lagi.
Kartu kredit yang bisa dipakai disini:
Bukopin Prioritas
Permata Kencana
BCA Prioritas
ABN Amro Platinum
Bank Niaga Gold dan Platinum
GE Gold (dengan point 1250)
Mega Platinum dan Translution

TERMINAL 2 F JAKARTA
Mandiri Lounge = Sunda Kelapa Lounge
Sangat luas dan plong. Soal makanan sih biasa biasa aja, biasanya ada gado gado dan sop, tapi ngga enak. Ada toilet di dalam, tapi untuk hanya untuk kencing, kalo mau e’e’ harus di luar. Agak mengecewakan sih, tau sendiri toilet umum bandara joroknya kayak apa. Apalagi gue tipe yang sebelum naik pesawat sudah harus ‘bersih’ :_P Satu hal lagi yang mengecewakan, sinyal wifinya sangat sangat lemah. Kecuali pakai IM2 hotspot yang berbayar. Bisa juga beli voucher IM2 seharga Rp 25,000 untuk pemakaian 2 jam kurang 10 menit.
Mandiri Lounge dan Sunda Kelapa Lounge, keduanya sama, hanya saja pintunya berbeda. Pintu terdekat, Mandiri Lounge untuk pemegang Kartu Kredit Mandiri dan Mandiri Prioritas. Pintu yang jauh untuk kartu kredit lainnya, yaitu:
Danamon Platinum
Bumi Putera Gold dan Platinum
BNI Gold dan Platinum
BII Platinum
Indosat Premium Card
BCA Prioritas
Niaga Gold dan Platinum
Bukopin Prioritas dan Gold
BRI Gold dan Platinum
Citibank Ultima dan Platinum, Gold kena potong 2,750 point atau bayar Rpo 50,000 (WHAT?)
Hallo Club
BSM Priority
Permata Kencana
Dulu sih GE dan Bank Mega masih bisa, tapi terakhir udah ngga bisa.

Indosat Lounge
Namanya Indosat Lounge, tapi bukan berarti pengguna Indosat (Matrix, Mentari, IM3) bebas melenggang menikmati fasilitas di dalam. Kecuali lo punya Indosat Pemium Card, atau Indosat VIP yang otomatis elo dapet kalau elo adalah pengguna pasca bayar (i.e. Matrix) dengan pemakaian minimal Rp 600,000 per bulan. Terdiri dari Smoking dan Non Smoking. Makanan yang biasanya tersaji adalah nasi goreng dan mi goreng, keduanya dengan baso. Walaupun ngga terlalu luas, disini disediakan alat pijat kaki, ada 2 yang bisa dipakai cuma cuma. Bisa wifi, tapi terbatas untuk pengguna IM2, atau beli voucher seharga Rp 25,000 yg bisa dipakai untuk akses internet selama 2 jam kurang 10 menit (why not free?? sangat mengecewakan).
Kartu yang diterima disini:
Matrix VIP = Indosat VIP
BCA Prioritas
HSBC Gold dan Platinum
Lippo Gold dan Platinum
Bukopin Prioritas dan Kartu kredit Gold
GE Gold Card
ABN Amro Platinum
Bank Niaga Gold dan Platinum
Mega Platinum dan Translution
Century Elite Priority
Bumiputera Gold

Citibank the Emerald Sky Executive Lounge
Dulu, sebagai pemegang kartu kredit Citibank Gold, gue sering masuk sini. But now, not anymore, sejak gue mem-black list Citibank. Lounge ini cukup nyaman, hanya sayangnya sangat minim kerjasama dengan bank dan penerbit kartu kredit.
Kartu yang diterima disini:
BCA Prioritas
Standard Chartered Priority Banking (bukan credit card, tapi semacam nasabah prioritas)
Century Elite Priority (nasabah prioritas)
Permata Kencana (nasabah prioritas)
Bank Jabar Banten Mitra Prioritas (nasabah prioritas)
Boarding Pass Merpati khusus tujuan Papua

TERMINAL INTERNATIONAL 2 D/E JAKARTA (Update: Mar 2008)

Mutiara Lounge
Tidy, mewah dan berkesan elegen, penataan ruangan pun lega dengan lampu temaram. Yang gue inget makanan kecilnya yang enak enak, ada tape dan otak otak, yummy… Terakhir masuk sini bisa pake Mandiri Gold/Titanium dan Mega Translution. Nanti gue update lagi apa yang bisa.Ini nih updatenya, kartu yang diterima disini:
Danamon Platinum
ABN AMRO Platinum
Standard Chartered Platinum (Gold kena Rp 25,000)
Mandiri Platinum, Titanium, Gold
BRI Gold dan Platinum
Niaga Gold dan Platinum
BNI Gold dan Platinum
HSBC Gold dan Platinum
BSM Priority
Mega First, Mega Translution
Indosat Premium Card
Bank Bukopin Gold dan Platinum
Lippobank Gold dan Platinum
Bank Bumiputera Gold dan Platinum

Batavia Lounge
Ini lounge paling kecil dari semua lounge yang ada di terminal international, bahkan dari semua lounge yang pernah gue temui. Kecil banget, letaknya aja di dalamnya took souvenir yang jualan barang barang khas Indonesia kayak ukiran dan wayang. Makanan juga terbatas hanya cemilan dan kue kue aja. Terakhir sih gue bisa masuk dengan GE Gold Card, Mandiri Gold/Titanium dan Mega Translution. Belum update terakhir. Mudah2an bisa gue update pas nanti mau ke China bulan April 2008.(Sorry ngga gue update, abis males liat ke sana – terminal D, sedangkan gue naik Shenzhen Air di terminal E)

Emerald Sky
Ini lounge khusus passenger business atau executive berbagai penerbangan, termasuk yang kecil kecil kayak Shenzhen Air dan China Southern. Juga untuk BCA Prioritas.

SURABAYA (update May 2008)
Blue Sky Lounge
Milik PT Angkasa Pura I Surabaya. Letaknya dekat Gate 8 (gate-nya Garuda). Tempatnya remang-remang, ngga terlalu besar. Makanan pun sedikit dibanding tetangganya Singosari Lounge. Bisa wifi (pake sinyalnya bandara Juanda), tapi ngga tau kenapa disini susah banget connectnya. Gue, walaupun naik Garuda, lebih suka ke Singpsari Lounge, walaupun lebih jauh (Gate 3-4), disana lebih lega, makanan lebih beragam dan wifi lebih kenceng.
Kartu yang diterima disini:
ANZ Platinum dan Black (1 person)
BNI Gold (1), Platinum (2), Emerald (2)
BRI Master Gold (1), Master Platinum (2), Britama Platinum (1)
Bukopin Prioritas (2), Visa Gold (1), Platinum (1)
Bumiputera Gold (1) dan Platinum (2)
Danamon Priviledge (1)
GE Gold, Manulife Gold, ACC Card (1 person)
Mega Platinum, Mega Trave and Entertain, Mega First (1 person)
BCA Prioritas (1)
Citibank Platinum (2) Gold (1, tapi potong 2,750 point / bayar Rp 60,000 = WHAT??)
Telkomsel Platinum Priority (1)
Indosat VIP (1)
ABN Amro Platinum / i-Travel (1)
LIPPO Platinum (2), VIP V Electron (2), Gold (1)
Mandiri Prioritas (2), Platinum (2), Gold (1), Titanium (1)
Niaga Arjuna (2), Platinum (1), Gold (1)
HSBC Platinum, Premier, Gold (1)
Permata Kencana, Platinum (2)
Standard Chartered Priority, Platinum, Gold (1)
BII Platinum (1) Infinite (2)

Singosari Lounge
Dibanding Blue Sky Lounge, yang ini enak banget, luas, lega, terang, makanan pun beragam. Yang gue suka dia banyak kue kue jajanan pasar dan ditata dengan sangat menarik.Wifi disini pun kenceng. Nebeng wifi-nya bandara Juanda. Pas connect memang dimintain username dan password, tapi untuk trial dikasih kok, kalo ngga salah username dan passwordnya: juanda. Kenceng banget disini. Pokoke disini lounge favorite gue deh.
Kartu yang bisa dipakai:
Lippo Bank Gold dan Platinum
Telkomsel Priority
Mandiri Prioritas, Platinum, Gold dan Titanium
BII Platinum
Citibank Platinum
Niaga Platinum dan Gold
HSBC Platinum
BCA Prioritas
Permata Kencana
BNI Platinum dan Gold
ABN-Amro Platinum
Danamon Platinum


ELJOHN PALEMBANG (update Feb 2008)
Bandara Palembang sangat sangat bagus. Sejak jadi Bandara Internasional, sana sini dibenahi sehingga sangat nyaman dan enak dipandang mata. Sayangnya, airport lounge baru ada 1 yaitu Eljohn executive lounge. Eljohn memang merajai pariwisata daerah, terutama daerah Sumatera. Walaupun kecil namun ngga sesak alias sepi sekali. Makanan memang ngga banyak, tapi suasana cukup nyaman. Bisa wifi, kenceng lagi.
Kartu yang bisa dipakai, antara lain GE Gold dan Mandiri Gold/Titanium.

ELJOHN PANGKAL PINANG (update: Dec 2008)
Bandar Udara satu satunya di Bangka. Suasana sangat nyaman karena amat sepi pengunjung. Sayang makanannya sangat terbatas dan kadang ngga fresh. Ada Wifi corner dengan 2 komputer yang bisa dipakai, namun sore itu wifinya lagi down (masih kampung, udah untung ada lounge). Kartu yang bisa dipakai, antara lain GE Gold (potong 1250 point), Mandiri Gold/Titanium dan Mega Translution/Platinum.

MEDAN (update August 2008)
Udah ngga bisa lounge sejak terminal keberangkatan terbakar Desember 2007 lalu. Terminal keberangkatan masih darurat.

LAMPUNG (update July 2008)



Bandara ini ngga punya executive lounge, lebih kampung dari Bangka. Dulu seinget gue ada (tahun 2006). Tapi terakhir gue pergi (Jul 2007) udah ngga ada lagi.

Update: July 2008, baru singgah ke Lampung. Sudah ada executive lounge, namanya Sanjaya lounge. Sementara belum bekerja sama dengan penerbit kartu kredit. “Sementara kita masih cash” kata si mba penjaga. Rp 35,000 sekali masuk. Ada bubur kacang ijo, mie goreng, kue, roti dan snack. Teh dan kopi dan minuman soda juga ada. Bisa wifi tapi masih dengan voucher Rp 50,000. Lupa nanya bisa untuk berapa jam.

PADANG (update July 2008)
Ada 2 Airport lounge di Bandara Internasional Minangkabau ini.

BumiMinang Executive Lounge
Punya Hotel BumiMinang Group (Hotel Ambacang), jadi kalo kebetulan nginap di Hotel Ambacang, ya, bisa menikmati fasilitas ini dengan free. Selain itu, bisa dengan membayar tunai Rp 50,000 per satu orang. Kartu Kredit yang bekerjasama sangat sedikit:
Bank Syariah Mandiri
Bank Bukopin

Anugrah Executive Lounge
Yang ini lebih lengkap dari yang atas. Kerjasama dengan Kartu kredit pun lebih banyak. Akibatnya, lebih ramai yang masuk sini, dan alhasil, makanan-nya pun rebutan dan cepat habis.
Kartu yang diterima:
Mandiri Prioritas
Mandiri Syariah Prioritas
BCA Prioritas
BNI Gold dan Platinum
BRI Gold dan Platinum
Lippo Gold dan Platinum
Danamon Gold dan Platinum
Mandiri Gold dan Titanium




JAMBI (Update December 2008)

Bandara Sultan Taha, ada 2 executive lounge - 2 2 nya ngga punya nama:

Pintu kaca dengan tembok warna Ungu. Kartu yang bisa digunakan disini hanya: BCA Prioritas, Bank Century dan Bank BRI. Yang satunya lagi bertuliskan 'EXECUTIVE LOUNGE ruang tunggu' gede banget, pintunya dari kayu. Sistemnya ngga pake kartu, tapi pake bayar 10,000 untuk tempat, makanan dan minuman belum termasuk. Ingin makan/minum harus bayar lagi sesuai pesanan. Dalamnya tidak tampak nyaman, hanya meja dengan sofa sofa besar yang tampak sudah tua.







PEKANBARU (Update Dec 2008)
Serindit Lounge
Tidak tau suasana di dalam karena tidak bisa masuk, semua kartu gue ngga lewat :_( karena bukan salah satu dari dibawah ini:
- CIMB Niaga
- Bukopin
- BRI
- BCA prioritas
- Manulife
- HSBC Premier / Platinum
- Halo Club
- XL Premium
- Century
- Alumni ITS



SEMARANG (update 5 Feb 2009)
Ada 2 executive lounge disini:
Arjuna Lounge
Gue hampir masuk :_) Soalnya punya Mega dan Stanchart, tapi Stanchart-nya ngga bawa, dan ngga tega, soalnya ada temen yang ngga masuk.
Kartu yang diterima disini:
ANZ Platinum
BNI Platinum
BRI Platinum
Lippo Bank Platinum
Mandiri Prioritas
Bukopin Gold
CIMB Niaga Platinum
Matrix VIP
Standard Chartered Platinum
Mega Translution dan Platinum
HSBC Platinum

Srikandi Lounge
Ini agak misterius, sebab kayaknya cuma kartu Mandiri yang bisa masuk (segala jenis kartu?). Ngga jelas, soalnya ngga ada yang jaga juga.

BANDARA HASANUDDIN MAKASSAR (Feb 2009)

Blue Sky Lounge
Lounge ini masih baru banget, termasuk bandara Hasanuddin-nya juga masih baru. Makanannya yahud, ada prasmanan dan kue dan roti. Tempat duduknya juga lumayan banyak. Ada internet corner, 3 tempat duduk. Belum gue jajal kenceng apa lelet karena keburu dipanggil masuk pesawat. Waktu itu gue sendirian di dalam Lounge itu :_)
Kartu kredit yang diterima a.l.:Mega translution, BII Platinum, BRI Platinum, Lippo Platinum dan Bukopin Gold dan Platinum



BANDARA SEPINGGAN BALIKPAPAN

Blue Sky Lounge
Di Sepinggan namanya juga = di Makassar, kepunyaannya Blue Sky group. Sudah agak tua, di dalamnya agak gelap, makanan juga ngga terlalu banyak.
Kartu kredit yang diterima a.l. Mega Translution, BII Platinum, Danamon Platinum, BCA Prioritas, Mandiri Prioritas, BSM Prioritas, Bukopin dan BRI.

31 Desember 2008

AJNATZ, the second year of journey, catatan penghujung tahun


Tahun kedua kehidupan AjNatz berumahtangga. Berbeda dari tahun 2007 yang kita isi dengan jalan jalan, tahun kedua ini ada petualangan yang jauh lebih seru dan, jujur, melelahkan. Maksud gue secara fisik. Namun kelelahan itu sangat kita nikmati dan syukuri :_)

Ada 2 peristiwa penting sepanjang tahun 2008 dalam kehidupan Aj dan Natz. Bukannya yang lain ngga penting, namun kedua ini yang paling utama dan ‘mengubah’ kehidupan kita.

16 November 2008

Pertama, tentu tanggal penting di atas. ‘Little precious’ atau ‘bundle of Joy’ orang menyebutnya. Kami menyebutnya ‘Kelly’. Mahluk mungil ini menyita hampir seluruh kehidupan dan perhatian kita. Seluruh kebahagiaan kita. Tidak ada hal lain lagi yang lebih penting bagi kita. Ia pelengkap keluarga kita, AJNATZ no longer stands for Aj dan Natz, tapi ada Kelly di dalamnya.


Tahun ini juga kita mengangkat 2 anak asuh dari HDI Foundation, Risma Nur Alita dan Amalia Ramadani, keduanya murid TK Tunas Bangsa, Tangerang. Tunggu sampai Kelly besar sedikit, nanti kita kunjungi mereka :_)

Keputusan Penting

Yang kedua, yaitu keputusan penting untuk berhenti dari AKR dan bergabung dengan perusahaan sekarang ini. Awal July lalu, di Lampung, dengan long distance call berkali kali, akhirnya gue decide, menumpukan keuangan keluarga, tidak lagi pada AKR, tapi (mudah mudahan) ke tawaran yang lebih baik.


Assignment trip

Tak jauh berbeda dengan 2007, tahun ini pun banyak gue isi dinas di luar Jakarta. Dari sejak di AKR, dan di perusahaan baru, nature kerjanya tidaklah berbeda jauh. Surabaya, Palembang, Lampung, Medan dan Guigang (China) bersama AKR. Semuanya berkesan, Palembang, Medan dan Surabaya gue suka makanannya, Lampung, gue menikmati suasana dusun dan petani, China, asyik aja karena menyelami kehidupan sehari hari negeri lain.

Sejak di perusahaan baru (baru 4 bulan), mengunjungi Jambi, Pekanbaru dan Bangka, serta Hongkong. Jambi dan Pekanbaru juga suatu excitement karena pertama kali, walaupun tak terlalu istimewa. Sedangkan Bangka, jangan tanya, memang tanah kelahiran gue, jadi ngga heran gue enjoy banget. Hongkong, apalagi, sekali lagi, menjalani kehidupan mereka, bekerja, hang-out, sarapan pinggir jalan, layaknya orang sana.

Gue menikmati setiap trip yang ditugaskan, gue suka traveling, suasana baru, dan, tentunya, makan :_) Hanya saja, 2009 harus lebih sedikit bepergian, harus lebih banyak waktu untuk si kecil dan mamanya :_)


Leisure time

Tahun 2008 lebih banyak diisi oleh hari hari kehamilan Natz. Tapi dasar penyuka jalan jalan, tidak ketinggalan mengisi lembaran tahun ini dengan jalan. Namun tahun ini lebih banyak jalan jalan bareng keluarga Aj dan/atau Natz.

January 2008 adalah trip yang paling mengesankan. Phuket – Phi Phi island, KL – Genting dan Singapore. Kita bahkan sempat celebrate first anniversary di sebuah resto di Patong beach. Tidak mewah sih, tapi amat sangat melekat di hati.

Maret 2008 dan Agustus 2008, dalam kondisi hamil 1 dan 5 bulan, agenda jalan jalan tetep jalan :_P Kelly dalam kandungan mama sudah mengunjungi Danau Toba, Pulau Samosir dan Berastagi; Bukittinggi, Ngarai Sianok dan Lembah Harau. Juga menikmati saksang, durian medan, nasi kapau dan es durian padang :_P


Pada saat hamil gede pun sempat ke Anyer (Mambruk) dan sempat sekali ke Bandung. Bukan AjNatz namanya kalau tidak ada jalan jalannya :_P

How many nights in Hotels

Penasaran berapa malam gue spend the nights in Hotels. Sampai dengan akhir tahun 2008, ternyata ngga lebih banyak dari 2007. Total 77 malam dibanding 2007 96 malam dan 2006 74 malam. Di perusahaan baru ini harusnya frequency-nya berkurang, dengan tempat tujuan yang lebih bervariasi :_)


New Gadget


Tahun 2008 ini kita menahan diri tidak ganti handphone. Tapi sempet 2 kali beli digital camera. 1 Olympus (April) dan sebuah Canon (September). Olympus, habis trip ke Padang, diminta Mama, yang tiba tiba jadi hobi foto. Sebagai gantinya, sebuah Canon Ixus 950 yang ganti menemani kemanapun Aj. Puas banget menikmati makro-nya yang sangat sangat fantastis. Sayang kurang tajam untuk foto panorama, kalah sama Olympus. Begitu juga dengan zoom dan image stabilizernya, menang Olympus.

Gadget lain mungkin terlalu kecil untuk disebut. Sebuah scanner Canon untuk scan foto foto jadul yang takutnya bisa ‘musnah’; dan sebuah external harddisk 100GB untuk menampung lagu (downloadan dari multiply) dan foto dari Olympus, Canon dan scanner yang bejibun. Sayang external harddisknya sekarang ngadat kena virus.

Gonta ganti Mobil


Naik Innova sejak awal 2006 lalu, September 2008, sempat menjajal Nissan X-Trail lama sampai akhir Oktober. Salah satu paket benefit dari kantor baru. Dan sejak November 2008, Honda CRV untuk 4 tahun ke depan. Mudah mudahan awet :_)

Selain Innova, X-Trail dan CRV, juga sempet bawa Honda Jazz baru dan Toyota Yaris beberapa hari. Tukeran sama Khioko dan Cece. Saking seringnya gonta ganti mobil, Pak Ubai (sopir temporary kita) jadi bingung. Mobil bapak tuh yang mana sih? he he. Ohya, belum pernah mention sebelumnya di blog ini, bahwa kita hire seorang sopir (Pak Ubai) selama Natz hamil. Sekarang pun masih sering kontak dan pake jasa dia kalo dia lagi libur di majikan baru.

Laptop baru

Penghujung tahun, sekaligus hadiah ultah dan Natal untuk Natz, , sebuah Compaq seri CQ20 layar 12”. Mendapatkan itu (dengan harga murah) ngga gampang, tak kurang dari surfing internet (glodokshop, bhinneka, babeku dll) dan telepon ke beberapa kenalan toko IT. Paling murah ada yang bisa ngasih 8.1 juta (Babeku.com). Satu hari menjelang Natal, iseng telepon toko resmi HP, ternyata mereka bisa ngasih harga 7.9 juta (promo) yang membuat pesaing lain langsung angkat tangan. Sampai Ambasador, ternyata salesgirl toko salah menyebut harga promosi yang sudah lewat. Tapi pelanggan adalah raja ternyata berlaku disini. Kompensasi khusus diberikan, USD 759 dengan kurs 10,500 (kurs saat itu 11,300). Hemat 600 ribu dari harga resmi namun hanya 130 ribu dari babeku.com. Tapi, positifnya, gue dapet dari toko resmi, tentunya lebih terjamin.

Melengkapi ‘mainan’ baru tersebut, sebuah modem 3G merk Hwawei yang dibeli dari Bhinneka.com seharga 1.1 juta (juga harga termurah yang barangnya available). Supplier IT deket rumah membandrol 980an tapi tidak bisa janji kapan bisa deliver barang. Ambasador malah hanya berani di harga 1.3 termurah 1.15 juta. Gue sengaja ngga beli paket dengan penyedia layanan 3G supaya modemnya lebih fleksibel pake layanan apa aja. Lagian beli di luar paket lebih murah dan ngga terikat kontrak (setahun) dengan, misalnya IM2, Indosat atau Flash.

Terakhir, akin lengkap dengan paket murah Telkomsel Flash, untuk internet-an di rumah, 125 ribu perbulan + PPN. Gue pilih Flash karena layanan marketingnya jauh lebih baik ketimbang IM2 apalagi Indosat, yang terakhir ini, marketingnya mangkir mentang mentang besok hari libur.

(Agak panjang dan semangat membahas Laptop baru ini karena masih gress banget) :_P

Itulah rangkuman singkat kehidupan AjNatz di 2008. Tak terlalu istimewa, seperti judul blog ini ‘an ordinary journey’. Namun dijalani dengan syukur dan mood yang baik, semua jadi terasa lebih indah dan sangat istimewa.

Kembang api pun sudah bertebaran di luar sana. Selamat Tahun Baru 2009. Chapter baru petualangan biasa AjNatz (dan Kelly).

30 Desember 2008

BANGKA, the other side that I never knew …

Benar benar ngga nyangka bisa assignment ke kampung sendiri, 3 hari pulang kampung dengan biaya kantor :_) Dan 2 hari berada di sini, baru tau, dan benar benar ngga nyangka, ternyata lokalisasi bertebaran di pulau kelahiran gue ini.


18 – 20 December 2008

Sekali lagi gue meninggalkan Natz dan Kelly, lagi lagi assignment pendek, setelah Jambi dan Pekanbaru, kini gue berkesempatan kembali ke kampung. Seperti kata Nat, gue kayak kangen orang tua saja, pasalnya Mama yang seyogyanya datang 16 Dec 2008, tiba tiba ngga jadi, malah gue yang menyambangi mereka :_)

Ada semacam perasaan haru dan kangen meliputi diri gue ketika, dari balik jendela pesawat, perlahan pulau kelahiran gue itu tampak. Indah sekali. Mungkin biasa saja buat orang lain, namun bagi gue, indah, indah sekali. Beberapa spot terlihat kerusakan bekas tambang timah yang ditinggalkan begitu saja.


Yang menyenangkan lagi, pagi itu begitu mendarat, langsung diajak makan mie khas bangka di Pangkalpinang oleh Pak Yusuf dan Pak Ujang. Siangnya, selepas meeting beberapa jam dengan Pak Yusuf, Pak Tony dan Ita, kembali menikmati nikmatnya masakan Bangka, ikan tenggiri bakar dan lempah darat (keladi) di RM Istana Laut, yang didesain berbentuk kapal laut. Dibalut dengan nuansa pantai Pasir Padi yang siang itu sedang pasang dan ombak lagi tinggi tingginya. Lengkap sudah menikmati makanan enak dan pemandangan indah yang keduanya merupakan khas Bangka.


Malamnya, gue pergi sendiri ke Y2 café deket hotel Bumi Asih, tempat gue menginap. Disini, bertebaran café café yang dikelola oleh perorangan secara kekeluargaan. Tak jarang, pemilik café sendiri yang ‘turun’ menemani tamu untuk berbincang. Tak heran, di kota kecil ini (Pangkalpinang dan kota lain di Bangka pada umumnya), semua seolah saling mengenal, dan kalau dirunut runut, bisa jadi ternyata masih ada hubungan saudara.

Hari kedua di kota ini, masih tetap mencari masakan khas Bangka, gue diajak ke ‘kantin nad’ bersama seluruh staff kantor (hanya 4 orang). NAD bukan stands for “Nangroe Aceh Darussalam” sebab tidak ada masakan Aceh di sini. Pemiliknya pun asli orang Chinese Bangka. Ikan dalam lempah kuningnya luar biasa memikat. Gulai daun singkong (ho lan su jap) pun bikin makan makin lahap. Sudah lama gue ngga menikmati masakan demikian. Lidah gue bagai dibawa nostalgia masa kecil gue :_)


Kembali kerja dan dalam suasana mati lampu (sering banget), gue menuntaskan assignment ini dengan report singkat yang didiskusikan bareng dengan Pak Yusuf. Beliau setuju, tutup assignment. Malam ini gue mau have fun :_)

Sorenya, diajak makan bakso, karena malam nanti mau makan malam agak larut (jalan jalan lihat outlet). Kembali ke hotel, gue menikmati hotspot gratis di lobby sambil ditemani coklat panas. Jam 9 malam, dijemput lagi oleh Pak Ujang, Pak Yusuf dan Pak Tony. Jalan jalan malam.

Gue cukup kaget. Ternyata Bangka penuh dengan kehidupan malam, terutama yang kelas wisma dan remang remang. Gue baru sadar betapa naif-nya gue selama ini. Gue diputerin ke kompleks Piangsut dan Parit 16 (mirip Kalijodo di Jakarta). Dari balik jendela Innova yang mengantar gue, wanita wanita malam berpakaian serba minim melambai lambai. Malam itu suepi pengunjung. Sayang, gue ngga sempet foto. Tepatnya, gue ngga berani ngambil foto, nanti disangka naksirrr :_P

Lepas dari 2 tempat esek esek kelas bawah itu, gue diajak melihat segmen pasar yang lebih tinggi dari bisnis yang sama, pub, karaoke dan ‘pijat’. Nama tempatnya ‘Millenium’. Ada hotel, diskotik, bar, bilyard, karaoke dan tempat bobo. Diinformasikan Pak Tony, dulu ada striptease, yang sekarang sudah dihentikan. Disini, lebih baik, paling tidak ‘barang’nya bisa berdandan layaknya orang daripada di lokalisasi tadi. Beberapa sempat datang ke meja kita menawari diri, mereka cukup luwes, dan tidak terlalu memaksa kalau kita memang tidak mau ditemani mereka. Rata rata mereka ini orang Jawa, Indramayu atau Cirebon, atau Lampung, tapi Lampung Jawa. Kehidupan memang tidak ramah, sampai harus ada yang bekerja di lahan ‘nista’ seperti ini. Kabarnya, mereka ini bisa langsung diajak ‘ngamar’ dengan rate 400 ribu saja.


Berikutnya, kita masuk ke suatu café yang ada live music-nya. Gue lupa nama cafenya. Yang punya namanya Pak Damas, Chinese Bangka, dan beliau sendiri yang turun mengobrol sama kita. Mostly memang omongan bisnis. Performance band-nya cukup apik, cukup interaktif dan menghibur. Dan hiburan ini ada tiap malam, bukan hanya malam malam week-end saja, walaupun sebenarnya café-nya sepi pengunjung.

Dari semua tempat yang kita singgahi malam itu, memang terlihat sangat sepi. Sejak harga timah jatuh, geliat perekonomian pulau Bangka ini langsung melambat. Pendatang dari Jawa yang mengorek rejeki lewat bisnis Timah (bekerja sebagai penambang)pun banyak yang memilih pulang. Kota langsung sepi. Dulu, waktu timah lagi jaya jayanya, jangan tanya… bisnis hiburan malampun gemerlap.

Esoknya, pagi jam 6 gue sudah bangun. Breakfast bareng Pak Ujang yang udah janjian mau nganter gue dari Pangkalpinang ke Belinyu (desa kelahiran gue). Butuh sekitar 2 jam dengan jalan yang mulus. Dulu, jaman gue masih anak anak, bisa 3 sampai 4 jam, dan perjalanan Belinyu ke Pangkalpinang adalah sesuatu yang ‘berharga’ karena dari desa ke kota, dulu, waktu gue masih kecil. Sampai parit 18, gue beli nasi tim ayam untuk Mama. Hanya untuk mengenang masa lalu, selalu mampir makan nasi tim disini. Dan Mama doyan banget, katanya sulit banget nyari yang begini, apalagi di Jakarta.


Sampai dirumah, baru pk 8.30 pagi. Papa aja sampai kaget, gue sepagi itu sudah sampai. Dan kabar gue mau balik, baru gue sampaikan hari Rabu yang lalu. Cukup mendadak, namun cukup waktu untuk membungkus semua oleh oleh pesanan gue :_) Masuk ke dalam rumah, sudah bertumpuk rapi getas dan kerupuk untuk gue bawa ke Jakarta. Dan Mama juga menyiapkan martabak bangka untuk sarapan pagi itu. Papa dan Pak Ujang sempet ngopi bareng pula. Pak Ujang ini kelahiran Toboali dan lama di Pangkalpinang, sempet di Jakarta hanya 3 tahun. Dan dia lebih tau Belinyu daripada kita orang Belinyu :_P

Masih pagi itu juga, kita minta tolong Pak Ujang antar ke kuburan Kakek Nenek dari pihak Papa. Dalam suasana Natal, alahkah baiknya berdoa sejenak disana, juga merupakan kebiasaan gue setiap pulang kampung. Mengunjungi rumah Apak (koko-nya Papa) dan mengajak Apak serta ke kuburan, berdoa bersama. Gue sempet mengamati souvenir olimpiade di rumah Apak, yang dibelikan anak anaknya dari Jakarta. Ohya, sebelumnya sempat mampir ke rumah produksi otak otak, untuk membuat pesanan, 80 otak otak untuk dibawa ke Jakarta :_P


Selepas itu, pulang ke rumah, Papa Mama segera menutup toko. Kita lanjut ke pantai. Ngga afdol dong kalo ke Belinyu ngga ke pantai. Belinyu ini gudangnya pantai indah, Mantung, Penyusuk, Remodong, pantai sungai Belinyu dan R_______. Pantai terakhir inilah yang kita kunjungi. Bukan karena paling bagus, namun karena yang ini, belum pernah gue kunjungi sebelumnya. Orang Chinese menyebutnya ‘Muk Ka Theu’ (Pohon Pepaya), mungkin karena dulu banyak tumbuh papaya disini. Sekarang hanya ada 1 – 2 batang saja.


Ombak besar menyambut disana, puluhan nelayan (Chinese) duduk menganggur di depan rumah. Puluhan juga kapal tidak melabuh, memenuhi bibir pantai. Tak lama kita disitu, hanya foto foto sejenak. Perut keroncongan, balik untuk cari makan siang.

Jatsun. Itu yang terlintas di benak gue. Mie khas Belinyu ini, dulu waktu ‘honeymoon’ dengan Nat di Bangka, sempat terlewatkan. Akhirnya kini kesampaian juga. Mie dan Selada (semacam gado gado). Nikmat banget. Sayang haram, sehingga Pak Ujang tidak bisa ikutan. Pemiliknya, Om Jatsun, masih tampak segar diusianya yang sudah 70 tahun. Ia dibantu anaknya. Tak nampak banyak perubahan pada wajah orang tua itu, tak jauh berbeda dengan ketika gue masih kanak kanak.


Balik ke rumah, gue sempet liat bunga bunga Mama yang apik. Untuk mengisi hari, selain menjaga toko pakaian yang biasanya sepi, Mama mengisinya dengan memelihara tanaman bunga. Beberapa ia bawa dari Jakarta.

Setelah oleh oleh di pak dengan rapi, gue berpamitan dengan Papa Mama, berangkat jam 12an untuk pesawat jam 5 sore. Soalnya masih mau mampir ke Goa Maria Belinyu. Sekedar berdoa dan mengambil beberapa foto disana. Orang dari jauh semua datang ke sini untuk berdoa, gue sudah disini, tak ada salahnya mampir. Tak lupa mampir untuk ambil pesanan otak otak tadi pagi.


Lanjut perjalanan kembali ke Pangkalpinang. Sekitar jam 2an sudah kembali. Dan gue minta mampir kembali ke hotel, untuk souvenir yang sudah gue taksir, namun dari pagi toko souvenir di pojok hotel Bumi Asih itu masih tutup. Ternyata masih tutup sampai sore itu. Gue tetep maksa harus bisa. Akhirnya 3 buah tempelan kulkas ‘otak otak Bangka’ berhasil gue boyong pulang :_)

Sama Pak Ujang, gue dimampirkan ke RM Fuksin, untuk mengambil babi panggang pesanan pak Yusuf. Pak Yusuf yang asli muslim ini (orang Palembang, besar di Malang, lama bertugas di Lampung), tau benar oleh oleh khas Bangka ini. Dan di tempat ini, berbeda banget sama tempat lain, gurih, harum dan tidak berlemak. Dulunya gue biasa beli di lapak depan bandara, yang ini (Fuksin) jauh lebih enak. Lain kali harus nitip sama Papa nih :_) Gue bawa ke kantor juga 1 kg untuk cicip teman teman kantor dan mereka tergila gila :_P

Ngga nyangka :_) Penugasan yang ditutup dengan manis. Pesawat Batavia pun hanya delay beberapa menit setelah bandara diguyur hujan lebat. Pulau Bangka (propinsi Bangka Belitung) sungguh kaya akan potensi pariwisata, namun terbengkalai. Ada investor hotel dan tempat hiburan berdatangan namun angkat kaki di tengah proyek berjalan. Novotel misalnya, sudah memasang tiang pancang untuk hotelnya, namun angkat kaki. Lokasi Mal besarpun sudah di kosongkan, namun pembangunan tak ada kabar. Masalah yang paling besar adalah ketersediaan listrik. Listrik di Bangka ini sangat mahal (karena pakai genset). Pemerintah belum mampu memberikan listrik yang cukup, sehingga dimatikan secara bergiliran. Tak heran, setiap rumah di Bangka pasti ada pembangkit listrik sendiri (genset). Dan tak heran pula, solar menjadi sangat langka disini.


Padahal, kalo dikembangkan, Pantai-nya (yang bertebaran), tak kalah menjualnya dari Bali. Masyarakat pun ramah, sangat welcome dengan orang asing. Peradaban budaya orang Chinese-pun menurut gue bisa dikemas sebagai daya tarik. Sebab, disini cukup terpelihara budaya chinesenya dan orang Melayu pun menghormati. Lalu, pemerintah tunggu apa lagi?

Foto foto selama di Bangka di sini

09 September 2008

PADANG – BUKITTINGGI, 30 July – 2 Aug 2008

2 August 2008
Jam Gadang - Teluk Bayur _ Pantai Air Manis (Malin Kundang) - Jemb Siti Nurbaya - Soto Garuda - Kripik Shirley - Es Durian Padang


Pagi terakhir perjalanan kita. Rasanya sayang untuk dilewatkan. Maka, di udara Bukittinggi yang sejuk, apalagi di pagi hari, gue sendirian jalan dari hotel ke Jam Gadang. Memakan waktu sekitar 20 menit, karena banyak berhenti untuk foto di sepanjang jalan. Pagi pagi di Jam Gadang belum ramai, tapi sudah ada sekumpulan ibu dan bapak paroh baya yang bersenam mengikuti seorang instruktur.


Di sekitaran Jam Gadang itu, selain terdapat Plaza Bukittinggi dan Pasar Atas, juga ada Museum Bung Hatta. Mengingat Bung Hatta memang kelahiran asli Bukittinggi.

Untuk sarapan pagi, makanan dari hotel kita minta untuk dibungkus saja. Dari obrolan dengan Pak Samsyir kemaren, ada tempat makan tradisional yang enak, namanya Pical Ayang. Pical, dalam bahasa Minang, berarti pecel. Jadi isinya sayuran, telur (optional) dan siraman kuah kacang. Makanan lainnya yang tak kalah sedap adalah kampiun, semacam bubur ketan. Dan minuman khas orang Minang, teh telur, juga ada. Teh telor tak lain adalah teh yang diberi telur mentah kocok. Rasanya aneh.

Meninggalkan kota Bukittinggi, kita kembali menuju kota Padang. Karena penerbangan kita cukup sore, sekitar jam 5. Maka, masih banyak waktu untuk kita habiskan di kota Padang. Pertama kita mampir ke Teluk Bayur yang ada lagunya yang termasyur di tahun 80an itu. Papa, Mama dan gue tak kuasa untuk tidak berdendang, “… nantikanlah aku di Teluk Bayur…”

Ternyata Teluk Bayur itu hanya sebuah pelabuhan dengan beberapa pabrik berdiri di sekitarannya. Bukan seperti Anyer yang ada tempat wisatanya. Namun, namanya juga laut, pemandangannya tak mengecewakan.


Setelah Teluk Bayur, berikutnya adalah Pantai Air Manis. Siapa yang tak pernah mendengar legenda batu menangis Malin Kundang? Nah, disinilah lokasi batu tersebut. Namun, jangan membayangkan sesuatu yang alami, disini, semuanya sudah melalui proses pemugaran. Tak ada batu yang asli. Memang terlihat sosok yang menyembah (kepada sang ibu) di atas batu karang yang mirip kapal. Namun kalau diperhatikan lebih jelas, semua itu lebih mirip semen daripada batu karang. Tidak terlihat lagi bentuk asli dari batu yang melegenda itu, aslinya sudah rusak, yang ada hanya buatan tangan manusia untuk menyelamatkan sang legenda.


Di Pantai yang berpasir coklat tersebut, sebatok air kelapa segar sangat menawar dahaga, karena cuaca siang itu, sungguh sangat terik. Namun itu tak membuat pantai ini sepi pengunjung, apalagi di Sabtu siang itu. Tampak ramai pengunjung, dengan anak anak kecil berlarian di pasirnya yang luas dan berwarna coklat, yang kebetulan airnya sedang surut itu.

Yang mengecewakan (dan bikin jengkel) adalah ketika di jalan masuk, dihadang beberapa pemuda yang memungut ‘retribusi’ Rp 15,000 untuk 1 mobil beserta penumpang, tanpa alasan yang jelas. Inilah wajah pariwisata Indonesia di tahun Visit Indonesian Year.

Lepas itu, hari sudah mulai beranjak siang, dan perut mulai beranjak lapar :_) Soto Garuda adalah pilihan kita makan siang itu. Namun sebelum sampai ke lokasi, kita sempat mengitari kota tua di Padang, yang sudah ada sejak jaman colonial, benar benar tua. Mampir juga ke sebuah kelenteng dan Jembatan Siti Nurbaya. Ini bukan tempat sang pujaan hati Datuak Maringgih melompat bunuh diri. Walaupun konon ada makamnya segala, Siti Nurbaya toh hanya sebuah novel. Ini tak lain sebuah jembatan modern, yang diberi nama sama dengan tokoh fiktif ciptaan pujangga Marah Rusli tersebut. Melintas di atas sungai yang cukup dilewati kapal ukuran sedang, dan mengarah langsung ke laut Padang.

Soto Garuda sebenarnya kurang tepat dinikmati di siang yang panas itu. Namun soto khas Padang itu tetap gurih dan nikmat. Porsinya kecil, kuahnya polos dan dagingnya agak ‘garing’. Sepertinya digoreng dulu. Rasanya cukup asin, sehingga pas dimakan dengan nasi (yang banyak). Selain soto, kita juga memesan ‘Tahu Kecap’. Ini mirip rujak/pecel, karena isinya mie, toge, kol, timun dan tahu dengan dressing kuah kacang namun dengan rasa manis yang amat sangat (karena kecap manis). Yummy banget sampai pesan satu lagi :_) Kebetulan gue kan ngga makan daging, jadi ya… tau sendiri.

Petualangan (kuliner) tidak hanya sampai di situ. Walaupun harus catch the plane jam 5, masih ada waktu untuk mampir ke tempat oleh oleh.

Di Padang, yang sangat terkenal (sampai Jakarta) adalah Keripik Christine Hakim. Namun, keripik yang tidak ada hubungannya dengan artis terkenal itu, sekarang mulai ditinggalkan, karena ada yang bilang, sudah kurang enak (keras). Atas rekomendasi sopir, dan temen Natz (asli orang Padang) yang kita hubungi lewat telepon, mereka merekomendasi Keripik Shirley, yang notabene adalah adik dari pemilik Keripik CH. Memang masih ada tempat lain yang menjual oleh oleh khas Padang, namun tampaknya, untuk wisatawan, paling direkomendasi kedua ini karena lebih lengkap dan banyak pilihan.


Gue dan Natz belanja cukup banyak untuk teman kantor dan kita sendiri. Kalau untuk saudara biarlah menjadi urusan Papa dan Mama :_P

Masih mampir ke rumah teman Natz untuk mengambil rending untuk oleh oleh di Jakarta. Semuanya 5 bungkus, masing masing isi 5 rendang dan teman tersebut tidak mau dibayar. Sungguh kemurahan hati yang tak tanggung tanggung. Rendang dia beli di RM Asia Baru, karena di RM Selamat sudah kehabisan. Namun, rendangnya sungguh tak mengecewakan, kuahnya hitam dan rendangnya sangat gurih dan empuk. Duh.. Wuenak tenan deh pokokeeee…

Masih ada waktu untuk berkuliner ria. Sore itu, kita minta dimampirkan di Es Durian Padang. Atas saran teman yang tadi, lebih enak di ‘Ganti Nan Lamo’. Maka masuklah kita ke situ. Seberangnya dari toko itu, sebuah toko yang menjajakan es yang persis sama yang diberi tajuk, ‘Iko Gantinyo’. Keduanya meng-claim adalah yang asli, yang sudah berdiri puluhan tahun. Konon, Ganti Nan Lamo yang bener bener asli. Tapi mana yang lebih enak? Entahlah, cuma nyicip satu sih. Dan yang ini benar benar dahsyat :_P


Kita pesan 2 es durian tok dan 1 es durian. Bedanya es durian adalah es campur yang diberi juice durian yang diblender halus dengan toping susu kental manis cokelat. Kalau es durian tok, sesuai namanya, hanya es parut disiram juice durian dengan toping yang sama.

Abis dari sana, sudah sore, namun perjalanan ke Bandara hanya memakan waktu 1.5 sampai 2 jam, sehingga kita minta jalannya agak santai sehingga bisa menikmati suasana kota Padang sampai puas. Tapi, mungkin untuk menghemat bensin, Pak Syamsir malah mengajak kita ke jalanan yang macet :_(

Ada satu fenomena di jalanan kota Padang. Kalau kita perhatikan angkutan umumnya, terasa sekali nuansa ‘norak’ yang berbeda beda pada tiap kendaraannya. Yang gue suka adalah Metro Mini-nya yang dihiasi gambar kartun yang lucu lucu di seluruh badan kendaraan. Ini contohnya.


Sampai di bandara Minangkabau masih sekitar jam 4. Kesan pertama melihat bandara ini (di siang hari) sungguh menakjubkan. Bersih dan tertata rapi. Mirip bandara Juanda yang baru, namun agak sedikit lebih kecil. Pas masuk ke ruang tunggu, bapak yang menjaga bertanya begini, pas liat gue megang boarding pas AirAsia tujuan Jakarta, “dapat harga berapa” “375 ribu PP” reaksi dia kira kira seperti ini, “wah paling murah…” Mungkin dia sudah tanya beberapa orang dan kita ternyata yang paling murah :_P Karena murah juga kita semena mena digosar geser dari jam 10.30 ke jam 3 sore lalu ke jam 5 petang lalu baru benar benar terbang sekitar jam 7 malam (waktu pas berangkat dari Jakarta).

Di dalam ruang tunggu, ada 2 Airport Lounge yang bisa digunakan untuk bersantai. Namun, di Bumiminang, sangat terbatas kerjasama dengan kartu kredit. Hanya di Anugrah kita bisa masuk, namun hanya bisa dua orang (dengan kartu kredit Mandiri), sehingga hanya Natz dan Mamanya yang masuk. Kita semua menunggu di luar.

Boarding AirAsia, seperti biasa, rebutan lagi, dan seperti berangkat, kita dapat tempat duduk berenam sejajar lagi.

Well, itulah akhir perjalanan di Padang yang sangat padat dan memuaskan :_) Probably menjadi jalan jalan kita terakhir paling tidak untuk satu dua tahun ke depan. Sampai baby kami cukup besar untuk diajak jalan jalan, paling jauh mungkin kita hanya jalan ke Bandung atau Puncak. Papa sempat bergumam… “yah, ngga ada lagi Natalia Tour..”. Begilah, petualangan baru yang lebih seru menunggu di kehidupan AjNatz…


PADANG & BUKITTINGGI, 30 July – 2 Aug 2008

1 August 2008
Lembah Harau - Goa Ngalau Indah - Ngarai Sianok - Goa Jepang - Ford de Kock - Jam Gadang - Durian Padang


Sarapan pagi di hotel Dymens bukan prasmanan, melainkan pilihan antara nasi goreng, mie goreng atau omelet dengan roti. Hotel Dymens merupakan hotel yang sangat tidak baru lagi. Menurut Pak Syamsir, hotel ini dulu terkenal dan 1 dari sedikit hotel di Bukittinggi. Dengan majunya pariwisata dan banyak berdiri hotel baru, hotel ini kian tergusur. Sebut saja hotel Kharisma yang persis di seberangnya. Waktu kita mau booking untuk hotel itu, ternyata sudah penuh. Bandingkan dengan hotel Dymens yang (2 hari kita tinggal disana) kosong melompong. Hotel Dymens memang pilihan terakhir kita, karena hotel lainnya sudah terisi penuh. Tidak heran, sebab Padang dan Bukittinggi adalah salah satu tujuan wisata favorite turis dari Malaysia. Tiap hari, ada direct flight dari KL langsung ke bandara Minangkabau.


Tujuan pertama hari ini adalah Lembah Harau yang terletak di Kabupaten Payahkumbuh. Perjalanan sekitar 2 jam dari Bukittinggi. Cukup lelah, tapi begitu sampai disana, dijamin, semua kepenatan hilang sudah. Dari pinggir ladang ladang padi nan hijau, di kejauhan sana, bukit bukit batu menjulang tinggi, megah.


Kita ngga tau kenapa Pak Syamsir seperti mencoba ‘mengelabui’ kita bahwa hanya ada 1 air terjun. Untung kita bincang bincang sama penjual souvenir yang menjelaskan, total ada 3 air terjun di sini. Maka, sekali lagi kita harus ‘memaksa’ Pak Syamsir untuk mengantar kita ke sana. Dan ternyata, memang benar, masih ada 2 lagi di tempat yang tak kalah indahnya. Batu batu besar yang terbelah oleh terjangan air terjun setiap hari. Airnya jernih dan bersih sekali. Perasaan nikmat sekali berada di sana.


Yang unik disana, ada penginapan yang diberi nama Lembah Echo, yang dibangun oleh wisatawan Belanda, berupa rumah rumah terpisah yang bisa disewa. Dari sana, pemandangan memang sangat indah dan sejuk. Namun, untuk nginap disana, rasanya tidak recommended, soalnya, jauh dari mana mana, dan nyamuknya itu lho, ampunnnn.

Belum puas disana, sudah harus lanjut lagi, ke Goa Ngalau Indah. Sebelumnya mampir untuk makan siang nasi padang di Sari Rasa di kota Payahkumbuh. Tempatnya sih cukup nyaman dan sejuk karena ada saung saung begitu. Tapi makanannya payah, ngga ada yang bener, rasanya. Rendangnya keras, babatnya bau, dan makanannya pun rata rata dalam keadaan dingin.

Sampai di lokasi goa Ngalau, kembali terulang. Hanya diberi 2 tiket masuk untuk 6 orang @ Rp 3,000. Waktu diprotes, ibu penjual tiket malah marah marah, dan dengan gusar merobek beberapa karcis lagi ke gue. Total yang dia berikan 7 tiket. Rasain lu rugi Rp 3,000 he he he.


Goa Ngalau merupakan goa stalagtit dan stalagmit. Setelah menaiki beberapa anak tangga yang cukup tinggi, di depan goa sudah menunggu seorang tukang foto yang berperan seperti guide. Karena di dalam goa sangat gelap, maka ia memberi semacam kode untuk menyalakan lampu ke temannya. Namun, begitu masuk ke dalam, ngga lama lampunya mati. Terpaksa deh keluarin lampu HP Sony Ericsson yang terang banget.

Di dalam goa naik turun tangga buatan itu, ramai dengan suara kelelawar dan juga agak berbau. Di dalam goa ini, ada satu bagian bebatuan stalagtit yang mengeluarkan kilauan kilauan cahaya seperti permata. Mungkin terbentuk dari aliran air yang membawa mineral tertentu, sehingga menimbulkan efek berkilau. Di sudut yang lain, ada batu yang menyerupai wajah seorang ibu yang meratap, judulnya ‘batu ibu menangis’. Saingannya batu menangis Malin Kundang nih, hanya saja, ini ibunya yang menangis. Lucunya, pas kita lagi disana, tiba tiba dari balik kegelapan, muncul sosok berbaju putih dan kerudung putih. Di belakangnya, ikut seorang pria. Ternyata keduanya, yang masih berpakaian seragam SMU itu, ‘entah sedang ngapain’ di balik batu ibu meratap itu. Pantas saja ibu-nya meratap… sedih dengan kelakuan anak muda jaman sekarang.


Setelah selesai, kita menunggu si ‘guide’ kita itu mencetak foto yang tadi dia cepret. Kita sekeluarga di stalagtit yang berkilauan tadi, satu lagi yang didepan mulut goa. 2 foto dihargai Rp 40,000 sudah termasuk biaya guide :_)

Selesai dari sana, kembalilah kita ke Bukittinggi, untuk tujuan berikutnya. Dan ini yang sudah ditunggu tunggu, Ngarai Sianok! Ngarai Sianok letaknya di sekitaran Bukittinggi, di seberang hotel Grand Malindo, yang pengen kita booking juga, tapi penuh. Ngarai Sianok merupakan lembah menjulang beberapa puluh meter ke bawah, dengan parit parit kecil mengalir di bawah sana. Pemandangan yang membuat napas tertahan -> breathtaking view !


Yang unik dari Ngarai Sianok adalah sebuah goa yang digali oleh tentara Jepang, sebagai basis pertahanan, gudang amunisi sampai tempat penyiksaan tawanan. Ada tour yang di’guide’ oleh pemuda pemuda lokal. Goa Jepang itu masuk ke bawah dengan menuruni 88 anak tangga, di dalamnya cukup panjang dan berkelok kelok. Udara-nya pun adem, karena banyak ventilasi ventilasi yang mengarah ke ngarai sianok. Di masa mendatang, kabarnya, akan dibangun mal bawah tanah disini. Mengingat luasnya (panjangnya) goa ini, sejuk, dan kuat-nya konstruksinya, memang ide yang masuk akal. Renovasipun, kabarnya, dari dibiayai pemerintah Jepang, yang kabarnya lagi, untuk menutup jejak dari sejarah yang kelam waktu penjajahan Jepang di Indonesia. Untuk biaya guidenya cukup masuk akal, minimal dia minta bayaran Rp 20,000 saja, kita kasih Rp 30,000.

Saat masuk ke Goa Jepang, Natz ngga ikutan masuk dan duduk di taman disana, bersama ibu ibu pelancong dari Malaysia. Dari bincang bincang dengan mereka, ternyata ibu ibu itu sering datang ke Indonesia tepatnya ke Pusat Grosir Tanah Abang, berbelanja untuk jual lagi di negeri-nya. Dan mereka beberapa kali juga berkunjung ke Padang untuk refreshing. Ternyata baju murah di Malaysia (di Chinatown, misalnya) datangnya dari Indonesia juga. Persis yang diyakini Papa waktu berkunjung ke sana, January lalu.

Tiba tiba bubar, gara gara monyet monyet liar datang berebut kacang, waktu Natz lagi ngemil kacang. Memang disana banyak monyet liar yang tak segan merebut makanan pengunjung. “Awak jangan kaget kaget, awak kan lagi mengandung” pesan seorang ibu Melayu.


Disana juga dijajakan lukisan lukisan rumah adat minang dan jam gadang, dalam berbagai ukuran. Gue beli lukisan dalam piring yang hanya Rp 5,000. Selain itu juga banyak kaos dan sandal. Dipastikan, kaosnya tidak ada yang muat buat gue :_(

Ngarai Sianok memang luar biasa. Hari pun beranjak sore. Dan tujuan berikutnya adalah Benteng Ford de Kock yang satu lokasi dgn Taman Satwa.

Ternyata Benteng itu sangat tidak mirip benteng. Hanya bangunan 2 tingkat yang cukup kecil, dengan meriam di sekelilingnya. Diceritakan bahwa Benteng ini merupakan titik pertahanan terakhir pasukan Belanda yang dipimpin Gubernur Jendral Henrick Markus de Kock terhadap serangan dari pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1825. Disini juga menjadi satu dengan kandang kandang burung yang rata rata isinya cuma 1 – 2 burung yang tidak begitu menarik untuk dilihat.

Dari sana, berjalan kaki melewati jembatan Limpapen, masih di Taman Satwa, terdapat 2 ekor gajah, beberapa ekor tapir, unta dan juga rusa. Akhir perjalanan adalah tembus ke Pasar Atas, pusat belanja souvenir di kota Bukittinggi. Tak jauh dari situ, kira kira 5 menit berjalan, ketemulah Jam Gadang. Di Pasar Atas ini, kita beli sebuah CD lagu khas Minang untuk diputar di mobil.

Seperti malam sebelumnya, Jam Gadang tetap ramai, apalagi hari itu hari Jumat dan masih sore. Waktu bingung mau makan apa malam itu, gue iseng nanya ke pengamen yang kebetulan nyamperin kita. “Makanan yang paling enak di Bukittinggi apa?” dijawab cepat dan lantang, sambil menunjuk ke arah Plaza Bukittinggi yang tepat di seberang Jam Gadang, “KFC !!” lho lho lho lho… Maksudnya makanan khas Padang. Baru deh mereka menyebut RM Selamat, yang juga tak jauh dari situ.


Namun, di RM Selamat, yang belakangan kita tau rendangnya sangat khas, ternyata sudah kehabisan. Memang, laku banget, dan pesanan untuk bawa pulang (ke Jakarta, misalnya), harus dipesan paling tidak sehari sebelumnya. Maka, malam itu, kita makan di RM Simpang Raya, yang juga masih di sekitaran Jam Gadang.

Setelah kembali ke Hotel dan menyegarkan diri, malamnya, karena ini malam terakhir di Bukittinggi (dan malam terakhir perjalanan kita), tentu tak mau melewatkan untuk mencicip durian padang. Dan kios lapak berjualan durian sangat mudah ditemui di sekitaran hotel. Di salah satu lapak itu, setelah tawar menawar, akhirnya kita beli hanya 2 karena ternyata peminatnya sedikit, pada takut makan duren dan hanya nyicip. Ya, tidak terlalu istimewa, tapi yang namanya duren, ya pasti enak lah ya… :_P