09 Desember 2008

JAMBI, tidak ada yang istimewa disini …

Teman seperjalanan gue (Bernard) menyebut ini perjalanan sekali seumur hidup. Tidak dalam arti yang terlalu positif. Maksud dia, “ke Jambi? Ngapain (kalo ngga ditugasin kantor)?” Dan gue sangat setuju sama dia.

1 December 2008 – 4 December 2008

Keputusan untuk visit ke Jambi diambil hanya dalam hitungan menit. Pagi 1 December 2008, menyadari Tanjung Pinang bukanlah lokasi yang tepat untuk disurvey, pagi itu juga langsung berubah haluan ke Jambi. Tiket pesawat pun di-cancelled (non-refund). Pagi itu juga, langsung nyari penerbangan ke Jambi. Dan kita cukup ‘beruntung’ untuk dapat 2 seat terakhir.

Penerbangan 1 jam itu sangat ramai. Tante yang duduk disebelah gue menyebutnya kayak di pasar. Dan memang kayak di pasar. Pramugari lalu lalang ‘panen’ jualannya amat sangat laku. Bos bos Jambi borong. Mulai dari perhiasan imitasi, parfum, sampai peralatan menicure. Baru kali ini gue melihat keramaian seperti ini di dalam pesawat. Tapi gue dapet gambar yang lumayan bagus dari atas pesawat. Dugaan gue ini kita masih diatas kepulauan seribu.


Sampai Jambi, sudah ada penjemput dari Novotel yang gue pesen juga baru dari tadi pagi. Ada 3 hotel yang cukup representative disini, Novotel (Accor) dan Abadi Hotel (local management). Keduanya berbintang 4. Kalau mau lebih mewah, bisa di Abadi Suite (Bintang 5), dengan rate dari limaratusan ribu sampai sejutaan semalam. Perjalanan kurang setengah jam dari bandara menuju lokasi ketiga hotel tersebut di tengah kota (Pasar Angso Duo).


Setelah istirahat sebentar, sore menjelang malam, kita turun untuk makan malam di hotel dan kemudian tanya tanya ke Business Center, apa yang bisa kita lakukan di Jambi ini. Menurut ‘ayuk’ Yuli yang jaga malam itu, dengan sangat jujur dia mengakui Jambi tidak ada apa apa. Hanya jalan jalan ke Mal, atau daerah pinggiran sungai Batanghari. Biasanya, orang Jambi wisata keluar kota, misalnya ke Gunung Kerinci yang jaraknya sampai 9 jam dengan mobil (what??!). Waktu gue tanya, ada pantai ngga? “Oh ada, di Kuala Tungkal, 3 jam dari sini (toewewewew!!).” Dia menjawab bagus dengan mantap waktu kita tanya pantainya bagus apa ngga. Ohya, sebenarnya sedang musim durian di Jambi. Tapi sayang, sampai malam terakhir, ngga terwujud mau makan durian di pinggir jalan. Mengingat, hampir setiap malam kita pulang minum bir (berkenaan dengan tugas), riskan banget ditimpalin durian.

Besoknya, after lunch dan berdiskusi dengan sopir dari rental mobil yang kita sewa, kita memutuskan memperluas survey ke daerah Kuala Tungkal. Perjalanan awal cukup mulus, namun, setelah lewat kota S_______, perjalanan mulai tidak nyaman. Berlubang lubang, batu, tanah, bahkan lumpur. Beberapa truk tampak terseok di tengah jalan berlumpur itu. Tapi gue cukup menikmati perjalanan 3 jam itu. Rumah rumah panggung mendominasi awal perjalanan, sementara rumah walet sepanjang jalan menjelang dan di dalam kota Kuala Tungkal. Yang membuat gue terjaga dari tidur adalah truk truk besar dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan di jalur yang hanya muat 2 mobil kecil itu. Truk muatan kayu adalah yang paling mendominasi.


Selain itu, yang membuat gue terjaga, dan tak kuasa menahan geli, adalah, foto foto para caleg DPRD setempat yang jadul abis. Ada yang melotot, ada yang mengulum bibir atas seolah menyembunyikan kumisnya yang lebat, ada yang pose mayat (kaku) dan ada yang benar benar seperti mayat. Ada yang style sopir angkot, cleaning service, tukang reparasi, ada yang pose nyetopin mobil tebengan (kasih jempol) dll deh. Sepertinya para caleg itu perlu kursus berpose dulu. Very funny and entertaining that keep me awake the whole journey. Sayang gue ngga sempet foto, soalnya mobil melaju cukup kencang.

Sampai di Kuala Tungkal, tentu, kita ngga mau melewatkan untuk melihat pantainya. Sopir kita pun cukup meyakinkan bahwa pantai ini bagus dan sayang untuk dilewatkan. Ternyata, di pantai yang mereka sebut Ancol ini, tak lebih dari sebuah muara sungai ke laut, dengan pohon bakau sekeliling. Mereka membuat pondok untuk bersantap dan sebuah panggung hiburan. Sama sekali tidak menghibur. Tidak ada pasir, pohon kelapa, angina semilir, bahkan ngga bisa disebut sebagai pantai. Tapi inilah yang ada disini, nikmatilah selagi disini, tanpa bisa mengeluh…


Kita juga menyempatkan diri ke pelabuhan barang dan pelabuhan ferri. Pelabuhan yang sangat kecil sekali ini merupakan akses terdekat / pintu gerbang penumpang dan (terutama) barang, dari dan ke Batam/Singapore.


Kembali ke hotel lewat jam 8 malam. Walaupun belum terlalu malam, rasanya sudah ngga kuat lagi untuk beranjak. Perjalanan PP 6 jam lebih dengan kondisi jalan yang sangat tidak mulus membuat badan ini rasanya mau rontok.

Esoknya, kita jalan sekitaran kota Jambi saja. Ternyata, yang unik dari Novotel Jambi, adalah terdapat pusat belanja Matahari dan tempat makan Pizza Hut. Dibelakang hotel, terdapat pasar dan Supermarket yang cukup besar, Tropi. Sebuah Mal sangat dekat dengan Novotel, Jambi Prima Mal. Cukup dekat, hanya 10 menit dengan taxi, namun, taxi disini benar benar keterlaluan. Mengetahui yang naik tamu luar kota, kita diberi tarif 25k sekali jalan dan semua kompak ngga ada yang mau lebih murah. Memang, di Jambi ini taxi tidak ada yang menggunakan argo, walaupun argometernya terpasang. Saking dekatnya dan pas pulang susah nyari taxi, kita sepakat untuk jalan kaki. Jalannya sangat mudah diingat karena tidak berbelok sekalipun, dan bisa ditempuh kurang dari setengah jam dengan berjalan santai. Jambi Prima Mal orang sini menyebutnya ‘Trona’ karena ada Supermarket bernama itu.


Satu lagi pusat keramaian yaitu WTC Batanghari yang letaknya persis di pinggir sungai Batanghari. Disini, kita sempat makan siang di resto fast food Jepang Zenbu, lumayan juga. Terutama karena bisa makan sambil ‘menikmati’ pemandangan Sungai Batanghari yang sebenarnya ngga ‘nikmat nikmat amat’. Sungainya butek, kuning. Tampak kapal kapal kecil lalu lalang. Tak jauh dari WTC, ada semacam ‘halte’ untuk menunggu kapal yang menyeberang ke seberang sungai sana. Harus diakui, sungai ini cukup besar. Mungkin perlu sekitar 20 menit, untuk kapal bermesin motor itu membawa penumpangnya menyeberang.


WTC ini boleh dibilang masih baru, pusat hiburan yang terbaru di Jambi. Sudah ada bioskop 21 (yang semua teaternya memutar film Indonesia), dan bakal hadir Hypermart yang tampaknya cukup besar. Taxi dari Novotel ke sini, sama, 25k untuk tamu luar kota :_( Jaraknya juga sangat dekat, sekitar 15 menit. Namun kali ini pulangnya ngga jalan kaki, karena jalannya agak memutar. Taxi pulang 22k karena bayarin parkir si taxi tadi.


Malam saatnya ber-leisure :_P Club malam dan live music adalah tujuan kita. Sempet didatangi Mami di Golden Palace dan di Novotel (diskotik) sempet ditawari si WTSnya langsung. Pekerjaan seperti ini benar benar harus pintar bawa diri. Tapi keduanya (WTS dan Mami) tampak cukup menghargai kalau ada tamu yang hanya sekedar datang untuk minum.

Terakhir, nonton live music di Abadi Suite, lagi ada live band dari Bandung. Pas break, salah satu personel band cewek mendatangi meja kita dan ajak ngobrol. Gue tawari minum, dan dia juga minta rokok (padahal kita ngga ngerokok). Orangnya cukup nice, umurnya baru 19 tahun, asal Kendari (Sulawesi Tenggara), dan baru sebulan berprofesi sebagai penyanyi band. Dia mengaku namanya Amanda, nama asli, bukan nama panggung, dan honor mereka sebulan manggung 22 juta dibagi rata untuk semua personel yang terdiri dari 10 orang, termasuk orang yang dibelakang panggung. Mereka sudah di Jambi hampir sebulan, artinya tugas mereka hampir rampung. Minggu depan mereka manggung ke Dumai (Riau – Pekanbaru), tempat yang sama yang akan gue dan Bernard datangi. Abis dia membawakan lagi ‘Get the Party Started (Pink)’ yang gue request, minta bill dan kita cabut. Minuman gue dan Bernard (berdua) hanya 110k, minuman dia 120k :_(


Esoknya, setelah ngepak dan makan siang, gue sempat mampir di satu toko mainan. Disitu gue membelikan Kelly sebuah boneka sapi hijau yang kalo ditarik bentuk hati-nya, akan mengeluarkan musik berdenting yang merdu. Bernard juga beli sesuatu untuk putranya. Memang kalau sudah punya anak pasti itu aja yang diingat kalau berpisah :_) Boneka hijau itu (setelah dibawa pulang) pernah jatuh tepat di muka Kelly (insiden monster hijau, maaf ya nak, untung kamu ngga apa apa), makanya sekarang ditaruh agak jauh dari Kelly.


Sambil nunggu pesawat di bandara, ada sebuah toko souvenir yang menjual pernak pernik Jambi yang cukup menarik. Antara lain, kaos yang gue beli. Agak meniru dagadu namun lebih aseli Jambi. Gantungan kunci khas Jambi yang juga lucu lucu.


Begitulah kota Jambi. Kecil, sepi, tidak menghibur, sering mati lampu, tidak ada makanan enak, tidak ada pantai dan gunung. Oleh oleh nya pun khas Palembang (kerupuk dan pempek) dan dodol. Tapi satu hal cukup menarik bagi gue adalah bahasa lokalnya yang sangat mirip bahasa Palembang, bahkan sangat mirip bahasa sehari hari di kampung halaman gue di Belinyu (kota kecil di pulau Bangka). Namun hal itu tidak cukup membuat gue merasa feels like home. Karena kondisi geografisnya yang amat sangat berbeda dan sangat amat tidak menarik.

Seperti kata Bernard, nikmatin deh selama disini, karena mana mungkin lu akan, atau lebih tepatnya, mau, ke sini lagi ...

Foto foto Jambi yang tidak menarik di sini

8 komentar:

bujang jambi mengatakan...

sory bos.. loa tau apa sih ttg jambi...

makany lain x kl mau main k jambi mau cari pantai, tanya sama sumber yang benar...

d jammbi ada pantai kok, terletak di tanjung jabung timur (muara Sabak) tepatnya di pulau berhala...

jd salah tempat kl lo pergi ke tungkal...
hha...., jelas aja lo bilang ancol d tunkal itu g'layak dibilang pantai.., emank itu bukan pantai... itu kan cuma tempat rekreasi biasa..

jd jangan pernah bilang jambi ga'ada apa apanya bos... lo ga'tau ttg jambi....

Ok tuh...

Aj & Natz mengatakan...

Dear Bujang,
Thanks atas commentnya..
Boleh tolong info dari kota Jambi ke Tanjung Jabung berapa jam? dan naik kendaraan apa ke sana? Ada situs-nya ngga biar bisa tengok tengok?
Thanks

Anonim mengatakan...

gw orang jambi,
hmmm jambi ga ada apa-apanya?
hahahaha sekilas seh emang bener
tapi loe harus coba makanannya bos
dijamin terenak se indonesia
hahhahahhaha

joni14jbi mengatakan...

Salam kenal :D
Anda mendapatkan informasi yang salah dari Business Center yaitu Ayu' Yuli jika Pantai dikatakan ada di Kuala Tunggal :D
Tempat untuk bersantai di Provinsi Jambi memang tidak temukan di Kota Jambi melainkan di Kabupatennya.
Kebetulan Ane ketemu di Forum ada yang nulis tentang Jambi silahkan di kunjungi http://www.kaskus.us/showthread.php?p=220835091

Anonim mengatakan...

wah si bos nih kayaknya udah main hakim sendiri aja ....
mau info lebih banyak soal jambi? add me on FB diban99@yahoo.com.
u will amaze that most of this province had more potency than expected.
salah satunya pantai timur provinsi jambi adalah yang paling aman dari bencana geologi ... is this mean something for investment?

Anonim mengatakan...

MEMANG JAMBI GA DA PAPANYA !!
DAERAH NYA AJA KATANYA BERADAT,TAPI LIAT AJA ORANG2 JAMBINYA
---GA PUNYA ADAT----
---KUBU SEMUA----
- MUNAFIK
- BESAR KEPALA
- MERASA HEBAT,
BISA DI SURVEY,STANDAR PENDIDIKAN ORANG JAMBI ITU RENDAH,GA PUNYA DAYA SAING, LIAT AJA SEKOLAH-SEKOLAHNYA,KAMPUS -KAMPUSNYA
---90% PENGANGGURAN SUSKSES----
LIAT AJA PEKERJA2 PERUSAHAAN DI JAMBI,MAYORITAS DARI LUAR DAERAH..
ALASANYA KLISE:
---SDM JAMBI GA MEMADAI!----
TAPI JANGAN SALAH , KALO NGOMONG NGALAHIN HOTMAN PARIS HUTAPEA,
HAHAHAHA...
BAGI YANG GA PERCAYA SILAHKAN BUKTIKAN SENDIRI.

Aldila Rizqia mengatakan...

Gini gan,kalau menurut sejarahnya jambi dan sumsel(plg) itu dahulu satu daerah dan skrg sudah terpecah. Nah jadi memang banyak kesamaan disana sini. Karna satu nenek moyang sesama org melayu. Thankyou. Main2lah lg ke jambi, skrg taxi nya sudah pakai argo semua kok ^-^

Dessy Natasha Lude mengatakan...

Mas jambi ada gunung nya kok, volcano. Gunung kerinci the highest volcano in sumatra, jalan jalan deh ke kerinci. Ada geopark juga disini geopark merangin;). Sarolangun juga keren ada kawasan karst bukit bulan. Besok besok ke jambi hubungin saya biar saya ajak jalan jalan.