27 Februari 2011

One Breakfast and A Lunch in Medan

Just a short (too short actually…!!) visit to Medan. Arrived with a very first flight at 8 in the morning… disambut matahari hangat dan cuaca yang cerah, tawaran bihun bebek buat breakfast pun tak kuasa gue tolak… Padahal udah breakfast di pesawat :p

Bihun bebek… ah.. pembuka “gerilya kuliner” yang pas banget... mengingat bihun bebek ini memang makanan khas pecinan Medan, ”memang banyak bihun bebek di Jakarta atau tempat lain, tapi ngga sama dengan yang ada di Medan, baik rasa maupun kelejatannya” diterangkan oleh temen sekantor di Medan yang menemani pagi itu.

Diantar lah kami ke daerah Kesawan. Kesawan Square, on my last visit, masih merupakan “lokalisasi kuliner” yang amat sangat kesohor… Sekarang, sudah “dimatikan” dan digantikan oleh Merdeka Walk, yang menurut gue sangat tidak otentik, tidak ”Medan”. Beda dengan Kesawan Square yang traditional, agak sedikit jorok, dan lebih alami. Apalagi ada unsur budaya dan sejarahnya, misalnya dengan keberadaan rumah ”Tjong A Fie”, salah satu sesepuh pendiri kota Medan, yang rumahnya berusia ratusan tahun namun tetep terawat baik.

Kembali ke bihun bebek :p Merupakan makanan khas Medan yang sebenarnya sederhana: bihun rebus, dengan potongan bebek dan taburan daun bawang. As simple as that. Tapi aroma nya... wuihhh... wangi banget... Kami makan di salah satu ruko yang penataan meja nya sangat sederhana menjurus sembrawut. Tempatnya ramai, banyak orang di sana ngga hanya makan bihun bebek, mereka juga ”ciak kopi” sambil ngobrol, atau sendirian membaca koran.

Potongan bebeknya cukup besar dan dermawan... Sayangnya, agak ”cacah” dagingnya... mungkin terserap habis ke kuahnya waktu direbus. Konsekwensi logisnya: aroma kuahnya menjadi luar biasa... kaldu bebek yang amat kental, wangi, dan gurih :_) Bila suka, bisa taburkan bawang putih goreng ke dalam kuah, menjadikannya makin mantap karena ada garing-garing di setiap seduhan kuah kaldunya... (ngenceeesss dah...)

Mumpung di sana, cobalah minuman sari barley yang dikemas dalam botol Frestea. Biji barley adalah salah satu jenis kacang kacangan yang salah satu kegunaannya adalah dipakai dalam proses pembuatan bir. Orang Korea gemar membuat berbagai masakan dari biji barley ini, dalam bentuk kuah-kuahan dan juga ada pie dari biji barley. Nah, di Medan, mungkin bawaan kolonial Belanda pada jaman dulu, secara home industry, banyak rumah2 di Medan yang memproduksi minuman sari barley ini. Rasanya segar, agak sedikit mirip susu kedelai tapi lebih mild dan ada aroma segarnya. Penampakannya juga hampir sama dengan susu kedelai, hanya saja lebih bening.

Lanjut ke cerita Lunch :_) Sebenarnya ini bukan cerita baru. Sebelum kunjungan yang ini, gue sudah 2 kali makan di resto ini, menjadikan ini yang ketiga kalinya. Tapi apakah gue bosan?? Not AT ALL !!

ONDO, Grill Batak yang berlokasi di Jalan Pabrik Tenun. Pertama di-perkenalkan oleh teman2 waktu masih di kantor lama. Sejak itu, kalau ke Medan selalu terngiang ngiang, termasuk visit tahun 2008 sama keluarga, juga sempat mampir kemari.

Masakan khas Batak ada di sini semua. Saksang, Arsik, Babi Panggang, pulos pulos, riki riki, rusuk goreng, you name it! Minumannya juga khas Medan, macam terong belanda dan markisa.

Among all, yang wajib tentunya saksang. Mungkin ngga semua orang tertarik mencoba setelah mendengar ini (atau malah tertarik banget?): Saksang adalah masakan babi dengan kuah yang diolah dari darah babi. Tertarik? Buat gue Yes. Orang Bangka biasa makan darah babi yang dikeraskan dan di rebus kemudian di campur di dalam bubur. Bubur darah babi merupakan salah satu favorite gue waktu masih ingusan di Kampung :_)

Walaupun terdengar agak ngeri (karena bawa bawa darah), rasanya sangat enak, gurih. A must kalo lagi ada di Medan.

Yang unik lagi dan sangat khas Medan adalah Pulos Pulos dan Daun Ubi Tumbuk. 2 Jenis sayuran ini sangat khas Medan. Yang pertama adalah tumis bunga pepaya, sama dengan yang biasa dijumpai di masakan Manado. Rasanya agak pahit, namun segar. Yang kedua (daun ubi tumbuk) adalah daun ubi ditumbuk halus dan di masak santan. Mirip dengan yang biasa ditemukan di rumah makan Bangka (salad Bangka - ho lan su jap) yang juga daun singkong masak santan, hanya saja ini ditumbuk halus. Segar, ini juga must try!

Yang tidak begitu khas Medan, tapi yang wajib juga adalah goreng-gorengan babi. Babi goreng maupun rusuk goreng, 2-2nya wajib. Enak, garing banget. Memang bisa ditemui di RM Medan manapun di Muara Karang, tapi tak ada salahnya disini juga dipesan karena ya itu enak... :_)

Untuk minum, pesan lah yang khas Medan: Terong Belanda dan Markisa. Bisa juga campur2, misalnya Sirsak dan Terong Belanda (mereka menyebutnya juice Medeka karena warna putih (sirsak) di bawah dan terong belanda (merah) di atas. Mau yang segar? Ada juice Timun (simply timun dan air gula) atau juice Sawi Nanas, segar, sehat :_)

Walaupun Grill Batak, surprisingly owner-nya bukan orang Batak (bahkan bukan orang Indonesia!). Dia kelahiran Korea yang mempersunting wanita Medan peranakan China. Dia dan istrinya yang berkreasi di dapur dengan menu menu baru (biasanya kalo ada menu baru, di beri sample gratis, seperti sayur ondo hari itu yang diberi gratis – tapi kurang enak). Dia sendiri juga yang duduk di belakang kasir, menyapa pelanggan pelanggan yang puas dan membagi bagi permen karet :_)

Ngomong2 soal Korea. Setelah selesai bersantap, keluar hidangan teh yang special hanya ada di tempat ini. Berupa herbal beraroma pedas seperti jahe. Rasanya aneh. Kalo gue sih mending gue ngga minum, soalnya merusak semua rasa enak yang sudah dimakan sebelumnya. Beneran, No Kidding.

Pulangnya, jangan lupa oleh oleh dari Medan. Yang gue catat sebagai A must ada 3, terutama buat first timer ke Medan ya: Bolu Meranti, Bika Ambon dan Teri Medan. Namun karena keterbatasan waktu, gue cuma sempat membawa Bika Ambon.

Nah, bika ambon juga ngga sembarang bika ambon. Sengaja gue ngga sebut merk waktu gue minta diantarkan ke toko bika ambon. Ternyata keluarnya ”ATI” sama dengan recommed temen2 sebelumnya dan juga preference gue sendiri. Di sebuah gang yang (hampir) semuanya adalah produsen dan penjual bika Ambon, toko ATI ada di paling ujung. Seloyang harganya 50K. Legit, gurih dan enak ! :_)

Mengejar flight 6.20 di sore hari, ngga sempat lagi gerilya kuliner malam. Namun One Breakfast and A Lunch + bika ambon cukuplah me-represent kuliner Medan hari itu :_)

4 komentar:

Veny mengatakan...

kalo crt kuliner medan emang ga ada habis nya pool abis ya ? hee
g sekalipun lom perna ke Medan , uda terlalu bny di dlm otak g ini/itu yg enak .

kalo mknan di Lappo g ga tertarik meski blng babi garingnya enak tp g yakin Bapang Bangka lbh topp bener ga ? heheee

apalagi dgr saksang pk darah biba serem haha
btw g krg suka BIka ambon Medan menurut g jkt pny lbh enak . Medan pny ada khas nya , emang beda sih
Kalo Bolu Meranti g juga ga doyan terlalu biasa heheee
g pgn cobain Risoles GOGO tuh yg di rekomen Leo (makanmana)

once_alifetime mengatakan...

Kuraaaang, 7 hari 7 malam pun gua bilang masih kurang waktunya. Btw ada satu lagi yang lagi in yakni pancake durian:)

Ian mengatakan...

Ke Medan?
Kalau suka durian,
jangan lupa beli duren de...

Ama pedagangnya sudah dipack dalam kotak makanan, trus diselotip, lalu ditaburin bubuk kopi...

Dijamin nggak bau dan aman untuk dibawa pake pesawat!:D

btw durennya ada dua macam, yg manis atau agak pait.
Gue pribadi si, lebih suka yg rada pait.

Aj_Natz mengatakan...

@Veny: yoi bapang bangka yang paling top ya Ven... he he he... Kudu musti nyoba saksang Ven... kuahnya gurih2 gitu lho ada bulir2 darahnya :P
@Elisa: bener banget tuh, 7 hari 7 malam deh kalo bisa keliling Samosir juga he he he
@Ian: duren medan memang terkenal banget, sayang gue di sana singkat banget, kalo ngga, paling enak makan duren malam2 di emperan dekat hotel westin :)