Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan

27 Februari 2011

One Breakfast and A Lunch in Medan

Just a short (too short actually…!!) visit to Medan. Arrived with a very first flight at 8 in the morning… disambut matahari hangat dan cuaca yang cerah, tawaran bihun bebek buat breakfast pun tak kuasa gue tolak… Padahal udah breakfast di pesawat :p

Bihun bebek… ah.. pembuka “gerilya kuliner” yang pas banget... mengingat bihun bebek ini memang makanan khas pecinan Medan, ”memang banyak bihun bebek di Jakarta atau tempat lain, tapi ngga sama dengan yang ada di Medan, baik rasa maupun kelejatannya” diterangkan oleh temen sekantor di Medan yang menemani pagi itu.

Diantar lah kami ke daerah Kesawan. Kesawan Square, on my last visit, masih merupakan “lokalisasi kuliner” yang amat sangat kesohor… Sekarang, sudah “dimatikan” dan digantikan oleh Merdeka Walk, yang menurut gue sangat tidak otentik, tidak ”Medan”. Beda dengan Kesawan Square yang traditional, agak sedikit jorok, dan lebih alami. Apalagi ada unsur budaya dan sejarahnya, misalnya dengan keberadaan rumah ”Tjong A Fie”, salah satu sesepuh pendiri kota Medan, yang rumahnya berusia ratusan tahun namun tetep terawat baik.

Kembali ke bihun bebek :p Merupakan makanan khas Medan yang sebenarnya sederhana: bihun rebus, dengan potongan bebek dan taburan daun bawang. As simple as that. Tapi aroma nya... wuihhh... wangi banget... Kami makan di salah satu ruko yang penataan meja nya sangat sederhana menjurus sembrawut. Tempatnya ramai, banyak orang di sana ngga hanya makan bihun bebek, mereka juga ”ciak kopi” sambil ngobrol, atau sendirian membaca koran.

Potongan bebeknya cukup besar dan dermawan... Sayangnya, agak ”cacah” dagingnya... mungkin terserap habis ke kuahnya waktu direbus. Konsekwensi logisnya: aroma kuahnya menjadi luar biasa... kaldu bebek yang amat kental, wangi, dan gurih :_) Bila suka, bisa taburkan bawang putih goreng ke dalam kuah, menjadikannya makin mantap karena ada garing-garing di setiap seduhan kuah kaldunya... (ngenceeesss dah...)

Mumpung di sana, cobalah minuman sari barley yang dikemas dalam botol Frestea. Biji barley adalah salah satu jenis kacang kacangan yang salah satu kegunaannya adalah dipakai dalam proses pembuatan bir. Orang Korea gemar membuat berbagai masakan dari biji barley ini, dalam bentuk kuah-kuahan dan juga ada pie dari biji barley. Nah, di Medan, mungkin bawaan kolonial Belanda pada jaman dulu, secara home industry, banyak rumah2 di Medan yang memproduksi minuman sari barley ini. Rasanya segar, agak sedikit mirip susu kedelai tapi lebih mild dan ada aroma segarnya. Penampakannya juga hampir sama dengan susu kedelai, hanya saja lebih bening.

Lanjut ke cerita Lunch :_) Sebenarnya ini bukan cerita baru. Sebelum kunjungan yang ini, gue sudah 2 kali makan di resto ini, menjadikan ini yang ketiga kalinya. Tapi apakah gue bosan?? Not AT ALL !!

ONDO, Grill Batak yang berlokasi di Jalan Pabrik Tenun. Pertama di-perkenalkan oleh teman2 waktu masih di kantor lama. Sejak itu, kalau ke Medan selalu terngiang ngiang, termasuk visit tahun 2008 sama keluarga, juga sempat mampir kemari.

Masakan khas Batak ada di sini semua. Saksang, Arsik, Babi Panggang, pulos pulos, riki riki, rusuk goreng, you name it! Minumannya juga khas Medan, macam terong belanda dan markisa.

Among all, yang wajib tentunya saksang. Mungkin ngga semua orang tertarik mencoba setelah mendengar ini (atau malah tertarik banget?): Saksang adalah masakan babi dengan kuah yang diolah dari darah babi. Tertarik? Buat gue Yes. Orang Bangka biasa makan darah babi yang dikeraskan dan di rebus kemudian di campur di dalam bubur. Bubur darah babi merupakan salah satu favorite gue waktu masih ingusan di Kampung :_)

Walaupun terdengar agak ngeri (karena bawa bawa darah), rasanya sangat enak, gurih. A must kalo lagi ada di Medan.

Yang unik lagi dan sangat khas Medan adalah Pulos Pulos dan Daun Ubi Tumbuk. 2 Jenis sayuran ini sangat khas Medan. Yang pertama adalah tumis bunga pepaya, sama dengan yang biasa dijumpai di masakan Manado. Rasanya agak pahit, namun segar. Yang kedua (daun ubi tumbuk) adalah daun ubi ditumbuk halus dan di masak santan. Mirip dengan yang biasa ditemukan di rumah makan Bangka (salad Bangka - ho lan su jap) yang juga daun singkong masak santan, hanya saja ini ditumbuk halus. Segar, ini juga must try!

Yang tidak begitu khas Medan, tapi yang wajib juga adalah goreng-gorengan babi. Babi goreng maupun rusuk goreng, 2-2nya wajib. Enak, garing banget. Memang bisa ditemui di RM Medan manapun di Muara Karang, tapi tak ada salahnya disini juga dipesan karena ya itu enak... :_)

Untuk minum, pesan lah yang khas Medan: Terong Belanda dan Markisa. Bisa juga campur2, misalnya Sirsak dan Terong Belanda (mereka menyebutnya juice Medeka karena warna putih (sirsak) di bawah dan terong belanda (merah) di atas. Mau yang segar? Ada juice Timun (simply timun dan air gula) atau juice Sawi Nanas, segar, sehat :_)

Walaupun Grill Batak, surprisingly owner-nya bukan orang Batak (bahkan bukan orang Indonesia!). Dia kelahiran Korea yang mempersunting wanita Medan peranakan China. Dia dan istrinya yang berkreasi di dapur dengan menu menu baru (biasanya kalo ada menu baru, di beri sample gratis, seperti sayur ondo hari itu yang diberi gratis – tapi kurang enak). Dia sendiri juga yang duduk di belakang kasir, menyapa pelanggan pelanggan yang puas dan membagi bagi permen karet :_)

Ngomong2 soal Korea. Setelah selesai bersantap, keluar hidangan teh yang special hanya ada di tempat ini. Berupa herbal beraroma pedas seperti jahe. Rasanya aneh. Kalo gue sih mending gue ngga minum, soalnya merusak semua rasa enak yang sudah dimakan sebelumnya. Beneran, No Kidding.

Pulangnya, jangan lupa oleh oleh dari Medan. Yang gue catat sebagai A must ada 3, terutama buat first timer ke Medan ya: Bolu Meranti, Bika Ambon dan Teri Medan. Namun karena keterbatasan waktu, gue cuma sempat membawa Bika Ambon.

Nah, bika ambon juga ngga sembarang bika ambon. Sengaja gue ngga sebut merk waktu gue minta diantarkan ke toko bika ambon. Ternyata keluarnya ”ATI” sama dengan recommed temen2 sebelumnya dan juga preference gue sendiri. Di sebuah gang yang (hampir) semuanya adalah produsen dan penjual bika Ambon, toko ATI ada di paling ujung. Seloyang harganya 50K. Legit, gurih dan enak ! :_)

Mengejar flight 6.20 di sore hari, ngga sempat lagi gerilya kuliner malam. Namun One Breakfast and A Lunch + bika ambon cukuplah me-represent kuliner Medan hari itu :_)

23 Agustus 2008

My Last Assignment, Medan – about the CULINARY

Kota Medan memang tak lengkap kalau belum bicara soal makanan. Kota yang berpenghuni mayoritas suku Batak dan Chinese Hokian ini memang gemar makan. Sehingga tak heran, resto dan tempat makan enak bertebaran seantero kota Medan.

Day 1
Begitu pesawat mendarat dan dijemput, kita langsung dibawa makan siang lebih awal di sebuah tempat makan pinggir pantai (Belawan). Resto-nya ngga pakai nama, tapi cukup ramai, kebanyakan orang Pemda dan pegawai instansi pemerintah yang makan disini. Harganya premium, namun menurut gue tidak terlalu istimewa. Ikan Kerapu dan Bawal bakar + kangkung cah udang dan jus untuk bertiga = Rp 250K. Suasananya memang nyaman dan menarik karena persis di bibir pantai. Ditemani angin sepoi sepoi berbau air laut yang agak amis.

Makan malamnya kita diajak ke Jalan Semarang, satu jalan yang dipenuhi orang berjualan makanan, sebagian besar Chinese Food dengan babi merah dipajang di etalase. Malam itu gue pesen Ifumie seafood. Roy memilih sop Pi-o (dengan daging ayam). Ko Ahuat yang mengantar, memesan nasi babi (di Jakarta disebut nasi campur), nasi dengan irisan babi panggang merah, babi panggang putih dan telor kecap. Dari jauh aja sudah tercium wangi saos-nya. Babi banget.

Tempat makan seperti Jalan Semarang ini tersebar di seluruh kota Medan. Banyak tempat lain lagi seperti ini. Namun, kita memilih yang ini karena dekat hotel tempat kita menginap, Soehi Internasional.

Day 2
Makan pagi di hotel lumayan apik, standard hotel bintang 4.

Makan siang, kita diajak ke Rumah Makan Padang ACC, special ayam pop. Bedanya dengan ayam pop yang biasa, disini ayam-nya digoreng garing, baru dicocol dengan bumbu ayam pop. Disajikannya pun dalam keadaan panas (digoreng ulang ketika dipesan). Yang special disini adalah daun singkongnya (orang Medan menyebutnya daun ubi) sangat segar dan walaupun sudah direbus tetap berwarna hijau. Untuk yang satu ini, Ko Ahuat tahu rahasianya.

Malamnya, kita dibawa ke suatu perumahan bernama Cemara Asri. Di dalam kompleks ini, berjejer orang berjualan. Memang didesain untuk berjualan, puluhan ruko dengan meja dan bangku rapi berjejer di luarnya. Kita dipilihkan salah satu tempat yang menurut mereka terbaik, Marco Seafood. Pesanan Kakap Asam Manis, Cumi masak pedas, kangkung, sop dan jus, semua seharga lebih dari Rp 200K. Yang membuat mahal adalah sop-nya (3 sop, jagung kepiting, asparagus masing masing 35K, dan sop ikan 45K). Dengan rasa yang biasa biasa saja, sangat tidak direkomendasikan. Kalau dikurangi Sop, untuk makan berempat, (Gue, Roy, Ko Ahuat dan Wahyu), mungkin hanya sekitar Rp 150K-an. Wahyu juga sedang bepergian dinas – IT officer dari Jakarta.

Day 3 – seharian ber-PETE RIA
Makan pagi, gue dikagetkan oleh menu sambel pete yang disajikan Hotel Soechi. Harus dibuat iklannya nih “Soechi Internasional Hotel – hotel bintang 4 yang menyajikan menu SAMBAL PETAI” :_P Menu itu memang cocok sekali dengan stand Nasi Lemak Tanjung Balai, yang lengkap dengan sambal teri dan kacang + saos cabe-nya yang merah berminyak. Nasi Lemak rasanya seperti nasi uduk, namun lebih berminyak (lemak).



Siangnya, kita diajak ke Rumah Makan Padang (lagi lagi, jadi serasa masih di Padang :_P) Uda Sayang (Abang Sayang – kalau dalam bahasa Betawi). Rumah Makan ini cukup terkenal, dan di visit tahun lalu, karena sedang bulan puasa, RM ini tutup, sehingga tidak sempat kita mencicipi. Namun, setelah bersantap, gue dan Roy sepakat, kalau rasanya biasa saja, tidak lebih enak dari RM Padang Sederhana. Yang lucu, disini juga makan PETE, yaitu Udang Goreng Pete :_P


Malamnya, kita diajak mencoba Waringin Sari Laut. Kabarnya, resto ini sudah terkenal sejak puluhan tahun. Sajian malam itu, Ikan Pari Bakar, Sate Kerang, Kepiting Kulit Lunak (Soka) goreng tepung dan (lagi lagi) Udang Sambal Pete plus Tahu dan Tempe Goreng. Pete Medan memang luar biasa, besar besar, garing dan gurih… :_P Pari bakar juga menyajikan sensasi yang beda, karena daging ikan pari tidak sama dengan ikan lain pada umumnya. Yang agak mengecewakan adalah kepiting soka, kurang istimewa.


Makan malam berlanjut, hanya berjarak jalan kaki 5 menit, lapak lapak penjual Durian Medan tampak ramai. Durian Medan memang beda, ada rasa manis yang agak agak pahit, dengan tekstur daging yang lembut dan sedikit berkrim. Sulit dilukiskan dengan kata kata. Malam itu, walaupun duriannya sangat enak sampai melayang laying, berempat kita hanya mampu makan 2 buah, itupun yang kecil kecil. Selain sudah kenyang, faktor usia juga berperan, artinya, makin tua makin takut makan yang berlebihan :_P Lihat gambarnya aja lagi, untuk mengingat ngingat rasanya :_P


Day 4
Pagi di Soechi Hotel, lagi lagi Nasi Lemak Tanjung Balai, kali ini dengan Sambal Udang (tanpa Pete :_P). Udang-nya besar besar dan belum dikupas. Yang lain, hari ini ada menu special, Lontong Medan. Isinya hanya lontong dan sayur sayuran. Kuahnya seperti kuah lodeh. Rasanya kurang enak.

Tak lengkap ke kota Medan kalau tidak menikmati Saksang, makanan khas Batak. Maka, siang itu, bersama Ko Ahuat, Linda dan Rubina, gue dan Roy diajak ke Rumah Makan OnMa Tabo, yang khusus berjualan masakan Batak. Saksang (babi panggang dengan kuah darah babi), babi panggang (kering), iga bakar, Arsik (ikan mas pedas) dan Sop tulang babi adalah antara lain pesanan siang itu. Tak ketinggalan, daun ubi tumbuk, Pulos Pulos (daun pepaya, bunga pepaya + leuncha) dan teri tempe kacang. Semua makan dengan lahap dan habis dalam sekejap. Tahun lalu (dan Maret 2008) kemaren, gue sempat makan di RM Batak yang hampir kurang lebih sama, ONDO. Keduanya sama enaknya… Yummy


Malamnya, karena ini malam terakhir kita di Medan, harus mencicipi sesuatu yang unik dan tidak ada di Jakarta. Maka Kwetiau Kerang menjadi pilihan yang tepat. Masakan ini bisa dibilang jarang ditemui di luar Medan. Ada pilihan kwetiau, nasi dan bihun goreng. Isinya: kerang, udang, baso ikan dan tak ketinggalan daging babi kegemaran orang Medan. Kerangnya berasal dari kerang bulu, kerang laut yang ukurannya cukup besar. Dengan adanya kerang itu, bau-nya amat harum. Ngga nyesel deh.. Ngga mahal lagi..


Rencananya, tengah malam sehabis melanjutkan kerja di hotel, mau turun untuk nyobain Nasi Goreng Padang persis di sebelah Hotel Soechi. Kata temen teman Medan, enak banget, nasi goreng pake daging kari dan buka hanya malam sampai pagi hari jam 2. Keenakan kerja (bohong! :_P), sampai jam 2, Roy dari kamar sebelah ngga telpon2. Paginya baru tau, sebenarnya dia telpon jam setengah 1 pagi, tapi mungkin telpon kamar gue rusak, makanya ngga bunyi.

Day 5 – last day di Medan
Sarapan pagi menu spesialnya masih sama dengan kemaren kemaren, Nasi Lemak Tanjung Balai. Dijelaskan sama Ko Ahuat yang asli dari Tanjung Balai ini, ada satu macam lagi nasi khas, yaitu Nasi Perang, isinya teri medan, udang dan sambal dibungkus daun pandan. Bungkusannya kecil kecil, 1 orang bisa habis 4 sampai 5 bungkus baru terasa kenyang. Tanjung Balai masih termasuk Sumatera Utara, tak jauh dari Medan.

Makan siang, kita pilih yang tak jauh jauh (dari Belawan) dan yang tak lama lama. Mie Pangsit pilihannya, karena siang itu, pekerjaan masih menumpuk dan tak selesai :_( Tapi walaupun ini pilihan darurat, rasanya tak sembarangan. Mie dengan daging babi merah dan pangsit babi plus irisan telor kecap ini mantap sekali. Tempatnya agak kumuh dan panas. Tapi yang makan disitu ramai sekali. Semua pun lahap menengguk mie di dalam mangkok masing masing. Gue aja yang ngga makan daging, bisa menikmati hanya mie dengan telor plus kuah polos. Bener bener yummy ala Medan

Sorenya, sudah terlalu telat untuk menikmati babi panggang khas Medan, dimana mau ditraktir sama Eddy Law (bos cabang Medan). Selain takut ngga keburu ke bandara, jualannya juga sudah habis. Babi panggang-nya (kata Eddy) enak banget, tapi mahal banget, 1 kg = Rp 300K. Mahal Banget.

Jadinya kita ngga makan. Tapi puas dengan 5 hari kuliner di Medan. Masih bawa pulang oleh oleh berupa Bolu Meranti dan Teri Medan. Oleh Ko Ahuat, kita juga dibekali Pepaya Medan dan Pisang Barangan khas Medan. Kayak orang kampung pergi ke kota :_P

Yang beda di Medan
Selain makanan yang khas Medan seperti Saksang, Kwetiau Kerang dan Nasi Lemak Tanjung Balai, ada beberapa minuman yang khas dan jarang ditemui di tempat lain. Yang pertama dan menjadi kebanggaan orang Medan tak lain adalah Terong Belanda. Minuman jus yang berasal dari buah berwarna merah berbentuk bulat, rasanya asam asam manis. Yang lain adalah Markisa, juga khas Medan dan Jeruk Kietna yang rasanya juga asam, didalamnya biasanya diberi kiamboy. Satu lagi yang jarang ditemui di luar Medan, adalah Es Timun Parut. Air gula diberi parutan timun segar di dalamnya. Benar benar menyegarkan, apalagi di udara Medan (dan Belawan) yang menyengat.


























Paling Rekomended
Kwetiau Kerang – Jl. Letjen S. Parman No 22 Medan – pilih Nasi Goreng Kerang

Well, I'm gonna miss Medan ...

My Last Assignment, Medan – Kota Tua dan Hotel Mewah

Penugasan keluar kota selalu menarik bagi gue, dan Medan, sebagai kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya, selalu ada sesuatu. Suatu pagi, kita sempat melewati Rumah Tua milik Tjong A Fie (sebuah rumah klasik arsitektur china kuno), Malamya sempat melewati Istana Maemun, bekas rumah kesultanan Deli, dan Masjid Raya Medan. Medan merupakan kota tua, dan banyak bangunan yang merupakan saksi sejarah, yang ditaksir sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Bahkan beberapa sudah ada sebelum pemerintahan kolonial Belanda termasuk Rumah Tjong A Fie dan Istana Maemun.

Yang menarik, bagunan baru di Medan, tak jauh jauh dari Hotel dengan gaya hidup alias mal di bawahnya. Tersebutlah Hotel Arya Duta yang baru buka tak lama ini. Hotel dengan rate mulai dari Rp 620K per malam ini, memiliki pusat perbelanjaan di bawahnya, namun belum resmi beroperasi. Bakal Hotel berikutnya adalah JW Marriot, yang dilengkapi perkantoran di bawahnya. Namun, baik hotel dan kantor belum dibuka pada saat gue disini. Hotel yang sedang dibangun adalah City Hall Boutique Hotel, tepat di depan pusat hang-out anak muda Medan, Merdeka Walk. Ketiga hotel berbintang 5 tersebut bersanding dengan Grand Angkasa (yang juga bintang 5 dan sudah beroperasi walaupun masih baru), menyemarakkan landscape kota tua yang dipenuhi bangunan kuno ini.


Tersebutlah Kantor Pos Besar Sumut, kantor Bank Indonesia, Bank Mandiri dan Standard Charterd, disamping kantor kantor lainnya yang sebagian besar adalah kantor pemerintahan, yang mengambil gedung peninggalan jaman kolonial dulu. Tentunya dengan pemugaran agar lebih layak.


Yang lucu, bagunan hotel JW Marriot dan Arya Duta, sempat dipaksa ‘pangkas’ oleh Pemda setempat untuk mengakomodasi perlintasan pesawat yang akan lepas landas maupun mendarat di bandara Polonia Medan. Jarak kota ke bandara memang terlalu dekat. Mungkin one day, bandaranya akan dipindahkan sedikit keluar kota, mungkin di Tebing atau malah Siantar. Who knows.

12 Agustus 2008

My Last Assignment, MEDAN

Menjelang saat saat hari terakhir gue di perusahaan sekarang, gue memilih Medan sebagai penugasan terakhir gue, diantara 2 yang lain, Surabaya dan Bandung. Masih teringat tahun lalu, bulan September 2007, betapa 4 hari yang menyenangkan, meskipun pada saat itu sedang bulan Puasa, tak menghalangi gue dan Roy (dan Reza – yang sedang berpuasa), melakukan gerilyakuliner, diantara pekerjaan kita yang boleh dibilang sangat sibuk :_P Apalagi jalan jalan Maret 2008 lalu bersama keluarga, masih membekas enaknya Medan, Bolu Meranti, Bika Ambon, Duren Medan … Mmmm… Yummy …

Hari ini, day one penugasan terakhir itu, tiba di bandara Polonia Medan jam 10 pagi. Gue dan Roy dijemput oleh Ko Ahuat yang sangat ramah dan sudah menjadi teman kita sejak tahun lalu. Menjelang Pelabuhan Belawan, tempat yang kita tuju, ternyata macet sekali, tak biasanya, mungkin ada kecelakaan. Sehingga Ko Ahuat membelokkan Hyundai Atoz yang kita tumpangi lewat jalan lain. Dan karena sudah jam tanggung (saat itu sudah jam 11 siang), daripada sampai kantor trus keluar lagi en kena macet, kita memutuskan untuk mampir makan siang dulu sebelum ke kantor.

Maka, siang itu kita mampir ke sebuah warung cukup sederhana di tepi pantai, tempat tahun lalu kita pernah makan. Kita pilih 1 ekor ikan Kakap besar dan 1 ekor Bawal (yg juga ukuran besar) untuk makan bertiga. Dua duanya dibakar. Sayurnya, sayur kangkung tumis terasi dengan udang yang besar besar. Melihat Roy makan, keliatan bener enaknya. Bagian paling nikmat dari ikan memang bagian kepala (bagi penikmat ikan sejati). Kita juga mencoba jus terong belanda, minuman khas Medan, selain jus markisa. Terakhir, segelas timun kerok menjadi penyegar siang yang menyengat di Belawan (pelabuhan). Semuanya dengan harga yang cukup mahal, diatas Rp 200,000.

Ada yang menarik dari pinggiran pantai ini. Ada sejenis ikan, yang tidak bernapas di air, tetapi di permukaan, mukanya jelek, dan mempunyai sirip menyerupai hewan purba (sirip pada beberapa jenis dinosaurus). Ko Ahuat menjelaskan bahwa ikan itu ada yang jual dalam bentuk sudah digoreng garing. Sesekali terlihat 2 ekor ikan tersebut yang ukuran besar sedang beradu, entah memperebutkan apa. Hewan lain yang juga menarik adalah kepiting kecil, lebarnya mungkin hanya 3 cm, namun mempunyai capit yang sangat besar disbanding ukuran tubuhnya, dan lucunya, hanya 1 yang besar, satu lagi kecil sekali dan digunakan untuk makan.

Pekerjaan kantor cukup membosankan, selain bertemu kembali teman teman lama, Eddy Law, Nawi, Hudinata, Andri dan Linda. Yang terakhir ini yang membantu dan menemani gue sewaktu ke Medan untuk leisure, Maret 2008 lalu. Seorang staf baru, Rubina, yang walaupun baru bergabung 3 bulan, cukup baik dalam meng-assist pekerjaan kita.

Malamnya, kita memutuskan pulang jam 6, karena capek, selain pekerjaan hari ini hanya mengolah data, dan bisa dikerjakan di hotel, semua data sudah dalam bentuk softcopy dan disimpan di laptop.

Sebelum ke hotel, kita mampir makan di Jalan Semarang namanya. Tempatnya seperti KiyaKiya di Surabaya atau seperti Kesawan Square (di Medan juga tapi sudah tutup). Tempat berjualan makanan (hanya di malam hari) dan memakai sebagian besar badan jalan. Malam itu, gue makan Ifumie Udang dengan telor. Roy mencoba sup Pi-o (kura kura), gue ikut nyicip, tapi ternyata amis. Ko Ahuat memesan nasi campur, di sini mereka menyebutnya nasi babi, nasi dengan siraman kuah manis, dengan lauk babi panggang merah, babi panggang putih dan telur kecap. Betapa pinginnya gue memesan makanan yang sama. Betapa inginnya gue makan nasi campur langsung dari tempat asalnya (Medan). Namun, mengingat komitmen gue pada Global Warming, gue mengurungkan niat tersebut. Untuk menghibur diri, Ifumi juga asli dari Medan, jadi gue udah makan Ifumi langsung dari tempat asalnya :_) Semua hanya seharga Rp 77,000 sudah termasuk 2 gelas sirsak dan segelas es juruk.

Sampai di Novotel, langsung dapat kamar, karena sudah booking melalui KAHA Tour di Jakarta. Dapet rate Rp 525,000 semalam, include breakfast for two. Harga yang cukup premium kalau dibandingkan dengan hotel bintang 4 di kota lain. Namun, dibanding Tour yang lain, rate di KAHA sudah yang terbaik. Rate Hotel di Medan memang agak edan. Ini, menurut gue, karena tamu tamu hotel yang kebanyakan adalah perantau sukses dari kota Medan, tidak terlalu mempermasalahkan harga, dan hotel bersih dan apik, harus diakui tak banyak di kota ini.

Begitu check-in dan masuk ke kamar hotel ini, terus terang gue puas. Bersih dan tertata rapi. Ada wi-fi gratis pula, untuk ber-internet ria. Sayangnya, sinyalnya kurang bagus dan sempat terputus, sampai gue harus memposting tulisan ini, keesokan harinya di kantor (hari ini). Satu hal lagi yang mengesalkan. HP gue ketinggalan di mobil Atoz, dua duanya (GSM dan CDMA), sehingga harus minta tolong Roy untuk SMS Ko Ahuat kalau HP ketinggalan dan SMS Natz untuk bilang tak perlu worry kalau ngga ada kabar dari gue.

Paginya, harus sarapan sepuasnya. Enaknya, bisa breakfast berempat, karena masing masing kamar dapet complimentary 2 breakfast, jadi bisa ajak 2 temen dari Medan untuk breakfast bersama. Biasanya sarapan di Novotel enak dan banyak pilihannya. Hanya saja, ini bukan Novotel Accor, ini Novotel Soechi, tidak ada hubungannya dengan Novotel lain.

PS. Tidak pake foto karena posting buru buru

11 April 2008

DANAU TOBA (& BERASTAGI), 20 – 22 Maret 2008

click the above title for photos related to this blog

Awan putih bergulung meniti bukit nan hijau, bukit bersulam dengan air biru nan tenang di bawahnya. Suatu pemandangan dramatis yang sungguh sulit dicari tandingannya bahkan di mancanegara. 3 hari waktu yang sangat sangat kurang untuk mengexplore semua keindahan alam Danau Toba, Samosir, Berastagi dan Medan.

Apa boleh buat. Sebagai karyawan yang terikat dengan pekerjaan kantor, hanya itulah waktu yang kita punya. Untuk melepas stress dan memenuhi kepuasan hati menikmati indahnya Indonesia. Kecuali Papa Mama yang kapan aja OK buat jalan, secara waktu dan tentunya, uang :_)

Kejutan di awal perjalanan
Pagi pagi sekali kita sudah bangun untuk bersiap siap. Pagi itu ada kabar gembira dari Nat, ternyata dia hamil! Memang beberapa hari belakangan sudah merasakan sesuatu, maka pagi itu, sebelum berangkat, kita coba test kehamilan dengan testpack dari China. Merasa kurang yakin kita test lagi sampai 3x, 2x dengan testpack China dan sekali dengan Sensitif. Hasilnya sama, positif! Namun kita tetap melanjutkan perjalanan, tanpa memberitahukan kepada yang lain dulu. Soalnya ini baru hasil testpack, belum cek kehamilan betulan di RS.

Hal itu membuat kita sedikit telat sampai ke rumah Khioko. Disana sudah menunggu Papa dan Mama dan Cece dengan bawaan masing masing. Sementara Khioko sendiri yang mengantar kita ke bandara. Dan seperti biasa, kita naik pesawat yang itu lagi, AirAsia :_)

Tiket AirAsia kita (Aj dan Nat) hanya Rp 376ribu per orang, sedangkan yang lain Rp 1,4 juta per orang, karena belinya belakangan, sekitar 2 minggu saja sebelum tanggal berangkat, sementara kita belinya sudah sekitaran Juni 2007. Bedanya jauh ya :_) Ceritanya begini, 3 minggu sebelum berangkat gue dan Nat pergi ke Mangga Dua untuk membeli miniDVD untuk handycam di Medan nanti. Pada saat itu, Papa telepon dari Bangka. Waktu diceritakan kita akan ke Medan, ternyata beliau sangat antusias. Akhirnya beliau mengajak Cece, yang juga antusias. Ya sudah, kita carikan tiketnya yang ternyata sudah berlipat-lipat dari harga kita. Kita pun senang mereka ikut, selain meringankan biaya akomodasi karena dibagi bersama, juga menambah teman perjalanan sehingga makin ramai. Tampaknya Papa ‘ketagihan’ jalan sama kita setelah perjalanan SingMaThai :_)

Di dalam pesawat yang sama, kita bertemu Darwin, mama dan i’i-nya yang juga ke Medan pada hari yang sama. Mereka ke sana untuk lamaran untuk anak i’i-nya tersebut. Sesampainya di Medan, langsung disambut oleh Linda, seorang teman sekantor yang bekerja di cabang Medan. Linda yang bermarga Sipayung itu datang bersama abangnya, yang nantinya akan mengantarkan kita untuk perjalanan di Medan ini. Namanya Yohanes.

Memang, untuk persiapan sewa mobil dan sopir, gue percayakan semuanya ke Linda yang memang sangat berniat membantu. Untuk harga sewa mobil Kijang kapsul lepas kunci (artinya kita yang bawa), 1 hari Rp 250ribu diluar bensin dan sopir dan Rp 500ribu untuk + sopir dan bensin. Kalau Kijang Inova, masing masing lebih mahal 50ribu dan 100ribu. Kalau bersama sopir, waktunya dihitung 8 jam perhari, lebih dari itu dikenakan lembur yang pastinya cukup berat. Belum sampai kesana, ditawarkan sama Linda, bagaimana kalau kita sewa lepas kunci, sehingga leluasa (seolah mobil punya sendiri), dan nanti abangnya yang bawa. Mau dikasih berapa nanti terserah pak Andi, begitu katanya.

Itinerary
Siang itu, gue langsung request untuk diantar makan siang saksang di jalan Pabrik Tenun. Tahun lalu waktu bertugas ke Medan pernah diajak kesini dan sangat berkesan. Ngga lengkap rasanya kalau tidak membawa keluarga gue ke sini untuk mencicipi masakan khas orang Batak ini. Nama tempat makannya ONDO, Grill Batak. Kata Ondo itu dalam berarti ‘Ini’, atau ‘ini dia, grill Batak’, begitu kira kira maksudnya. Saran gue kalau makan disini, mintalah meja yang ada di belakang (taman), suasananya lebih tenang dan menyenangkan. Tidak selang berapa lama, menu yang dipesanpun datang. Ada Saksang (daging babi dimasak dengan darah babi), Iga goreng, babi (samcan) panggang, babi (samcan) goreng dan sop dengkul babi. Memang serba babi. Untuk sayurannya ada daun singkong tumbuk dan pulos pulos. Pulos pulos adalah campuran bunga pepaya dengan singkong dimasak kuah berwarna agak kemerahan dan rasanya asam. Mirip masakan Manado.

Itinerary-pun disusun dan disepakati. Hari pertama ini, langsung menuju Parapat (Danau Toba), besok pagi nyebrang Feri dari Ajibata (Parapat) ke Tomok (Samosir). Kembali dari Samosir langsung menuju Berastagi untuk menginap. Kalau sempat, mampir dulu di air terjun Sipiso-piso dan perkebunan jeruk yang bisa petik sendiri. Keesokan harinya, dari Berastagi turun ke Medan untuk jalan jalan di Medan. Sebelumnya mau mampir dulu di emperan yang bisa duduk duduk menikmati buah durian Medan. Di Medan, mengunjungi Istana Maimoen, rumah tua peninggalan bangsawan China (Tjong A Fie) di kawasan Kesawan Square dan Gereja Katholik ersitektur India, Maria Anai Velankani. Serta tak lupa mampir untuk oleh oleh Bolu Meranti, Bika Ambon, dan teri Medan yang amat yahuy itu.

Maka, siang itu sehabis puas menyantap makanan khas Batak, langsung kita menuju ke Parapat yang jarak tempuhnya sekitar 4 jam dari Medan. Perjalanan 4 jam itu melewati beberapa kota yaitu Lubuk Pakam, Deli Serdang, Serdang Berdagai, Siantar dan Tebing Tinggi sebelum sampai ke kota Parapat. Sepanjang jalan didominasi perkebunan sawit dan karet. Ada satu pemandangan yang menarik begitu kita masuk ke kota Siantar, yaitu ‘betor’ (becak motor) –nya yang menggunakan motor motor tua nan antik. Tidak seperti di Medan dan kota lainnya yang rada rata menggunakan motor bebek atau Honda Win sebagai penarik becaknya. Yang menarik lagi dari bettor adalah, satu betor bisa untuk 5 orang dewasa (diluar pengemudi) + beberapa orang anak anak, sebab banyak tempat duduknya, hingga di muka dan belakang becaknya masih ditambahi tempat duduk. Mungkin mobil Karimun masih kalah.

Perjalanan 4 jam ini merupakan perjalanan yang melelahkan, apalagi dengan Kijang Kapsul dan sopir yang rada ‘ugal-ugalan’. Papa langsung membandingkan dengan perjalanan kita beberapa waktu lalu, dari Kuala Lumpur ke Singapore yang memakan waktu 6 jam tapi tak terasa lelah sedikitpun. Kenapa? Tentu saja, itukan bus tinggi dengan tempat duduk yang sangat nyaman, dan sopir yang sangat tenang, ditambah kondisi jalan yang 100% mulus. Tidak seperti perjalanan ke Parapat ini. Maaf saja. :_P

Namun, segala lelah sirna ketika deretan bukit yang disebut Bukit Barisan itu terpampang di depan mata. Kilauan cahaya matahari yang terpantul di air-nya yang tenang. Mengundang kita untuk berhenti ketika melewati suatu view yang terlalu bagus untuk dilewatkan jepretan kamera atau handycam shooting. Sekilas tampak seperti pemandangan di Phromthep Cape, Phuket, namun dengan skala yang lebih besar, lebih dramatis dan jauh lebih indah. Hari sudah sore, matahari memang tidak terlalu terang lagi, namun tidak membuat pemandangan menjadi suram, justru bukit bukit sepanjang danau tambil indah dibalik sinar matahari yang sayu sayu malu. Sambil menikmati kopi atau teh hangat yang disajikan warung yang kami singgahi, tidak terbilang berapa jepretan yang sudah kami ambil.

Tak puas puasnya menikmati keindahan alam ini, kami sudah harus melanjutkan perjalanan menuju Hotel yang sudah kami pesan sebelumnya, Hotel Niagara. Katanya, dari hotel inilah, dapat puas memandang pemandangan Danau Toba beserta dengan pulau Samosirnya. Sepanjang perjalanan ada fenomena menarik, yaitu monyet monyet jinak yang berbaris sepanjang jalan untuk meminta apa saja, bahkan uang dari pengunjung yang kebetulan lewat. Hebatnya, monyet monyet ini seperti ada posnya masing masing dan tidak saling berebut wilayah. Rupanya sudah ada pawangnya, yaitu marga Manik, seperti yang dijelaskan Linda melalui SMS.

Ternyata ngga salah. Hotel Niagara memang tempat yang menyediakan view yang luar biasa untuk memandang ke Danau Toba. Sayangnya, untuk kelas Superior yang kita pesan, letaknya bukan di bangunan utama yang bisa langsung menyaksikan danau (lake view), tapi di bangunan yang ada di belakangnya. Maklumlah, ini kelas yang paling rendah, selain kelas sopir yang lebih rendah lagi. Sore itu, setelah meletakkan barang bawaan di kamar, langsung kita menuju kolam renang yang viewnya langsung menghadap danau. Di sebelah kolam renang terdapat taman, yang dari taman itu, danau Toba terlihat lebih jelas lagi. Satu malam di hotel ini 600san ribu dan harus ambil 2 malam (paket long week-end). Untung ada seorang teman (Hendry Tjoe & istrinya Joceline) yang menawarkan share 1 malam pertama, jadi kita ambil malam keduanya. Hotel Niagara tidak terletak di pinggir danau sepeti Inna Parapat, namun lebih ke atas lagi kira kira 2 KM. Sekitaran Danau Toba ini memang perbukitan dan hawanya cukup sejuk.

Sehabis mandi, perutpun keroncongan. Atas rekomendasi teman tadi, kita mampir ke restaurant Asia yang menyajikan Chinese food. Tempatnya memang ramai dan makanannya pun not bad. Yang enak ikan tahu tausinya yang mantap. Keluar dari hotel maupun masuk lagi, bang Yohanes rada bingung dengan jalanannya, sampai beberapa kali kita nanya orang. Sampai bete Cece dan Papa. Abis makan, gue dan bang Yohanes pergi ke pintu gerbang danau untuk nanya tentang Feri yang berangkat ke pulau Samosir supaya bisa merencanakan perjalanan besok pagi. Feri pertama dari Ajibata berangkat jam 8.30 pagi, yang menurut temen gue (yang share hotel Niagara), jam 6 orang sudah mengantri. Itu membuat kita berencana berangkat jam 6.30 dari hotel.

Perjalanan yang tiada bosan bosannya
Esoknya, seperti rencana semula 6.30 kita mulai jalan dari hotel, setelah check-out. Memang hotel tidak menyediakan breakfast sebagai complimentary, sehingga kita berencana breakfast sesampainya kita di Tomok, pulau Samosir sana. Toh perjalanan hanya 1 jam naik Feri, jam 9.30 untuk sarapan masih belum terlalu siang, pikir kita.

Agak nyari nyari juga menuju Ajibata ini. Bang Yohanes pun terlihat tidak paham betul dengan jalan ini, sehingga beberapa kali harus bertanya. Untuk masuk ke Ajibata, jarak tempuhnya sekitar setengah jam dari Niagara, pintu masuk danau Toba, harus bayar yaitu Rp 5000 per mobil. Sesampainya di Ajibata sekitar jam 7.30. Ternyata sudah ada kapal yang penuh dan sudah hendak berangkat. Rupanya, untuk antisipasi long week-end, mereka buka penyebrangan lebih awal 1 jam. Setelah mobil kita masuk ke parkiran dan membayar jasa penyebrangan sebesar Rp 78,000 per mobil (orang tidak dihitung), kita keluar parkiran untuk mencari sarapan pagi, kebetulan masih ada waktu 1 jam sebelum Feri kedua berangkat jam 8.30. Kalau sudah masuk parkiran dan sudah bayar, sudah ada kepastian tempat di Feri berikutnya, karena sudah dibatasi mobil mobil yang masuk parkiran kira kira muat 1 Feri, setelah itu pintu gerbang ditutup.

Di warung yang amat sederhana, yang gue yakin sehari-harinya amat sepi, seorang ibu yang tampaknya keturunan Chinese, berjualan masakan goreng goreng seperti nasi goreng, mie goreng, kwetiau dll. Enak juga lho, masakannya. Sepiring mie goreng seharga Rp 7,000 berisi telur dan potongan daging merah (daging babi). Sambil menikmati kopi, Papa sempat bercanda, “ini kalau diluar hujan deras, di dalam hujan gerimis” sambil nunjuk ke langit langit sengnya yang berlubang lubang. Jangan salah, begitu begitu anaknya sarjana semua lho, terlihat dari foto foto yang ia pajang.

8.30 tepat, mobil yang tadinya parkir di pinggir dermaga, satu per satu masuk ke dalam Feri yang kira kira menampung 20an mobil saja. Segera saja kita menuju ke lantai 2 Feri tempat penumpang bisa duduk, sambil melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Perjalanan yang memakan sekitar 1 jam tersebut sama sekali bukan perjalanan yang membosankan. Disinilah letak keindahan alam Indonesia yang hampir tiada bandingannya di luar negeri. Papa yang pernah ke seantero China hingga Guilin, Jiu Jai Guo, Huangsan sampai ke Tibet, dan Cece yang sudah menginjakkan kaki ke Halong Bay, ke Saigon, Siem Riep dan gue sendiri (hehe – sangat kerdil dibanding mereka) sudah melihat Phuket, Phi Phi island, dan Guilin. 3-3nya kami terpukau dan sibuk dengan perangkatnya sendiri. Papa dengan Handycam Sony di genggaman, Cece sibuk sekali dengan Canon EOS 350D-nya yang terlihat besar di tangannya yang mungil. Sedang gue (sekali lagi hehe), dengan Canon Ixus 5, itupun pinjaman dari Khioko. Intinya, ke-3nya terpukau dan tak puas puasnya mengabadikan. Papa sampai berkata, “Ngga pernah melihat danau seindah dan semegah ini”. “Ohya? Even di China?” “Untuk ukuran danau, iya.” Menurut gue juga begitu sih, kalau dibandingkan Li Jiang river di Guilin (yang juga amat fenomenal), ini pemandangan yang berbeda, danaunya lebih dalam dan lebar, juga bukitnya yang besar besar, beda dengan Li Jiang yang bukitnya lancip lancip, lagipula Li Jiang merupakan sungai, bukan danau. Atau dibandingkan dengan perjalanan Phi Phi island, perbukitannya sih mirip, tapi itukan di laut bukan danau.

Di dalam Feri, selain pemandangan yang mengajak kita untuk tak puas puasnya memandang keluar jendela, ada hiburan lain yaitu, yang gue sebut ‘The Jackson Five’ versi Sumatera Utara. 5 anak seumuran ABG memperlihatkan kebolehannya dalam mengolah suara, layaknya biduan biduan Batak yang memang terkenal tarikan suaranya. Anak anak ini memang pengamen, namun dengan tehnik olah vokal yang tinggi, pembagian suara yang harmonis, yang sesekali diselingi solo vocalnya si ‘Michael Jackson’ yang melengking tinggi. Yang mengagumkan dari mereka, setelah menerima uang dari ‘penggemar’nya, uang itu langsung dibagi secara merata. Sisa uang yang tidak dapat dibagi rata, mereka undi dengan semacam gangsuit. Lagu lagu yang mereka bawakan adalah lagu berbahasa Batak seperti ‘Situmorang’ dan ‘Anak Medan’, namun terselip juga 1 lagu khas Manado yang sudah menasional, ‘Poco Poco’. Selain itu, ada pula penjual kacang rebus, telur rebus, teh/kopi dan mie pun kerap menawarkan jualan mereka.

Setibanya kami di Tomok, Pulau Samosir, yang terlintas adalah segera menuju tempat yang bernama Tuk Tuk, yang kita dengar merupakan tempat paling wah di pulau Samosir. Selain minim info tentang Samosir, kita juga minim waktu, rencana kita hanya setengah hari disini, menumpang Feri jam 12 siang dan langsung menuju Berastagi yang akan memakan waktu 5 – 6 jam. Ternyata hal itu menyisakan sedikit penyesalan di akhir perjalanan. Sungguh, P. Samosir tak habis diexplore dalam, katakanlah, 3 hari !

Wisatawan ke sini biasanya menginap beberapa hari, menyewa sepeda atau sepeda motor, kemudian meng-eksplore keindahan P. Samosir. Dulu, waktu wisata Indonesia lagi jaya jayanya, banyak bule yang tinggal disini, seperti halnya Phuket atau Bali. Sekarang, yang terlihat cuma segelintir bule, biasanya berpasangan, dan agak berumur.

Dari Tomok ke Tuk Tuk saja sudah perjalanan yang menyenangkan. Sempat kita minta berhenti sampai 4 kali. Pertama, untuk melihat lebih dekat air terjun Simangande yang indah menghiasi Bukit Barisan yang panjang dan berwarna hijau segar. Kedua, sebuah padang rumput tempat bergembalanya domba domba, kerbau dan ayam. Dengan latar belakang bukit nan hijau. Ketiga, di pinggiran jalan yang menghadap ke arah danau. Dari sini, terlihat indah sekali, danau, awan, kemudian daratan (kota Parapat) di seberangnya. Keempat, sebuah bukit rerumputan, yang dari atas bisa melihat lebih jauh ke arah danau, dan belakangnya bukit yang lebih tinggi lagi. Banyak juga waktu kita habiskan disana. Memotret dan bercengkerama.

Sesampai di Tuk Tuk, kita singgah di sebuah penginapan yang menyediakan café untuk memandangi danau dan bukit di luarnya. Sekilas mirip sekali dengan ketika kita singgah di danau Tondano, Minahasa. Hanya, disini cuma tersedia minuman layaknya café, bukan makanan berat. Tuk Tuk merupakan sebuah semenanjung di P. Samosir, yang sangat populer sebagai tujuan wisata karena letaknya yang hanya sekitar 30 menit dari dermaga Tomok. Disini banyak sekali terdapat penginapan, tempat jual souvenir, persewaan sepeda dan sepeda motor, café sampai money changer. Ketika gue nanya, berapa ongkos menginap 1 malam di penginapan ini? Abadi Guest House menawarkan pemandangan langsung menghadap bukit Barisan dan air jernih nan tenang menyambut di depan pintu tiap tiap rumah dengan tarif hanya Rp 100,000 per malam per 1 kamar 2 – 3 orang.

Dari situ, kita kembali ke dermaga Tomok, masih jam 12.30 dan Feri berikutnya jam 1 siang. Masih sempet liat liat toko souvenir yang ada di sepanjang jalan dekat dermaga. Bermacam ragam produk yang ditawarkan, dari kaos, tas tangan, sepatu/sandal, tas HP, dompet, sampai pernak pernik seperti gelang kalung dan pajangan miniatur rumah adat Batak terbuat daru kayu.Gue beli kaos 1 untuk gue dan 1 untuk Nat. Nat beli sepatu dan tas HP. Cece beli tas tangan. Sembari menunggu Feri, masih sempat kita makan siang di Tomok, supaya sampai Parapat langsung kita menuju Berastagi. Babi Panggang Karo dan ikan mas bakar jadi menu fast lunch siang itu. Juga membeli pisang dan salak untuk bekal perjalanan panjang ke Berastagi nanti.

Di dalam Feri kembali ke Ajibata, bertemu lagi dengan ‘The Jackson Five’ yang kali ini tidak seprima tadi menyanyinya. Pastilah habis ‘batere’nya menyanyi seharian. Beruntung kita mendengarkan olah suara keluaran perdana.

Lepas dari Feri, di awal perjalanan dari Parapat menuju Berastagi, bang Yohanes salah jalan lagi, malah ke arah Balige, tempat wisata lainnya di sebelah selatan Danau Toba. Akhirnya berbalik arah lagi. Tak lama setelah melewati monyet monyet peminta minta di pinggir jalan, dia mengambil jalan pintas Simargarunjung yang melewati pinggir pinggir jurang perbukitan yang berbatasan dengan Danau Toba. Kalau mobil tergelincir ya straight to the lake. Walaupun aspalnya mulus, jalanannya amat sempit, untuk 2 mobil berpapasan harus saling mengalah, sehingga agak mepet mepet jurang. Papa, yang duduk di depan sampai minta tukar tempat sama gue. Ngeri katanya. Walaupun ngeri, pemandangannya luar biasa. Tak henti 350D dijepretkan. Salah satunya kita menjumpai sesama traveler yang menepi untuk mengabadikan Tanjung Onta. Kerennya Camel Cape :_) Dari atas terlihat indah sekali, walaupun sama sekali ngga mirip Onta.

Itinarary yang terlewatkan
Perjalanan selanjutnya mengingatkan gue akan perjalanan di Minahasa highland, dari Manado menuju Bukit Kasih. Mungkin tak ada tempat lain yang memiliki Gereja sebanyak ini selain 2 tempat ini, Sumut dan Sulut. Maklum, keduanya memiliki mayoritas penduduk penganut agama Kristen (dan Katolik). Apalagi, sama seperti tahun lalu melintas di Minahasa, sedang suasana Paskah yaitu tepat hari Jumat Agung. Pemandangan bernuansa religius sepanjang perjalanan, Gerja dipenuhi dengan umat berpakaian rapi, bahkan tak sedikit yang mengenakan pakaian adat Batak lengkap dengan kain ulos yang menawan. Membuat seluruh penumpang di mobil merasa bersalah, demi mengejar waktu sampai ke Berastagi tidak terlalu larut, apalagi saat itu hujan local cukup lebat turun beberapa kali.

Selain Gereja yang bertebaran sepanjang perjalanan, hal religius lain yang tak kurang menarik perhatian adalah kuburan yang unik. Rupanya, masyarakat Batak termasuk masyarakat yang memberi tempat yang tinggi bagi kaum leluhur. Kuburan kuburan itu tidak terletak dalam kompleks jiarah, namun tersebar. Bentuknya pun amat tidak biasa. Kebanyakan mengambil arsitektur rumah adat Batak yang lancip lancip, berlantai 2 dengan tangga kecil, mirip tugu dan diberi pagar pembatas lengkap dengan gerbangnya. Ini yang berbeda dengan perjalanan Minahasa Highland.

Menjelang KabanJahe terdapat sebuah tempat wisata yang amat sangat sayang untuk tidak dikunjungi. Tapi apa boleh buat, hari sudah terlalu sore, ditambah hujan pula. Air terjun sipiso piso yang terdapat di Desa Tongging juga merupakan tujuan wisata favorit sampai ke mancanegara, selain Danau Toba dan P. Samosir yang lebih termasyur. Gambar bukan jepretan sendiri melainkan di ambil dari website www.pbase.com.

Memasuki KabanJahe, juga ada wisata lain yang terlewatkan. Petik jeruk sendiri langsung dari pohonnya! Karena hujan, akhirnya kita hanya mampir membeli jeruk di lapak yang menjajakan jeruk berastagi dalam ikatan besar sekitar 3 KG, dijual Rp 8,000 per KG. Jeruknya segar, manis dan banyak airnya, beda yang dimakan di Jakarta, sebab disini masih tinggi kandungan airnya. Sampai di Jakarta sudah menguap sebagian airnya.

Tak lama, masuklah kita ke kota Berastagi. Suasana sejuk pegunungan langsung terasa, apalagi malam itu dingin dingin berkabut. Hal pertama yang kita lakukan adalah mencari Hotel Mikie Holiday. Bukan untuk menginap, tapi untuk bertemu teman (Hendry Tjoe dan istrinya Jo) yang sudah duluan menginap di Vila Bukit Mas, tak jauh dari Mikie Holiday. Setelah sama sama menuju Vila, Papa, Mama dan Cece berpisah diantar bang Yohanes untuk menginap di Hotel Mutiara, karena Vila hanya tersisa 1 kamar untuk gue dan Nat. Vila berkamar 4 itu penuh dengan sanak saudara dan ponakan teman gue itu. Malam itu, gue dan Nat makan malam bersama di Vila bersama keluarga Hendry Tjoe yang sebenarnya dengan ramah menawarkan juga ke keluarga gue. Namun, khawatir makanan mereka ngga cukup karena kehadiran mereka mendadak, Papa Mama dan Cece terpaksa makan diluar bersama bang Yohanes. Sajian ayam goreng, dengan sayur mayur dan teri medan goreng buatan i’i-nya teman aduhai sekali menemani malam yang dingin dan perut yang kebetulan sudah keroncongan.

Sehabis makan, gue dan Nat bersama Hendry dan Jo menuju Hotel Mutiara. Gue dan Nat untuk menumpang mandi, kebetulan air panas di Vila ternyata rusak. Sedangkan Hendry dan Jo mau melihat lihat hotel tersebut. Hotel Mutiara merupakan hotel bintang lima di Berastagi selain Mikie Holiday. Kamarnya pun besar, dengan balkon tiap kamarnya yang menghadap kolam renang atau ke jalan raya. Kebetulan kamar mereka menghadap kolam renang, membuat gue ngiler pengen berenang keesokan harinya. Apalagi air kolam renangnya air hangat.

Paginya, sewaktu Papa Mama dan Cece sarapan, gue sendirian berenang sementara Nat menunggu. Benar benar hanya gue seorang di kolam renang dewasa, selain sekumpulan bocah bermain di kolam anak anak. Habis mandi, gue, Nat dan bang Yohanes menuju kota Berastagi untuk sarapan di bekas bioskop Ria. Disana lumayan banyak pilihan makan pagi, cakue, bubur, nasi campur dan mie keriting. Kita sarapan mie keriting yang yummy dengan cakue. Yang khas dari mie Medan itu adalah adanya irisan telor ayam rebus masak kecap yang diiris dengan sebilah benang. Iya, dengan benang.

Setelah itu, kita sempatkan mampir ke Mikie Holiday sebelum menuju kota Medan. Hanya penasaran kepingin tau seperti apa theme park-nya, Mikie Fun Land. Konsepnya mirip dengan Hotel di Genting, tapi tentu skalanya lebih kecil. Tapi dari luar (ngga beli tiket) sama sekali ngga bisa liat ke dalam, jadi ngga tau ada apa aja di dalam.

Meluncur turun ke kota Medan, bang Yohanes menawarkan mampir ke pamandian air panas di kaki Gunung Sibayak. Karena penasaran dan masih ada waktu (Berastagi – Medan hanya 2 jam), kita setuju saja. Uang masuk (kemungkinan pungli) untuk menuju pemandian dipungut Rp 7,000 per orang, total kita bayar Rp 35,000. Di tengah jalan, ketemu penjual jeruk Berastagi, langsung kita mampir. Mengingat jeruk semalam yang enak banget, jadi pengen beli lagi, yang banyak :_) Ternyata malah lebih enak dari yang semalam, karena ini jeruk Berastagi Madu, lebih manis. Penjualnya setengah ngga rela menjual dengan harga Rp 8000 per KG yang sebenarnya sudah mahal, tapi melihat kita turis, bisa dimengerti dia ingin untung lebih.

Melewati jalan yang tidak mulus (so, buat apa pungutan di bawah tadi?), sesampainya kita kita di pemandiannya, amat kecewalah kita. Ternyata hanya sebuah pemandian kecil mau masuk harus bayar pula Rp 30,000 per orang. Jadinya kita hanya foto foto saja di sana. Yang menarik, ada sebuah PLTU disana. Memang uap di tempat ini mengebul ngebul mirip luapan uap lumpur Lapindo di Sidoarjo sana.

Tak lama disana kita melanjutkan perjalanan dan sempat mampir lagi untuk makan jagung sambil menikmati pemandangan kota Medan dari atas gunung. Yang unik disini, banyak sekali monyet, namun bukan sebagai peminta minta di pinggir jalan, melainkan menunggu lemparan jagung (atau bonggol jagung).

Buah Tangan Khas Medan
Terus turun melintasi jalan yang menukik dengan tikungan yang cukup tajam. Dari sini perjalanan mulai membosankan cenderung melelahkan. Apalagi rencana mampir makan duren tidak dapat terwujud karena ternyata tidak ada yang jualan duren sepanjang perjalanan turun ke Medan. Waduh. Untunglah tak lama, mulai memasuki kota Medan. Sesampainya di kota Medan, langsung menjemput Linda yang sudah membawa sekotak buah tangan khas Medan, seperti Pepaya Medan, Pisang Medan (Barangan) dan Markisa buah. Siang itu semua keroncongan. Atas saran Linda dan diiyakan seorang teman kantor lain yang juga bekerja di Medan melalui HP, kita memutuskan makan siang di Chinese Food Atek Botak. Disini makanannya sebenarnya enak, tapi kurang cocok dengan lidah kita orang Bangka (sebagian besar). Semua masakan terasa terlalu manis.

Perut kenyang, mulai kita mencari oleh oleh khas Medan untuk sanak saudara dan teman di Jakarta. Bika Ambon Zulaika, Bolu Meranti dan Bika Ambon ATI, yang ketiga tiganya berada di lokasi yang tidak berjauhan. Zulaika, yang amat terkenal di Jakarta, merupakan toko dan pabrik Bika Ambon yang dikelola seorang Hajah, yang berarti terjamin ke-halal-annya. Pun semua staff perempuannya berpakaiaan ala muslim alias berjilbab. Bolu Meranti sebenarnya hanya bolu gulung biasa sepeti bolu gulung lain yang bisa kita temui di mana pun di Indonesia. Bedanya, bolunya sangat lembut dan kejunya sangat berasa, yang membuat siapapun yang pernah mencicipinya pasti akan kembali membeli setiap berkunjung ke Medan. Gue aja yang kurang doyan keju, memilih yang keju, yang lain rasanya kurang enak. Ibarat kata, bukan Bolu Meranti kalau bukan isi keju. Sedangkan Bika Ambon ATI, lebih cocok untuk non-muslim, padahal belum tentu juga ngga halal. Masak bikin kue ambon pake bahan babi sih, ada ada aja. ATI ini letaknya di satu gang, penjual bika ambon semua, nah dia terletak di ujung jalan itu. Ada satu lagi yang menurut gue enak, yaitu bika ambon RIKA, bukan di gang ini, tapi ngga jauh letaknya, namun merk ini kurang terkenal sampai Jakarta.

Lepas itu, wisata kota Medan. Kesawan square dan Merdeka Walk tentu tak bisa dinikmati karena bukanya hanya di malam hari. Pilihan lain, istana Maimoen, rumah Tjong A Fie dan Gereja arsitektur kuil India, Maria Anai Velankani. Itupun rumah Tjong A Fie terlewatkan, karena masih nyari nyari teri medan yang ternyata adanya di pasar yang teramat sangat macet sembrawut.

Istana Maimoen lebih mirip rumah besar nan megah yang didiami bangsawan bergelar Tuanku dan Sulthan sejak tahun 1632. Mirip arsitektur Arab karena ada beberapa kubah di atasnya. Berwarna kuning mencolok, dengan sedikit warna hijau. Terdapat sebuah meriam peninggalan entah kapan, Meriam Puntung diyakini sebagai jelmaan seorang bangsawan yang berperang mempertahankan kehormatan adik perempuannya yang hendak dipersunting Kerajaan lain. Lengkap cerita tertulis di sebuah monumen yang dibangun di dekat tempat penyimpanan meriam.

Gereja Maria Anai Velankani, gereja katolik yang belum lama dibangun. Oleh seorang Pastor berketurunan India, Pastor James Bharataputra, SJ. Ketika bertemu beliau, dengan antusias beliau membagikan brosure gerejanya untuk diwartakan ke Jakarta, juga menunjukkan tempat air suci di bawah kaki patung Bunda Maria. Beliau juga menyempatkan untuk foto bareng kita. Very humble servant. Mengenai air suci di bawah kaki patung Bunda Maria, ada cerita di balik itu. Waktu pembangunan gereja, ada air yang mengalir terus tapi tidak diketahui sumber mata airnya. Dicari terus, ketemu, tapi ternyata airnya keruh. Suatu malam, Pastor James bermimpi, didatangi Bunda Maria yang mengatakan kepadanya bahwa, mata air tersebut ada di bawah kakinya. Ternyata benar, digalilah tanah dibawah kaki patung sang bunda, dan meluap luap air yang jernih bersih dan dapat diminum. Tak lupa kita mengisi air tersebut ke dalam bekas botol Aqua. Bangunan dalamnya tertulis ayat ayat kitab suci dalam 4 bahasa, Indonesia, Inggris, India dan China. Ada suatu muzizat yang terjadi menjelang pembangunan gereja ini, yaitu tidak terbakarnya uang sumbangan untuk pembangunan Gereja sebesar 10 juta, sebuah kitab suci dan rosario dalam suatu peristiwa kebakaran. Dan muzizat muzizat lain berupa penampakan sang Bunda di Velankani, India, yang bisa dibaca di sekitaran rumah doa yang diperuntukkan bagi sang Bunda.

Masih ada sedikit waktu sebelum penerbangan kita yang sengaja kita jadwalkan yang paling malam, duren Medan! Hehe, sampai bang Yohanes bilang, “tenang bu, duren ibu aman” karena memang Nat yang paling getol minta duren Medan. Kita dibawa ke suatu daerah yang mirip mirip pasar. Setelah mobil diparkir, langsung kita menyerbu tukang duren yang ramai berjualan di sana. Lapak jualan duren di Medan, seperti halnya di daerah daerah lain di Indonesia, menyediakan tempat untuk langsung makan di tempat. Bisa minta dipilihin yang manis atau kalau suka, yang agak pahit pahit sedikit. Kita minta dibukain 5 biji seharga Rp 50,000. Duren Medan memang tiada duanya, enak, lembut dan gurih.

Terakhir, sebelum menuju bandara, kita dimampirkan di rumah makan BPK (babi panggang Karo). Berbeda sedikit dengan saksang, babinya dipanggang dulu, kemudian disiram kuah yang mirip kari berwarna coklat pekat. Karena takut keburu pesawat, BPK nya dibungkus untuk makan di Bandara atau bawa pulang ke Jakarta.

Sesampainya di bandara Polonia Medan, memang agak membingungkan. Terminal ke berangkatan bandara ini sempat terbakar bulan Desember yang lalu, sehingga keadaan agak kacau. Pintu masuknya pindah ke belakang, counternya-pun amburadul, dan yang lucu, timbangan bagasinya menggunakan timbangan manual yang bulat gede lengkap dengan jarum penunjuknya. Selesailah perjalanan 3 hari yang cukup padat dan sangat menyenangkan. Tak sedikitpun rasa lelah membekas di wajah wajah para petualangnya. Tak terkecuali Nat, yang seharusnya lelah, di awal masa masa kehamilannya. Semua puas. Pulang membawa ceritanya yang sama, namun dengan sudut pandang yang mungkin berbeda beda.

Asal muasal Danau Toba
Dalam suatu kesempatan berbincang dengan Papa ketika berada di Feri. Papa terkagum kagum dengan awan yang menyelimuti bukit barisan. “Langitnya sangat dekat” katanya. Kerena kita memang berada di permukaan tinggi, sebuah bukit atau gunung. Dugaan kita, danau toba ini hasil letusan gunung yang amat sangat besar, mungkin ribuan tahun yang lalu. Ternyata memang benar, menurut Wikipedia, diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar ribuan saja.Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Sepanjang perjalanan meninggalkan danau Toba, mungkin ada 1 jam perjalanan lamanya pemandangan tak lain hanya danau Toba saja, dan ibaratnya laut, tak kelihatan ujung yang danau di seberang sana. So we wonder, berapa ya luasnya danau ini? 100km x 30km, dan diklaim sebagai danau paling luas se-Asia Tenggara, bahkan Asia. Sementara P. Samosir dipercaya sebagai asal muasalnya orang Batak. Warga asli P. Samosir sebagian besar bermarga Samosir.

Karo dan Tapanuli
Berbeda dengan Manado yang mayoritas warganya pemeluk agama Kristen, di Medan, mayoritas adalah muslim, dengan pemeluk agama Kristen yang juga hampir tak kalah banyaknya. Sehingga ada suatu pemandangan yang agak ngga biasa. Disini, rumah makan yang khusus berjualan masakan muslim, tertulis besar besar, ‘Rumah Makan Muslim’ sedangkan yang tidak menuliskan hal tersebut, hampir bisa dipastikan menjual makanan non-muslim alias haram bagi umat Islam. Makanan seperti BPK, Saksang, Lomok Lomok (daging babi muda atau anak babi), tertulis besar besar di depan restaurannya. Menurut bang Yohanes, yang asli Ambon namun yang sejak lahir tinggal di Medan dan menikah dengan marga Sipayung ini, mayoritas orang Batak ada 2, yaitu Tapanuli dan Karo. Tapanuli kebanyakan tinggal di Medan, Siantar sampai ke Parapat sana. Sedangkan di Berastagi akan banyak menjumpai warga Karo.

Horas adalah sapaan awam orang Batak Tapanuli. Artinya, salam, selamat datang, selamat tinggal, selamat pagi/siang/malam, Tuhan memberkati, semoga sehat walafiat, dan banyak lagi yang bagus bagus. Sama halnya dengan sapaan khas orang Batak Karo, Majuah juah yang artinya kurang lebih sama. Selain kedua kata itu yang gue inget, ada kata lain seperti: Pajak = Pasar. Pasar = jalanan di depan pasar. Lomok lomok = anak babi / babi muda. Mendurung = meminta sumbangan di tengah jalan pakai jala, biasanya untuk pembangunan Masjid.

Yang terlewatkan
Sewaktu kita bersantap di restaurant Acek Botak sambil berbincang bincang dengan Linda, terbersit penyesalan yang sedikit merusak kesenangan dan kepuasan perjalanan kali ini. Namun, salah siapa, memang waktu yang kita atur (dan yang kita punya) sangat tidak memadai untuk semua keindahan Sumatera Utara, terutama di danau Toba dan P. Samosir. Selain air terjun si piso piso, ternyata masih ada beberapa tempat, terutama di P. Samosir yang terlewatkan. Menurut cerita Linda, tak jauh dari Tuk Tuk itu ada sumber mata air yang konon memiliki 7 warna. Juga makam tua raja Batak yang bernama Raja Sidabutar, yang ternyata letaknya hanya di atas sedikit dari kios kios jualan souvenir di Tomok. Berarti situs yang terlewatkan oleh kita ternyata hanya sebatas jalan kaki saja. Amat sangat disesali. Juga sebuah legenda yang terlewatkan, yaitu Batu Gantung yang seharusnya bisa kita lihat ketika menyusuri danau Toba. Satu lagi, yaitu TWI, Taman Wisata Iman, tak jauh dari lokasi air terjun si piso piso.

Pulang, ngga lama, langsung gue melakukan searching di internet, what have we missed. Ternyata ngga semua kok. Gue sempet masuk ke beberapa situs wisata Samosir maupun Danau Toba, tidak menemukan apa apa tentang mata air, apalagi 7 warna. Namun, sedihnya, yang lain semuanya nyata, dan di situs situs itu dipromosikan dengan sangat indah. Maybe next time :_P

29 Oktober 2007

About QA and My Assignments

Since I joined QA team about couples of years ago, the pattern of my life have been changed a little bit. I’ve become a traveler, or more a business trip-per. I work out-of-town more than in Jakarta, sometimes no work at all back in head quarter office. Last week could be in Medan, back to Jakarta for a week and then could be in Surabaya the next week. I probably stayed in hotel more often than my own home for the past 2 years. I go more places than before. People said that being auditor can offer you the most experiences of traveling (at Company’s cost, of course) than other any profession. Well, I guess they’re right. This has been kind of exited for me, for now. I’m not sure that I still have the same excitement after another one year doing like this. Until then, let’s just enjoy all the possibility offered by life.

Well, maybe I not yet been to so many places as others might been to. Or not to a places that so different than anybody else. But this has been enough to make me feel thankful. To open my eyes to many beautiful places in Indonesia, even abroad. And a little proud too. I mean some people are perhaps know Timbuktu better than let say, Guigang or Tanah Grogot (I was, 3 years ago). Now, I have chance to go there. And the amazing thing about it, I am not just go there as a tourist, I have a chance to feel what is it like to have a life like them, to live their life, something I always wanted so much for so long.

The job, the people I’ve met, the food, and of course, the beautiful pictures I’ve taken, which also can be viewed at http\\ajnatz.multiply.com. Ohya, about the job, I will tell you as little as possible so you don’t get boring too much, or not, cause I probably have nothing to say about the job. As one of my co-worker often said to me at 5 PM before we leaving the office, “another ‘hard’ working day” with a big grin coming out of his face.

I don’t really want to work here
I joined QA team 2 years ago, as I said in the beginning. I was offered to an accounting supervisor position by this local, seldom heard, not located at Sudirman, Thamrin or Kuningan-Company. I got a feeling that they will hire me, but I will refuse them at the very end of the recruitment process which could took a long time. So, this could be a waste of time, both for me and the Company. But, considering I am an unemployment at that time, with all respect to the karma, I come to the very first interview. Like I often said, if you refuse to answer the call of interview, you might not get one when the time you need them bad, that’s karma. So, I came.

The title “accounting supervisor” it self has frighten me. Supervisor? I’ve been an Assistant Manager before. And Accountant? My God, did I mentioned why I was unemployed at that time? Because I couldn’t stand being an accountant. Yes, I quit the job as Finance and Accounting Assistant Manager at an MNC (Multi National Company), everybody heard off, and located at Kuningan-Company after working there no longer than 2 months. I’m sick of accounting! But, as I said above, I came.

But maybe it’s true that this is my destiny. On my first interview, they change the offer to an internal audit, they call it QA here. QA = Quality Assurance, later change to Corporate Assurance but people still like to call it QA instead of CA. And at the very end of interview, they higher my position to become an assistant manager (ass-man ha ha), maybe because of the salary I asked is in that level.

It’s not really a team when I first stepped in the QA. Just two of us + one Senior Manager, an India. As soon as he leave us (resign from the Company), we prepared our schedule ourselves, developed the report, working paper and new way of work. Now, there are four of us in the team. Me, Roy, Darwin in Jakarta and Agung located in Surabaya. None of us is head, and as a youngsters, we work in a fun way, as long as we can deliver what our boss, which is the owner of the Company, want. The Company has branches spread all over Indonesia from Medan to Bali. Also there are subsidiaries in Sumatera, Java, Sulawesi, even in GuangXi Province, South of China. Anywhere there’s a company owned by our boss, that’s where we assigned (ourselves) to. Below is the detail stories of each location I’ve been to.

Surabaya
There’s a branch and 4 subsidiaries here. Actually my boss’ business was started here from a small chemical store. During 2006, I spend more of my time in Surabaya than in Jakarta. I assigned to Surabaya more than my other assignments. That’s make Surabaya my second city, and Somerset hotel have been a second home for me. But actually, I’m not always work in Surabaya during the assignment, there’s a small city +- 60 KM from Surabaya called Pandaan, very near to Pasuruan, but I often stay at Somerset, a four star hotel located at Kupang Indah.

From Jakarta to Pandaan through the highway is about 45 minutes. The highway across the location of Lumpur Lapindo, one of the nation disaster that haven’t been solved until today. I have been a witness of this big disaster from its very first day happen. When the smoke is still as small as rubbish burning. Now, the highway is closed. And the Lumpur Lapindo has become not only local news headline, but also international headline. I show you the picture taken from news and other picture taken by me :) Now going there has took more than 45 minutes as before. Now could took me 2 hours, sometimes even worst, to get there from Surabaya. There is a period of time that I chose to stay at Hotel in Tretes, mountain range near Pandaan (only 30 minutes). I’d stay at Hotel Surya, owned by Gudang Garam. Old hotel, quite spooky there. But when you wake up in the morning you can smell the morning dew and feel the pleasant cool weather.



Somerset has been my second home during 2006. Some of the employee even indeed recognize me. I choose to stay here because near highway gate to Pandaan, so I don’t have to spend more time in the city traffic. At the evening, not hard to find the food or place to hang out. Very near to the hotel, there’s plenty of fine restaurant serving Chinese food, Noodle, Sea Food, Steaks etc. Some of them are quite famous in Surabaya, such as Nasi Udang Bu Rudi, Bebek HT, Kepiting Cak Gundul, Fajar Noodle House, XO and Jade Imperial. Not far from the hotel, there’s a kind of high class pujasera, and Sea Master restaurant are there. One of my favorite sea food restaurant. Or, I can take a 15 minutes taxi to Supermall (PTC), there’s a fine Chinese restaurant there, one of the place I always return to, La Shang Wei. Their pork ribs coated with honey is fabulously delicious. I also eat once at BonXo before they closed. I don’t understand why they have to close it. The place is nice, the food too. Not very far from Supermall, there’s G-Walk, a street with many choices of restaurants and foods that only open at night. Located in the Citraland residential, the place is safe, cozy and can be very relaxing. I ate at Hachi Hachi Bistro, Japanese style of steak and sushi, a couple of time, also ate once at Restoran Khayangan, a Sundanese and Javanese style restaurant. I remember there is a grandiose Catholic Church near there.

What other good food in Surabaya…. Hmmm Let me think for a while… Ow, I like Ayam Penyet Bu Kris so very much. In fact, our company’s driver has know where to take me lunch, “Ayam Bu Kris, pak Andi?” yes, hot and spicy. Also Ayam Goreng Pemuda, Ayam Goreng Presiden and Ayam Goreng Hartono. Though they all taste the same but I enjoy eating them. Not so crispy but they sure yummy… Beside the above, there’s still some places that offer a good food, such as warung ijo in Pandaan or Soto Banjar at Tanjung Perak which I happen to eat this afternoon. The Soto taste real good, not to mentioned the sate, with best quality peanut sauce. Other place that quite famous here is Kya Kya road, only open at night, because at night the road is close for car and motorcycle. The foods are mostly Chinese food, because Kya Kya is located in China Town (Jl. Kembang Jepun). I only past the street a couple of time. Haven’t try the food, people told me the food not so special.

I know quite a lot now, don't I? he he.. When I first assigned here, there’s only little things I know about the food. Thanks to my cousin, Jamie, who introduce me to most of the above. She’s a young freelance designer who like to eat. In fact, their family owned a restaurant themselves. Depot Sehat, located at Mayjen Sungkono. Chinese/Medanese food which cooked specially by the father himself. Special Menu is Ayam Goreng Bawang Putih, crispy and taste good in your mouth.

Ohya, beside stayed at Somerset and Hotel Surya, I also been stayed at Plaza Surabaya Hotel, Garden Palace Hotel, Novotel Surabaya and Hotel Elmi. In fact, right now, I’m writing this blog at Garden Palace. There's legendary ice cream house (Zangrande) just outside the hotel. If I were in Somerset, I probably been drinking Forever Tonight while writing this. I remember one night, when four of us (complete QA team) have a chance to have dinner at Terakota Restaurant, Somerset level 2, I recommend the drink Forever Tonight to them. From then, Forever Tonight have been a favorite drink of QA team. About Garden Palace, I like the breakfast buffet. Elmi, no comment, I stay there only one night, and that is because I cannot have reservation at other Hotel. Plaza Surabaya, I don’t like. Although I stayed there many times. The felling when being in the hotel is not comfortable to me, I don’t know why, maybe because I have a bad dream once in here. But one thing good about Plaza Surabaya, the café is great, open air, and they play a sound of birds in the morning.

The language, you don’t have to be able to speak Javanese here, most people can speak Indonesian. However, I learn a view of simple Javanese words my self. Like sampean = you, ghetok = see, ono = there is / have, ora = no, akeh = a lot/many, muleh = go home, mangan = eat, etc.

Some of the tradisional food in Surabaya:
1. Rujak Cingur = this one is #1 traditional food here. You haven’t come to Surabaya if you haven’t try this one. Me my self haven’t tried it, and probably never will. If I told you what it made of, you would probably agreed. Cingur means nose, yes, the main component of rujak cingur is cow’s nose. Others are vegetable with peanut and chili sauce. I like vegetable with peanut sauce like many other traditional food in Indonesia (Gado gado / karedok / pecel) but please remove the nose, I mean the cow’s nose… iyach…
2. Lontong Balap. This one I’ve tried. Lontong = steamed rise in a pandan leaf. Eat with cockle and a lot of chili.
3. Tahu Campur. Bean-curd with cow’s inside (lungs, intestine, liver, complete)
4. Semanggi. This is semanggi leaf in peanut and cassava dressing.
5. Rawon. Stewed meat with dark liquid.
6. Sate Kelapa. This is originally from Madura.
From what I’ve been tasted, Surabaya’s foods are relatively so-so. Maybe my tongue is different from the Javanese.

About the work. We have a branch at Jalan Sumatera, a logistic company (shore tanks and warehouse) at Tanjung Perak, a glue manufacturer at Rungkut (SIER), and 2 starch fabrics located at Beji (Pasuruan) and Pandaan. The last one is the most often visited this last 2 years. During my assignments in Surabaya, I've been inside the empty shore tank and climbed up to the top of HMC (Harbour Moveble Crane; which used to moved containers). Also I've been on top of shore tank to do the stock taking.

Ponorogo
2 things about Ponorogo. Beautiful sun rise and great taste chicken satay. From the first day I arrived in Ponorogo, they’ve been suggesting sate Ponorogo to me, to bring home. This is one thing they very proud of.

The beautiful sunrise is because Ponorogo is surrounding by hills and mountains, that makes the sun beautifully rise from one of those hills/mountains, giving a tremendous picture when the gleam touches the field of rice down below.

I go there twice, last year July and early this year. My company own a starch manufacturing company, which quite famous here. The local called us “pabrik telo” which means “cassava manufacturer”. I was told that when we first here, Ponorogo really a village, not many people lived there. Now, with the exist of our company, the economy of the surroundings is lifted higher and that’s attract more people to come. I can say that we are the only big factory here, no other.

The company’s by product is pulp (waste, dregs of the cassava). Some of these pulp are given for surroundings for free, they can come to collect it at set time, twice a day. The pulp has a very unpleasant smell, but yet can make money by selling it to the factory that made animal food.

Near Ponorogo, there’s a St. Marry cave, which I never go there. I would really to, but Pak Santoso (one of the employee) told me that the road at that time is very slippery and not an easy road. He told me about story of a little girl once fell in to the deep and dark valley. A few days later, when everybody, including her mother, though they would never see her again, she came home safely, nice and clean. On one occasion, her mother took her to her friend’s home, a catholic. When she saw a statue of the holly Marry at the house, she jumped out and said, “Look Mom, that was the person who saved me from the dark valley.” They built a St. Marry cave on same location the girl was missing. Nice story.
In one Sunday morning, I have chance to went to the church, holly marry church. And when I tough that no Chinese in the town, I met a lot of my kind here, in the church. But all spoken Javanese. The Javanese here is main language. Unlike Surabaya, not many people can speak Indonesian. I have to learn one or two words here, like unju’an = drink; sundu’an = satay.

First visit, July 2007, I have a chance to go to Sarangan. A lake on top of the Mountain. Cool view, but not a cozy place for holiday. The water in the lake is dirty with oil dropped from poor maintenance boat. And very crowded, with village people, people selling traditional souvenir, and cars parked there. However, at least, I’ve been there. And eaten Sate Kelinci (rabbit satay) and Jagung Bakar (roasted corn). I even bought two Kuda Lumping (horse decoration made from coconut leaf), each complete with the whips.

And they really proud of the Satay (Sate Ponorogo). Both time, they pack 50 pin of satay for me to bring home. And something about the satay, the chicken is big, bigger than ordinary satay, and the taste is sweet, one said, they used gula merah to cooked it first. The sweet taste must influenced from Middle Java, because although Ponorogo is located in East Java, it is the nearest city to Mid Java. There's a narrow street called Jalan Sate which full with restaurant selling sate Ponorogo, but only one is famous amongs all Tukri Sobikun.

About the city, it has a lot of crossroads, and each crossroad has a statue. If you new here, or long time not coming, you will be dazed. You will find hard to differentiate one crossroad to another. I did.

Anyer (Banten) and Tanjung Priok
At Anyer, we have tank terminal and transport division for one of the private company serving petroleum in the gas station. Of course it’s located on the off shore of Anyer, not far from Carita. We know a location with good view and often go there to take pictures.

There’s a restaurant serving seafood called “Flamboyan”, with special menu fish head cooked with traditional spice. The fried fish as well delicious, cause the fish is fresh. The restaurant also serving lalapan (uncooked vegetables), tempe and asinan (salty fruits) which bring up the appetite, and we can take them as much as we want for free.

At Tanjung Priok we have tank terminal at the port and warehouses at Jalan Marunda. On the way to Marunda, there’s a delicious Padang restaurant, Caniago, with special crispy shrimp. On the port, we always ate at Saio Sakato, also a Padang restaurant.

Lampung
I go there three times. Once last year and twice this year. We have tank terminal at Panjang port and a starch manufacturer (just like one in Ponorogo) at Lampung Timur. First time here, I’d stayed at Sheraton Lampung, this is really a fine hotel, I must say. I enjoy there very much, the pool view was great. Although no fine restaurant near the hotel, it doesn’t matter, because having pindang ikan for dinner at the pool side is really something. Stay 2 nights at Sheraton Bandar Lampung, I moved to other city in Lampung called Metro, second big city after Bandar Lampung. In Metro, I stayed at the office that use also for residence. At that time, the fabric located at Way Sekampung was still under construction. Way Sekampung is about 50 Km from Metro. I go there to visit the under construction plant and also the cassava farmers that being our partner to support cassava when the plant is ready to operate. They are true villagers that very nice and welcome us. Most of them originally from Java, when Soeharto’s era of transmigration. There are 2 kinds of Javanese in Lampung, from transmigration (Soeharto’s era) and from colonial (Dutch era).

The second time here is to audit the Way Sekampung project. The three of us coming here, me, Darwin and Roy with a driver (we coming by car, through Merak – Bakaheuni). This is one hell of experience. We can eat durian with very cheap price, due to Durian season. Fresh fish in pindang ikan and lalapan. Also pete, just freshly picked from the farm, and can buy it directly from the farmer with unbelievable cheap price, only Rp 20,000 for more than 100 shaft. The good thing about it, since we came by car, we can bring them home with us, durian, pete, and of course, the famous Lampung original coffee. Also, Lampung snack from Yen Yen shop. There’s one person here, that we admire a lot for the way he ate. Samsul. You will admire him also if you saw him eat. He has a small body, maybe only 155 cm height. Can eat twice even three times as much as normal adult. We always wonder where the food goes.

The third time is operational audit. This time we (me and Darwin) came by plane. Not much experience this time. Not durian season and not pete season also. The second and third visit, we stayed at Metro Pacific hotel, with one cute receptionist girl (Dessy) who driving Darwin crazy.

Manado
From all places I’ve been during my assignments, this one is the one I want to share the most. Who don’t know Manado, one of the place that attract so many tourist, especially because of the amazing coral reef under the clear water sea in Bunaken. And the excitement was doubled, because my Natz also come with me, and all on the Company’s account !

Me and Natz were assigned to Manado at the same time. Very lucky! Not quite. Actually, I assigned my self to Manado at the same time Natz going there for a seminar. How do I do that? This is QA, everybody act a boss for themselves. Natz going first, after a view days, I come. We both set the date that make possible for us to extend on holiday.

My company owned the one and only golf course and driving range in Manado. A piece of cake, an easy audit. I complete the job and the report in three days. That’s left us another 3 days to enjoy Manado. Actually, not only for ourselves, I also doing the work, verifying the land owned by my boss, to make sure that the land is properly taken care. We were accompany by Mannopo’s family, Pak Jimmy Mannopo and wife, and sons, Haryanto (bobo) and Adi. Also accompany by Pak Iwan and Pak Yapi.

First adventure is Minahasa High Land. We visit Bukit Kasih. The hill that symbolized the harmonious of the five religion in Indonesia, Islam, Christian, Catholic, Buddhism, and Hindu. Before headed there, Pak Jimmy take us to see the new residences complex built by Ciputra (Citraland). Will be huge, I think, similar to Citraland in Surabaya.

Kasih means LOVE. Below the hill before we start climbing up, there are monument with 5 angle, each symbolized one religion. At the top of the hill there’s a momentous statue of cross, symbol of Jesus for Christian. But, unfortunately, due to rain, we not climb up to the top. In the middle of the hill, there are five prayer houses for each religion. Down to the other side of the hill, there are natural hot water. In some spot, the hot water is boiling, you can even cook eggs or cassava in the water.

Down from Bukit Kasih, there’s a lake named Tondano. We stopped to relax and take picture. And in the other side of the lake, there’s a restaurant with lake view. Great view, especially at evening. When we ate there, there’s a video making of Manado local singer, singing “Kisah kasih di sekolah” in Minahasa language. I learned that ‘bifi’ is and ant. "Malu aku malu, pada bifi merah" he he

Second day, Bunaken ! But I don’t dare to do the diving, because I’m can’t swim and I’m too afraid of drowning. Fortunately, for people like me, there’s bottom glass boat, and better than bottom glass boat, is Blue Banter, a side glass boat. There’s room under the boat, down the sea, and we can see through the side glass, not bottom glass. Quite expensive, but all paid off ! The coral reef was amazing. Not to mention the fish with many kind, color, and size. We also lucky to see a Napoleon fish that day. Napoleon fish usually so shy and very seldom to show up.

Enough seeing those stuff, Pak Jimmy and wife come and take us (and Adi) to Siladen island. We’re not stopping at Bunaken island, because Natz, that already been there, told me that Bunaken island has nothing to see. But Siladen is really something. Very nice view, white sand beach with very clear sea water, and the land looks still not much touched by human. However, the heat was killing. There are three island near to each other, Bunaken, Siladen and Manado Tua (is an inactive mountain). We have a good time, but already very tired when Pak Jimmy invite us to eat Paniki at his house. I have to say no, because that night, beside very tired, I have stomach ache. Actually, I wanted so much to taste Paniki (bat cooked with dozens of chili), Manado traditional food. But, I’m afraid that it will make my stomach more ache due to very spicy.

Day three, we visiting ex factory that used to produced smocked fish and export to Japan. The factory now closed and abandon. But the position of the land is good for a restaurant (facing the beach). From there, we headed to Hotel Sedona, the five star hotel in Manado. Natz were staying here for the seminar, before she moved to stay with me at Hotel Grand Central (three star hotel). Then we went to Wisata Bahari to have lunch. After that, we went to UD Kawanua to buy a view gift for people back home. Klapertart pie, peanuts, and other snacks.

Here, the religion life can be considered very harmonious. A lots and lots of Churches here. Nearly every corner, there is a Church. Majority of Manado people is Christian. Pak Jimmy even has raise a fund to build a church near the golf course. Beside religious, Manado people is famous of like party, like to eat and having fun of life. A lot of fine restaurant here and the place were designed to be a cozy place to hang out. I notice that almost every restaurant have music entertainment. This is because Manado people like to sing and good in singing. Pak Jimmy himself is one of the good singer. He never missed to sing every time we went dinner at the reataurant.

Manado’s food is mostly about sea foods. Some of the fine restaurant I have tasted:
1. ??
2. Sukur Jaya (famous with Napoleon fish head).
3. Restaurant Nelayan
4. Wisata Bahari
5. Soto rusuk babi (pork rib) at Manado Town Square

The other thing that I have a bit regret beside not eating Paniki, is not trying to play some golf, or just a swing or two in the driving range. I won’t missed that in my next visit. But in overall, Manado TOP.

Bandung
Bandung is a fun assignment. It’s all about food and factory outlet and of course, the famous brownies kukus. Going by train I can see the hill and river view along the way approaching Bandung. It took approximately 2 hours from Jakarta.

We tasted some good food at Sari Sunda, Batagor Kingsley, Laksana (at Cibabat, Cimahi), Madame Sari (Kartika Sari’s restaurant), and enjoy great view and cool weather at the Valley restaurant. The street musician playing accoustical jam is what I like from Batagor Kingsley at night.

We stayed at Grand Pasundan. On the last day, we don’t want to missed the factory outlet + buy some snack from Kartika Sari and Amanda.

Medan
Our company own a tank terminal at Belawan Port. I came with Roy and Reza Rajasa. This was the first time for all of us to Medan. First night, we stayed at Novotel Medan, then moved to Grand Angkasa (the only 5 star hotel in Medan).

Medan has a great food, unfortunately we here during Ramadhan. Due to Moslem people is fasting, not many restaurant open as usual. For example, Uda Sayang, a famous Padang restaurant is closed for the whole month. But, whichever restaurant is, the seafood is great. We also have chance to taste the Batak grill, the famous lapo (pork cooked with pig blood). We also order pulos pulos, papaya flower cooked with spices. Taste real good, TOP, yummy. Also the famous porridge buffet at Grand Angkasa Hotel, which only served at night, from 9 PM to 00 AM. Not bad, but not as delicious as we expected, just a little bit disappointed.

Durian Medan also one of the famous. Is Eddy (head of branch) who treat us here. After eating durian, he took us to Merdeka Walk. Nothing special there, the food not so good also, that’s what Eddy told us. So, we didn’t eat here, just take a look.

Special gift from Medan: Bika Ambon and Bolu Meranti. Only one store selling Bolu Meranti, but Bika Ambon, there’s plenty of store. Eddy took us to a street which full with Bika Ambon seller along the way. The famous one is ATI and Rika. In my opinion, Rika taste better.

Medan has been my next honeymoons destination. March 2008 ticket already in hand. People told me that Danau Toba is great. We can’t wait.

Guigang, Guangxi, China
I want to write this story separately. It has it own excitement :)

Conclusion
I enjoy my job very much. Among my friends who has the same level in KPMG, I could be the one who get the tiniest paid. But my life now is balance between work and enjoying life, which I never experienced before. I enjoy my life, I’m living it now, not later when I have ‘enough’ money, which probably would never will. I mean, how much is ‘enough’ when we talking about money. I work for my family, not for the money. For me, investment not just money or property, or any other assets. A happy and balance life for family also an important investment.