Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

05 Agustus 2008

Mimpi sebagai ORANGTUA IDEAL


Papa Keni (yang juga Papa angkat gue) mengingatkan gue pada Papa gue sendiri beberapa tahun yang lalu. Tidak masuk akal (irrational), tidak mendukung (unsupportive) dan tak terbantahkan (unarguable). Hanya saja, ketika kita tumbuh dewasa, Papa juga tumbuh bersama sebagai teman. Semua perbuatannya yang dulu irrational, unsupportive dan unarguable menjadi rasional sekali. Semua karena beliau ingin membentuk kita seperti sekarang ini. Setelah beliau melihat hasil nyata dari ‘pendidikan’nya, beliau bisa sit back and relax dan menjadi ‘teman’ yang baik. And I’m very proud and love him for that. Dia adalah panutan gue, walaupun belasan tahun lalu gue pernah berkaul tidak mau menjadi seperti dia. BTW, Papa ultah sebentar lagi (tanggal 8 August, umur 58).



Gue melihat banyak orangtua yang kebablasan mendidik anak dengan keras sampai anaknya sudah besar dan mandiri. Kalau anak sudah jadi orang yang benar dan bertanggung jawab, buat apa orang tua masih harus jaim dan menjaga jarak dengan anaknya? Gue bahkan kepingin tanpa jarak dengan anak, not just after they’d growth up, kalau bisa gue mau jadi teman dan sahabat mereka, along the way. Inilah mimpi gue sebagai orang tua ideal :_)

18 Januari 2008

TIPUS

Tahun 2008 awal ini, gue jadi sering banget mondar mandir bolak balik ke rumah sakit. Pertengahan Mei tahun lalu, gue kena tipus dan sempet opname 2 malam di RS PIK. Total absen kantor 2 minggu lebih, ganti dokter sampai 2 kali, terakhir sama dr. Sonya yang minta opname, dan beberapa kali check lab (lupa berapa kali saking banyaknya).

Saat itu positif tipus, dokter udah confirm bahwa bener kena tipus. Dan yang namanya orang kena tipus itu, walahualam susah banget harus jaga makannya. Denger denger sih harus makan extra bersih dan ngga boleh keras, asem dan pedes selama, wuih.. 1 tahun.. Gue ngga. Begitu sembuh dan masuk kantor, gue langsung ke kebiasaan lama. Pagi mi / nasi uduk abang abang, siang kantin carefour Puri atau kantin RCTI atau tempat lain yang murah meriah, yang tau sendiri kebersihannya sudah tentu tidak terjamin. Makan pedes adalah favorite gue, semua serba pedes, kalau kurang pedes, gue ngga selera hehe, di rumah aja selalu masak dengan cabe rawit.

Belum genap setahun tipus gue sembuh, terbaringlah gue lagi, dengan penyakit yang sama :_(
Tapi kali ini gue ngga mau di opname, ngga ah, enakan juga dirumah. Parahnya lagi, minggu depan (Sabtu ini deng, 19 Jan 2008 ini), gue bersama Nat dan rombongan Papa Mama dan Mama mertua berangkat ke Malaysia, Singapore dan Phi Phi Island. Gimana dong. Ngga ada cara lain, gue harus sembuh sebelum itu. Apa yang gue lakukan? Istirahat, udah dari minggu lalu gue ngga masuk kantor, cuma masuk hari Kamis ½ hari dan Jumat. Jaga makan. Ngga ada makanan lain selain bubur dan hanya bubur. Dengan ayam rebus. Cemilannya roti marie sesuai pesenan dokter. Tiap hari gue harus ke dokter untuk disuntik entah apa. So, tiap hari bolak balik RS PIK Senen – Jumat (14 – 18 Jan 2008) untuk sebuah suntikan, soalnya gue kan ngga mau opname. Kalau gue diopname, nanti Papa Mama pikir apa, takutnya dicancel lagi the whole trip minggu depan :_(
Jadi, gue harus sembuh sebelum itu. Perkara disana harus jaga makan, ya memang harus hehe.

Yang kali ini, spt yang dijelaskan dokter, cuma gejala tipus aja kok. Terlihat dari hasil pemeriksaan lab. Parathipy ada tipe H dan O dengan varian A, B, C. Nah, yang positif di gue itu varian A tipe H. H artinya cuma ada kaki tangannya si virus di badan gue, sedangkan badannya (O), ngga ketemu. Artinya, virusnya belum sempat berkembang. Tapi gue harus waspada, karena kadar Hnya cukup tinggi (1/320). 1/320 artinya si H ditemukan sampai 4 kali sample darah gue diencerkan (1/80; 1/160; 1/240; 1/320). Kalau, A, B dan Cnya ini kata dokter cuma namanya saja, bukan mencerminkan parahan yang mana (kayak hepatitis A, B, C). Dijelaskan dokter, parathipy ini ngga terlalu bahaya, yang bahaya, ya Thipy itu sendiri alias tipus beneran.

Dan ngga cuma itu. Ternyata oh ternyata, asam urat gue juga tinggi banget, 10.4 dari batas maximal normal 8.5. Pasti kegemaran menyantap kambing dan kacang kacangan dan cemilan sebelum tidur nih. Parah. Untung gue bukan penyuka jeroan, kalau iya mungkin lebih tinggi lagi kali. Jadilah, mulai sekarang juga stop semua kacang kacangan, tempe, tahu, buncis, kacang panjang, gado gado, ketoprak, karedok, dan tentu saja, emping (hehe masih ada1/2 bungkus yang belum digoreng di lemari). Untungnya, masih ada untungnya, gue ngga kena demam berdarah yang sekarang ini sedang mewabah.

Di rumah sakit
Ini pengalaman yang memperingatkan. Sungguh bukan pemandangan yang enak dilihat. Orang tua yang napasnya udah ngga teratur, jalan dengan tongkat, bahkan sebagian besar mereka ada di kursi roda. Tapi bukan itu. Liat deh raut mukanya. I don’t see life there. Setelah puluhan tahun meniti hidup, tidak ada kehidupan di wajah mereka, tidak ada kepuasan, kebahagiaan dan keberpasrahan. Bahwa hidup gue sudah baik, ber-isi, dan gue bahagia setelah semua ini. Ngga ada. Semua raut wajah cemberut, bertekuk tekuk dan marah, dan mengatakan “gue masih mau hidup, karena gue belum puas” “gue mau berjalan lagi, karena ada tempat yang mau gue kunjungi” “gue mau bicara lantang, masih banyak yang gue belum ungkapkan” “gue mau mengangkat tangan, karena banyak yang belum gue ulurkan” “gue mau kesempatan kedua, yang mana pada saat itu berakhir, gue mau duduk di kursi roda ini dengan banyak orang, terutama orang orang yang gue sayang mengingat gue, menyapa gue dan mengatakan betapa hidup gue baik dan berkualitas, dan gue bisa pergi dengan tenang; bukan seperti sekarang, yang bahkan bagi orang orang terdekat, gue adalah beban yang ngga lama lagi terlepas dari mereka.”

Gue juga punya keinginan yang sama; dan gue, bersama Nat, masih banyak kesempatan. Kesempatan yang kita sendiri ngga mulai mulai. Ngga, gue bukan takut mati dan ngga masuk surga. Gue lebih takut, ketika hari itu tiba, gue belum pasrah dan masih menyesal. Itulah ketakutan terbesar dalam hidup gue.

05 Desember 2007

What if God was one of us

Click above title for Song related to this blog

“Jika kamu melakukannya pada salah satu saudaraku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk aku”

What if God was one of us. Lagu ini gue denger dari salah satu koleksi lagu di HP gue, dalam perjalanan naik Bus antar kota dari Guigang ke Nanning. Got me thinking. Kalau di kaitkan dengan ayat tersebut di atas, nyambung banget… Tuhan memang ada di antara kita, bersama sama dengan kita.

Gue teringat sama kakek penjual korek kuping yang ramah dan sama sekali ngga maksa kita untuk beli. Dialah Tuhan. Yang dalam lagu ini, digambarkan, hidup kesepian.

Lagu ini juga membuat gue berpikir, betapa gue dulu orang yang baik, ramah dan ngga pernah marah. Batapa gue memperlakukan orang dengan baik, semua orang, dan gue selalu menawarkan kebaikan apakah itu menguntungkan apa ngga buat gue, apakah orang yang gue bantu baik apa ngga sama gue. Gue melihat banyak ‘Tuhan’ dalam hidup gue. KOK sekarang gue jadi orang yang rada sombong, arogan, dan mulai nyebelin ya? Dan gue mulai tidak memperhatikan ‘Tuhan-Tuhan’ yang tersedia buat gue untuk gue bantu. Even yang terdekat.

Nat pernah bilang, dia pengen liat gue yang dulu, yang sabar, penyayang, ngga pernah marah dan baik sama semua orang. That is the man I wanted to be, the man that I used to be, before I’m getting to be worst. I want to treat every body ‘GOD’.

Joan Osborne dalam penggalan lagunya 'If God have a face, what would it be'. I would say, it would be just like si kakek penjual korek kuping.

31 Oktober 2007

Membereskan Lemari

Sabtu yang lalu, gue dan Natz menyempatkan diri membereskan lemari barang yang sumpek berantakan. Berawal dari buku buku lama tapi sayang untuk dibuang, yang kita ambil dari rumah Papa Mama Natz yang mau dijual, di Citra 5. Awalnya kita mau beli rak buku baru dan menaruhnya di gudang. Tiba tiba muncul ide, ‘kenapa ngga rapiin lemari aja?’. Bekas lemari baju gue dulu waktu numpang di rumah Khioko, sekarang kita taroh di kamar ‘anak’ dan diisi dengan apa aja yang bisa diisi, buku, stationary, tas, perlengkapan mandi, majalah, komik, buku foto dan apa saja. Dan penempatan, kalau lebih teratur, masih bisa untuk memuat buku buku lama yang barusan kita bawa pulang, mungkin kalau pinter nyusunnya, bisa muat juga majalah majalah yang dibuang sayang yang ada di kamar ‘deddy’ dan di ruang tamu. Ternyata semuanya muat dan kita susun dengan amazingly rapi ! Tapi bukan itu yang mau gue ceritain.

Ternyata sebuah lemari bisa berisi begitu banyak. Maksud gue begitu banyak memori, bukan hanya secara fisik muat banyak. Kita butuh 2 hari sampai lemari itu rapi, banyak sekali yang kita buang, dan banyak sekali yang kita isi. Dan yang lama adalah, melihat, membaca baca dan mengingat ngingat setiap kali membuka sesuatu. Ada memori tentang Deddy di sana, 1 dus berisi semua peninggalan Deddy, yang membuat gue merenung. Buku buku catatan kuliah gue dulu, tempat gue dan Kodok ‘berperang’ melawan rasa bosan dengan sang dosen. Foto foto jadul, foto masa kecil, SMA, tempat kos, sampai foto cewek yang gue incer jaman SMP dulu.

Ada sesuatu yang touching malam itu. Natz menemukan catatan lama mengenai pengeluaran harian gue. Ternyata disitu bukan cuma catatan mengenai uang pengeluaran, ternyata gue selipin juga dengan perasaan hati gue di footnotenya. Tentang kebahagiaan atau kesedihan gue. Di sana ada gambar senyum berbinar binar dengan tulisan spt “hari ini jemput DD di CL” atau “mampir ke rumah DD, ngobrol di teras” atau “first kiss di depan pizza hut”. Sesaat membuat pikiran kita menerawang, kemudian saling berpelukan. Natz sampai meneteskan air mata haru mengingat hari hari itu. Kebahagaiaan kita ternyata tidak berawal sejak belakangan ini saja, ia sudah bermula sejak lama… sejak kita belum pacaran, sejak kita baru mulai mengenal satu sama lain, masih jaim satu sama lain, masih culun dan lugu satu dengan yang lain. Betapa cinta bersemi pelan pelan di dalam diri kami berdua, sampai pada hari ini. Kita masih sepasang kekasih yang bercinta layaknya orang pacaran. Semoga hari ini, hari mendatang, seperti hari hari yang telah lalu, penuh dengan gambar itu, gambar senyum yang berbinar.

29 Oktober 2007

Kita sering mempertontonkan sesuatu yang ngga pantas bagi mereka yang secara ekonomi lebih kurang beruntung dibanding kita dan parahnya, kita ngga pernah menyadarinya. Kejadiannya sederhana. Kita makan malam berlima dan salah satunya membayari. Ketika kita mau mengembalikan uangnya, sang pembayar menolak. Mati matian menolak, sampai terjadi sodor menyodor beberapa lembar uang 50 ribuan. Dan itu dilakukan (dengan sambil guyon) dari di mobil sampai nyampe ke tempat tujuan yg kira kira 20 menit perjalanan. Ngga sampe disitu, di tempat parkiran pun masih begitu. Dan parahnya, itu semua disaksikan oleh sopir yang mengantar kita, sebut saja namanya Pak Warsito. Kebetulan, dari situ, tinggal gue doang penumpang terakhir yang diantar ke tempat gue menginap. Di situlah gue tau dan malu, gue bagian dari ketidakpantasan itu. Dengan nada sedikit marah dan jengkel Pak Warsito kira kira bilang begini, “Masalah makanan saja diributkan benar, sedangkan uang kontakan ndak direken”. I don’t really understand what’s that means, mungkin bahasa Jawa, mungkin bahasa orang kecil spt Pak Warsito, mungkin juga gue salah denger dan kemudian salah mengutip. But, you know my point. Pak Warsito bukan orang yang kasar, sama sekali bukan. Ia orang yang sopan, ramah dan sabar, jujur pula dalam pekerjaannya, namun ia marah, jengkel dan merasa sangat ngga nyaman dengan perlakuan kita meributkan uang kecil bagi kita sedangkan sangat besar bagi dia.

Malam itu, di mobil dengan pak War, gue diem banget, malu. Ngga seperti gue biasanya, yang senang mengajak ngobrol sopir. Sampai di depan lobby hotel ketika berpamitan, Pak War masih menjawab “ya, mari” dengan lembut, seolah tadi dia ngga pernah marah.

Sampai di kamar hotel, gue masih agak agak termenung, ada banyak lagi hal hal di atas yang pasti sering terjadi dan kita ngga sadari. Kalau malam ini gue bukan penumpang terakhir, mungkin gue juga sampai sekarang tidak menyadari dan ngga menganggap sudah membuat marah seseorang. Dalam konteks ini, bukan hanya seseorang, tapi orang orang spt Pak War pada umumnya. Yang dalam hidupnya hidup benar, jujur, bekerja keras dan berusaha, namun sekeras apa pun mereka, mereka tidak bisa sampai ke level kita. Mungkin dunia ini memang tidak adil buat mereka. Gue jadi teringat, puisi Blackpia yang gue tulis waktu masih SMA dulu. Tentang seorang penjual siomay yang merasa dirinya setara dengan kita padahal tidak. Ia jauh dari level kita, anak anak SMA yang bermobil, bermotor, atau naik bus atau bemo sekalipun namun punya playstation di rumah dan tiap pulang sekolah bisa nge-band dengan uang orang tua kita.

Begitulah dunia ini memang ngga ada yang adil. Spt barusan gue denger seorang operator terminal tanki mengeluh tentang gas elpiji yang mau naik lagi. Di saat saat spt ini, bahkan sejak gue masih SMA, 10 tahun yang lalu, mereka pasti sangat kebingungan, dan sangat merasa ketidakadilan, juga ketidalberdayaan. Spt Pak War, yang hanya bisa marah sesaat, namun tersadar sesaat kemudian, kembali menjadi orang yang sopan, ramah, jujur, bekerja keras dan pasrah.