21 Mei 2008

TRETES RAYA ****

click above title for photos related to this blog
This blog supposed to be posted on April 2008, but due to busy time in China, just posted now :_)

Ngga menyangka akan semenarik ini. Satu dari 2 hotel berbintang 4 di wilayah Tretes, Tretes Raya Hotel & Resort, terletak di dataran tinggi Prigen (kaki gunung Arjuno, Jawa Timur), 700m diatas permukaan laut, menawarkan suasana yang sejuk dan tenang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Seperti iklan aja. Sekitar 1 km menjelang hotel ini, di jalan jalan tanjakan dan agak berliku, sudah tampak beberapa orang penduduk setempat yang meneriaki “vila, vila” sambil tangannya nunjuk nunjuk, mirip pemandangan di jalan jalan ke Puncak, Jawa Barat. Dan ketika mobil yang mengantar gue minta berhenti di depan hotel Surya untuk mengambil uang di ATM BCA, seorang bapak berpakaian kemeja merah muda tak segan menawarkan, “bos, bos, mau temen…”. Spontan gue mengangkat tangan dan “ngga mas” dengan sesopan mungkin, menyembunyikan sewot. Sopir yang ngantar gue cerita, waktu gue ngambil uang di ATM, sempat ditanya, “itu, bosnya ngga butuh ‘temen’” Sopir yang nganter gue jawab, “ngga tau deh”.

Dari tempat tarik uang di ATM BCA itu, persis di depan Hotel Surya (milik Gudang Garam), sudah kelihatan billboard besar dengan gambar wanita cantik bertuliskan ‘Tretes Raya Hotel & Resort’ 200m +- 1 minutes panah ke kiri. Begitu belok ke kiri langsung ketemu jalan turunan agak tajam dan berkelok kelok. Sepanjang jalan itupun tawaran vila dan ‘teman’ ngga menyurut. Bahkan ada satu sepesa motor yang mengekori mobil kita sambil menawarkan kedua hal tersebut. Kind of annoying.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Pandaan, melewati Masjid arsitektur China (yang waktu itu belum diresmikan), Candi Jawi, Wisata Air Terjun Kakek Bodho dan Hotel Surya; ketemulah Hotel Tretes Raya. Ngga seperti hotel berbintang lainnya yang memiliki rute mobil masuk yang tampak megah atau tanjakan yang elegen untuk mobil tamu menuju lobby. Bahkan cenderung menurun dan agak sempit, hanya cukup untuk 1 mobil. Sehingga kesan pertama, yah, hotel kecil, what do you expect, bintang 4 daerah Tretes gitu lho… Beda banget sama Hotel Surya yang jalan menuju hotelnya dibuat lebar dengan tanjakan menuju hotelnya yang dari bawah terlihat megah. Hotel ini ngga. Yang unik cuma patung seorang wanita bernuansa Romawi, membawa gentong dan airnya mengalir ke kolam kecil yang ada di bawahnya.

Masuk ke lobby harus melewati sebuah ruangan dengan business office di kiri dan toko souvenir (kebanyakan pernak pernik Chinese) di sebelah kanan. Di ruangan ini sudah disambut nuansa Eropa Romawi Kuno (Contemporary Roman Luxury – kata brosurnya) dengan patung patung manusia setengah telanjang yang mirip dewa dewi jaman Yunani kuno. Beralan ke arah kanan, terdapat pajangan pajangan bergambar Dewa Zeus, Hercules, Apollo dan Aquarius, barulah ketemu lobby-nya.

Pindah sampai 3 kamar
Ternyata gue dibookingin kelas deluxe (kelas yang terendah), gak apa apa sih, di hotel lain juga gitu, asal bintang 4, kelas deluxe udah cukup OK kok. Ternyata salah. Gue dikasih kamar dekat sekali dengan lobby, kamarnya rada pengap. Nyari nyari AC, duh ternyata ngga ada (what?). Ternyata kelas deluxe memang ngga pakai AC, hanya kelas Superior ke atas yang ada AC. Kelas Deluxe cuma dikasih exhouse fan. Mentang mentang daerah ini dulunya dingin, sekarang sih ngga lagi.

Karena pengap, gue minta pindah ke kamar Superior yang ada AC. Dikasih kamar lantai 3 dan yang menghadap Taman. Memang ruangannya lebih besar, ngga pengap, tenang dan view-nya lumayan, tapi kok gue merasa agak agak merinding ya… Belum lagi foto nuansa Barat kuno, seorang wanita berbaju putih yang sedang duduk lesu dengan latar belakang rumah tua. Kind of scary for me. Ngga tau deh gue bisa tidur ngga di ranjang yang tepat berada di bawah foto itu.

Karena lapar, gue decide untuk ke restaurant dulu, pesen makan malam. Gue pesen Mie Goreng Hongkong dengan Sup Jagung Kepiting. Sembari nunggu pesanan datang, gue berkeliling sekitaran Hotel, mau liat liat. Di malam hari memang rada spooky. Lantai 1 tampak gelap, lampunya dimatiin semua. Setelah berkeliling, gue menyimpulkan hotel ini memang bagus. Tapi, dalam hati gue, jangan mengambil gambar (foto) apa pun. Takut ada yang ikutan kena potret he he he. Kembali ke restaurant, sambil makan Mie goreng hongkong yang lebih mirip mie goreng indomie dikasih daging dan sedikit udang dan sayur, gue bincang bincang dengan pelayannya. Dia bilang ngga kok, hotel ini ngga ada apa apa (yang nyeremin, maksudnya). Kalau mau, bapak pindah aja ke bagian atas sini (atasnya restaurant, atasnya lobby), lebih terang, Pak, kalau sebelah sana (pintu utama), rada berisik, dekat jalan.

I took his advice. Habis makan, gue langsung menuju lobby yang letaknya tepat di atas restaurant. Muka Mas-nya langsung bete pas gue minta pindah kamar lagi, kali ini gue mau pake liat dulu pula :_P Tapi yang diatas lobby ternyata hanya kamar kelas Suite. Akhirnya gue ambil kelas Deluxe lagi tapi yang di atasnya pintu utama, walaupun berisik sedikit, paling ngga ngga pengap dan yang penting lagi, ngga spooky. Malam itu, walaupun ngga terlalu berasa spooky, tetep aja tidurnya ngga tenang, bahkan sekali terasa kaki seperti dikitik kitik, ah pasti serangga apa lah itu, pikir gue yang udah setengah sadar.

Nasi goreng Tretes Raya
Sepanjang malam tidur ngga nyenyak, bahkan bermimpi terus. Mimpinya ngga jauh jauh dari hotel itu, tapi bukan mimpi serem, mimpi biasa. Paginya, gue terbangun jam 5an. Ternyata sudah terang, seperti udah jam 6 di Jakarta. Begitu buka jendela, view yang luar biasa menanti di depan mata. Langit sedikit jingga, dengan pohon pohon cemara menghias pegunungan yang tampak menurun. Kolam renang berwarna biru menghampar dari dekat jendela hotel menurun ke bagian ujung dari hotel, disana ada tempat untuk duduk duduk melihat ke bawah lembah. Di depan kamar gue pun ada tempat duduk duduk nyantai menikmati pemandangan pagi atau sore, enaknya sambil nge-teh atah ngopi. Dari sini, gaya arsitektur Roma kuno dan Yunani tampak jelas. Bagus.

Jam 7, gue turun untuk breakfast di Dynasty Restaurant, tempat yang sama dengan tempat dinner semalam. Ternyata ngga ada sajian buffet, pasti karena tamunya terlalu sedikit. Pagi itu memang terlihat hanya 3 meja yang terisi tamu yang sedang breakfast, termasuk gue. Pilihan menu breakfastnya cukup beragam. Ada American Breakfast (telur dengan pilihan scrambled/omelet/dadar, ditambah sosis dan ham, dengan roti panggang, butter dan strawberry jam. Ada pilihan Oriental, yaitu bubur ayam. Indonesian menu dengan pilihan Soto Ayam, Rawon, Nasi Goreng Tretes Raya/Hongkong/ikan asin, Mie goreng/kuah dan bihun goreng/kuah. Sangat beragam, dan semuanya sounds yummy. Jadi bingung mau pilih yang mana. Untuk hari pertama ini, gue decide untuk coba nasi goreng tretes raya dulu, pengen tau seperti apa. Habis pesen breakfast, gue ngga bisa nahan diri untuk keliling liat liat dan photo photo. Agak nyesel juga sih ngga bawa tustel, cuma bisa photo pake HP Sonny Ericsson W810 gue yang udah pencetannya rada susah, hasilnya pun pastilah ngga sebagus photo pakai tustel even pocket kamera sekalipun.

Balik dari photo photo, kembali ke meja breakfast, sudah tersaji nasi goreng berwarna merah tertutup telor mata sapi, dengan sepotong ayam dan kerupuk udang. Masih dikasih compliment berupa telur omelet dan segelas kecil jus sirsak. Abis menu utama, selalu disajikan buah buahan sebagai penutup.

Berenang di air es
Malamnya, pulang dari kerja agak larut, sudah hampir jam 8 malam. Langsung menuju Dynasty restaurant untuk dinner. Bukannya ngefans banget sama restaurant ini, di luaran memang susah nyari makan, jarang ada restaurant yang representatif, belum lagi menghadapi calo calo yang nawarin ‘teman bermalam’. Malam itu gue pesen kakap asam manis dan gado gado. Kakap asam manisnya OK, sayang gado gadonya agak kurang bumbu, rasanya amat tawar. Jus jeruk + nanas yang gue pesen juga rada pahit, jangan jangan kecampur kulit jeruknya :_P

Ngobrol ngobrol dengan si pelayan, okupansi kamar malam itu hanya 2 kamar, termasuk gue. OMG. Tambah serem deh gue he he. Ngga lupa gue nanya tentang kolam renangnya apakah bersih dan aman untuk berenang. “Oh, bisa pak, kolam renang kita air alami, tanpa bahan kimia pak, diambil dari air pegunungan dan dikuras 2 hari sekali” Wow, gue jadi amat tertarik untuk berenang. Apalagi memang kolamnya sepi, itu yang gue paling suka :_P

Pagi berikutnya, jam 6 pagi, bangun langsung gue menuju kolam renang. Kolam renang ini terdiri dari beberapa bagian. Bagian anak anak, 2 buah kolam kecil untuk whirlpool (tapi saat itu tidak berfungsi), kolam untuk orang dewasa yang bisa berenang (kedalamannya gradasi sampai maximal 3 meter), dan yang terakhir kolam untuk orang dewasa yang ngga bisa berenang (merata sebatas pundak). Total semua kolamnya cukup panjang, mungkin mencapai 10 M panjang semunya. Terdapat sebuah luncuran yang cukup tinggi dan berkelok. Tapi gue ngga mau ambil resiko nyoba itu. Takutnya tengah jalan ada sesuatu, kotoran atau apalah.

Memang ada billboard bertuliskan air dalam kolam renang ini alami, dan diambil dari pegunungan Welirang 6KM jaraknya. Tapi ada yang ngga kalah pentingnya yang belum tertulis, yaitu: Awas, airnya (amat) dingin (menyerupai air es). Sungguhan, gue belum pernah berenang di air sedingin itu. Kira kira seperti air aqua yang baru dikeluarkan dari lemari es. Ngga sih … mungkin cuma setengahnya. Intinya sih, dingin banget, tapi masih bisa untuk berenang kalau dipaksakan. Ngga bertahan sampai 20 menit gue berada di sana karena kedinginan. Begitu keluar dari kolam renang, ada rasa segar yang luar biasa. Abis itu tepat banget kalau segera ke restaurant untuk pesan breakfast.

Pagi itu, gue pesen Nasi Rawon dan jus sirsak. Enak juga rawonnya, Rawon Nguling kalah enak.

Korban Lumpur Lapindo
Malamnya, abis pulang kerja capek, kayaknya enak makan Sop buntut. Apalagi udara malam itu memang agak agak dingin. Dengan French fries untuk cemilan makin menambah mantap.

Abis santap malam, gue naik ke lobby, iseng mau nanya nanya sama receptionist tentang okupansi hotel ini. Ternyata memang ramainya di weekend, kebetulan gue nginepnya di weekdays, jadi ngga seramai kalau weekend. Memang hotel ini dibangun dengan konsep wisata. Kalau weekend kadang bisa sampai penuh semua 94 kamar, kadang cuma 50%. Kalau hari kerja, lebih banyak tamu meeting daripada tamu menginap. 2 tahun ini okupansi memang menurun tajam. Sejak kejadian lumpur Lapindo, Tretes menjadi tujuan wisata yang kurang favorite bagi warga kota Surabaya. Memang untuk menuju ke Tretes harus melewati Porong yang sangat unpredictable jalannya, kadang lancar kadang macet. Dan kalau udah macet, repotnya bukan main, karena harus mencari jalan jalan tikus yang pasti membuat sebagian besar warga Surabaya memilih untuk tidak melakukan perjalanan.

Begitulah besarnya impact bencana lumpur Lapindo, sampai ke dunia pariwisata, sampai ke sebuah hotel yang jaraknya sekian puluh kilometer dari tempat kejadian. Tapi, kalau dari sisi gue, justru kebalikan. Kalau ngga ada lumpur Lapindo, mana mungkin gue pernah menginap di Tretes, sampai 2 kali di Hotel Surya dan sekarang di Tretes Raya. Pasti gue memilih nginap di Surabaya yang lebih ramai, walaupun lebih jauh, mengingat tempat gue bertugas ini di daerah Pandaan, Pasuruan.

Soal fasilitas, selain kolam renang, hotel ini juga ada diskotik, billiard, karaoke dan spa. Ada fitness center yang kata receptionistnya lagi dalam perbaikan. Selain Dynasty Restaurant, ada juga restoran Jepang, Seto Azemaya, yang ngga ada tanda tanda beroperasi, tapi terlihat sih, beberapa pelayannya yang berpakaian ala Jepang berwarna merah. Ada juga gedung serba guna yang biasa dipakai untuk meeting, gathering, gala dinner atau acara wedding. Selain gedung serba guna, ada lagi 4 ruang meeting lain yang lebih kecil.

Tempat wisata sekitaran sini yang bisa dikunjungi salah satunya air terjun Kakek Bodho. Dekat sekali dari sini, cuma beberapa menit. Gue sih hanya pernah lewat aja di sekitaran itu, ngga pernah actually liat air terjunnya. Kata sopir yang nganter gue sih, bagus dan ngga cukup sejam berada di sana, makanya dia ngga nawarin untuk mampir kesana. Gue ke sini kan tugas kantor, bukan wisata he he he. Gue coba browsing ke internet dan dapet situs yang lumayan lengkap tentang Kakek Bodho di http://www.actasurya.com/node/13.

Selain Kakek Bodho, agak turun ke bawah sedikit kearah Pandaan, akan menemui sebuah Candi peninggalan kerajaan Singosari, tempat sebagian abu jenazah raja Kertanegara disemayamkan. Gue sempet mampir untuk foto foto. Lebih lengkap mengenai Candi Jawi bisa ke http://navigasi.net/goart.php?a=bucajawi. Lebih kearah Pandaan lagi, bisa melihat sebuah bangunan yang sangat eye-catchy, sebuah mesjid dengan arsitektur China (Cheng Ho) yang lebih mirip bangunan Kelenteng. Masjid ini belum lama dibangun dan jelas bukan peninggalan zaman Cheng Ho.

Hotel Tretes Raya sendiri, yang terletak di kawasan Prigen, Gunung Arjuno, merupakan tempat hiburan yang kalah menariknya. Bersama gunung lainnya yaitu Gunung Penanggungan dan Gunung Perahu yang lebih kecil, merupakan tempat wisata yang menurut sopir yang mengantar gue, layak untuk dikunjungi. Tentunya, selain dari 3 gunung di atas, masih ada Gunung Kawi dan Gunung Bromo yang amat termasyur itu…

Sayang sekali, menjelang cek out, ada hal yang tidak menyenangkan. 2 malam sebelum check out, gue telepon Receptionist menanyakan laundry, yang katanya, taroh aja di dalam loundry bag, besok pagi akan diambil, dan sorenya sudah kembali ke kamar. Berarti Besok malam sudah bisa gue kemas untuk siap siap cek out keesokan paginya. So, gue taroh di loundry bag dan gue tulis di Laundry list yang udah disediakan. Paginya, gue berangkat ke kantor seperti biasa, dan berharap nanti malam cucian sudah beres dan bisa dikemas. Ternyata, malamnya, memang sudah ada baju cucian itu, tapi tetap seperti semula waktu gue tinggalkan dan ngga diambil apalagi dicuci. Pengen marah deh rasanya. Tapi, malam itu gue redam rasa kesal gue dan anggap ya sudahlah, mereka memang ngga profesional, walaupun hotel bintang 4 tapi di Prigen gitu loh, what do you expect lah... Terpaksa itu cucian gue bawa pulang ke Jakarta dan cuci sendiri dengan mesin cuci di rumah he he he.

Yang lain dari perjalanan kali ini
Selain seminggu di Tretes, 2 minggu sebelumnya gue sempet nginep di Surabaya di Hotel Somerset. Biasalah, kalau nginep disini pasti mencicipi yang dekat dekat situ seperti Kepiting Cak Gundul, Rumah Makan Medan SEHAT, Rumah Makan Dapur Sunda, Chinese Food FAJAR, dan tentunya Restaurant Terakota di lantai 2 hotel Somerset. Yang lain adalah mencicipi masakan Jawa Timur di Sidoarjo (dekat Pasar Tanggulangin), katanya sih, namanya Rumah Makan Piring Gede, tapi sebenarnya piringnya biasa, yang gede porsinya. Disana pesan sop iga + sate kambing. Rasanya benar benar mantap. Satu lagi sempet nyicip rawon dan ayam bumbu rujak Warung AFF di Pandaan ke arah Trawas sana. Satu yang pengen banget gue cicipin tapi belum kesampean, di daerah Trawas yaitu Soto Gondrong. Maybe next time :_)
Ohya, gue juga termasuk orang orang yang pertama melewati tol Waru - Bandara Juanda yang baru dibuka. Masih trial sehingga walaupun dikasih tiket tol, Rp-nya 0. Beberapa hari yang lalu memang sempet ada kabar demo masyarakat sekitar tentang ganti rugi lahan mereka untuk pembangunan to ini. Memang pembangunan tol ini lamanya bertahun tahun, ya gara gara penggantian kerugian yang tidak diterima warga. Dengan adanya tol ini, langsung menghindari macet di bundaran Waru terutama jam jam sibuk dan lebih terjamin ketepatan waktu tiba di Bandara. Mobil gue nganterin gue hanya butuh setengah jam dari Waru langsung sampai Bandara.

1 komentar:

Nupa Kris mengatakan...

Tempatnya keren juga ya.
Bisa jadi pilihan selain ke ,bali ,tanah lot , pantai kuta