12 Februari 2009

Semarang kaline banjir …

Day 1 ber ‘gerilya’ kuliner di Semarang, gue langsung jatuh cinta. Baca di sini. Hari kedua, gue ‘malah’ ke Jogja dan sempet ber-gudeg ria juga. Tak lupa menyempatkan diri ke Goa Maria Sendangsono (Muntilan). Hari ketiga juga unik = wisata kota Semarang. Tak kurang dari Klenteng Sam Poo Kong, Lawang Sewu dan Kota Lama gue sambangi. Hari ke-empat alias terakhir, hari-nya oleh oleh di Bandeng Juwana. Overall, Semarang uaaappiiikkkk tenan ...



Hari pertama gue di Semarang, sudah terasa asiknya. Kuliner dan kota tuanya langsung memikat hati gue. Di hari kedua, gue memutuskan untuk berangkat ke Jogja karena suatu kebutuhan (cek sub-distributor). Tadinya mau sekalian Solo, tapi tampaknya tidak memungkinkan karena banjir (Bengawan Solo meluap). Semarang – Jogja hanya 2 jam naik mobil dan ke Solo +- tambah 1 jam.

Perjalanannya sendiri mengasyikkan. Rute Ungaran, Ambarawa (sempat lihat monumen Palagan Ambarawa – tapi ngga sempat foto), Banaran, Temanggung, Magelang, Muntilan dan Sleman. Ada saja yang bisa didiskusikan di dalam perjalanan itu, karena Pak Louis juga orang baru disini. Beliau asli Manado, dan lama di Papua dan Makassar. Sehingga, ranah Jawa juga merupakan hal yang ‘asing’ bagi dia. Kurang lebih samalah kayak gue. Soalnya belum pernah ke Jateng juga (kecuali Jogja – itupun > 10 tahun yang lalu – jaman SMA).

Diskusi yang paling asik adalah mengenai ‘syek Puji’. Siapa yang ngga kenal dengan milyuner yang baru baru ini bikin heboh karena menikahi ‘gadis’ kelas 6 SD. Kita sempet lewat di depan rumahnya dan wuihhh…. Rumahnya besar dan halamannya luas. Kalau orang lain koleksi miniatur mobil mewah dalam kaca, sang Syek punya koleksi mobil mewah beneran dalam rumah kaca di halaman rumahnya. Yang keliatan dari luar 2 mobil, satu Mercedes Benz, satu BMW. Di dalam ada banyak lagi, denger denger. Percakapan lainnya mengenai Palagan Ambarawa. Ayo, siapa yang masih ingat cerita heroik ini? Gue sih terus terang lupa total :_P

Di tengah jalan, sempat mampir makan siang di RM Ani di Magelang. Tidak ada yang istimewa disini. Masakan Jawa yang sudah dimasak, tinggal pilih.


Sampai Jogja masih siang, jam 2an. Setelah ngecek di subdis sampai hampir jam 5 sore. Kita diajak ke kota Jogja (subdis masih di pinggir kota). Hal pertama yang terpikir di Jogja adalah: makan GUDEG. Diantarlah kita (oleh Mas Teguh) ke Warung Gudeg B. Djuminten. Silahkan lihat review lengkap klik di sini. Mas Teguh asli Jogja, tapi lahir di Jakarta, sejak kuliah sudah di Jogja (sudah 19 tahun), kawin dengan orang Jogja, anak 1. Dia 39 tahun and look soo much younger than me *damn*

Gudeg adalah nangka yang dimasak gula Jawa sampai pekat dan manis. Nasi gudeg komplit biasanya dengan krecek, sambel plus ayam suir, empal daging atau telor. In overall rasanya manis khas masakan Jawa Tengah.


Kenyang, kita diajak jalan jalan ke Malioboro (ngider doang) dan sempat mampir sebentar di mukanya Kraton Jogjakarta yang hari itu ditutup bagi mobil. Ternyata lagi ada acara Sekaten. Sekaten aslinya adalah bersih bersih alat alat/perkakas/perabot/furniture-nya Kraton, termasuk kereta kuda dan singgasana Sri Sultan oleh para abdi dalem. Namun, bagi orang awam, Sekaten tak ubahnya pasar malam, yang menjual baju dan lain lain.

Konon, Hamengkubowono X sudah di takdirkan menjadi Raja terakhir saat Hamengkubowono I bertahta. Dia sudah berucap bahwa ‘dinasti’nya kelak hanya akan bertahan 10 keturunan. Dan benar saja. Sri Sultan yang sekarang semua anaknya perempuan. Trus nanti siapa dong yang meneruskan Kraton Jogjakarta? Mana Sri Sultan nyalonin diri jadi Presiden lagi…

Sempat juga mampir di pusat oleh oleh untuk sekedar beli Bakpia Patok. Baru tau, ternyata banyak variant dari Pia ini, ada Bakpia, Sopia dan Nopia wah wah wah. Kalo di Semarang ada Lunpia (begitu orang Semarang menyebut Lumpia), ada Popia, ada apa lagi ya?


Belum puas di Jogja, hari sudah malam. Waktunya kembali ke Semarang. Ngga nginap karena kerjaan masih numpuk di Semarang. Di tengah jalan, Pak Louis menawarkan mau ngga mampir ke Sendangsono. Wah … Sendangsono yang termasyur itu… Mau dong… Padahal itu jalannya udah kelewatan, akhirnya muter lagi. Hujan hujan pula.

Jalan menuju Goa Maria Sendangsono agak menanjak dan licin saat hujan. Sampai disana, alhamdulilah, hujan-nya berhenti total. Yang tersisa hanya angin dan hawa yang agak dingin. Begitu sampai langsung ke kios pernak pernik. Malam itu sepi sekali, ngga seperti biasanya (kata Pak Louis dan penjaga kios, gue sih baru pertama kali). Yang buka pun hanya 2 kios dari banyak kios yang terbuat dari kayu itu. Tak lupa beli jerigen untuk menampung air suci. Juga sebuah rosario yang terbuat dari batu (cukup unik), total 20,000 (jerigen 5000).


Jalan kaki ke dalam kompleks Sendangsono tidak jauh. Goa Maria-nya pun tidak terlalu besar. Letak Goanya tepat di depan sebuah pohon yang besar sekali. Di bawah pohon itu-lah air suci-nya berada. Foto sebentar, nyalakan lilin, lalu berdoalah kita bertiga. Kebetulan Pak Louis dan Joko (sopir) beragama Katolik. Mereka khusuk sekali. Beda sama gue yang bentar bentar ngedongak... Setiap kali gue liat ke arah patung Maria, gue selalu merasa sang Bunda bergoyang goyang. Entahlah, gue yakin bukan efek lampu.

Setelah berdoa, oleh seorang sukarelawan, kita diajak keliling Kompleks Sendangsono. Ke air suci, ke tempat permandian Katekis pertama dan makamnya, dan dijelaskan adanya asrama, kapel, dan jalan salib yang mencapai 12 KM panjangnya. Kompleks Goa Maria Sendangsono ini salah satu hasil karya arsitek yang sekaligus seorang pastur, Romo Mangun. Banyak orang non-Katholik yang ke sini sekadar studi banding. Memang unik, banyak tangga disini yang dwi fungsi sebagai tempat duduk dan berdoa juga pada saat ramai.


Pak Louis mengatakan, ia selalu mampir ke sini untuk berdoa setiap kali PP ke Jogja. Walaupun kerja di perusahaan bir (bagian Sales pula), gue menemukan banyak sekali pribadi pribadi seperti Pak Louis ini, apapun agama-nya. Mereka sangat relijius. Istri Pak Louis bahkan berteman dekat dengan banyak Uskup dan rohaniwan seluruh Indonesia, begitu pengakuannya.

Pulang dari Jogja, sampai Semarang hampir jam 00.00. Pak Louis ngajak makan Bakmi Jowo. Warung yang pertama tutup, tapi ada warung satu lagi yang sama di dalam gang. Namanya Bakmi Jowo Pak Har. Tersedia mi godok (rebus) dan goreng. Yang unik adalah digoreng/godok diatas arang dengan penggorengan kecil. Ada sundu’an juga khas Jawa. Kepala Ayam juga ada. Enaknya di panggang dulu. Enak, manis. Reviewnya, disini.


Ke hotel langsung tidur. Besok kerja lagi.

Besoknya, terima kabar kalo Bernard, yang seharusnya nyusul dengan pesawat jam 6, di-delay ke jam 7. Berarti nyampe jam 8. Maka gue dan Pak Louis, habis sarapan, memutuskan untuk mampir dulu ke Sam Poo Kong yang tersohor itu... Sampai Sam Poo Kong, dapat kabar lagi delay sampai jam 9.30. weleh weleh, kumaha tuh Garuda??? Jadilah banyak waktu di Sam Poo Kong, sampai puas berfoto, lalu ke kantor, ngga jadi jemput. Biar sopir aja yang jemput Bernard.


Kelenteng Sam Poo Kong adalah sebuah monumen peringatan Laksamana Cheng Ho yang sempat singgah di Semarang dengan armada lautnya yang berjumlah ribuan. Konon, karena Kapal Utama sempat rusak sehingga harus menepi di Semarang. Dulu, depan kelenteng itu sudah pantai. Di Semarang, Cheng Ho menemukan sebuah goa lalu dia bertapa di sana untuk beberapa saat. Awak kapalnya lalu menetap di sana bahkan ada yang menikah dan memutuskan tidak melanjutkan perjalanan.


Nah, mereka mereka inilah yang membangun kelenteng ini pertama kali. Sedangkan Cheng Ho sendiri adalah seorang muslim, dan sebagai ex-pelayan permaisuri Raja, ia sudah disunat sampai habis (di-kebiri, ia seorang kasim). Ohya, Patung sang Laksamana di depan Kuil Utama menurut gue terlalu ganteng dan ‘manis’. Sebagai seorang pelaut, bangsa Mongol pula, harusnya perawakannya kasar, badan besar dan kulit item. Probably dengan brewok yang ngga rapi. Tapi siapa yang punya gambar-nya? Dokumen perjalanannya pun sudah tidak diketemukan lagi.

Siang hari, orang sekantor pergi ke Resto Ikan Bakar Cianjur. Sebenarnya agak wasted, jauh jauh ke Semarang kok makan Sunda (ada cabang di Jakarta pula). Tapi esensi sebenarnya dari makan siang itu adalah wisata Kota Lama. Kawasan Kota Lama Semarang merupakan pusat pemerintahan dan rumah tinggal kompeni pada masa-nya. Resto Ikan Bakar Cianjur sendiri menempati sebuah rumah kuno yang besar. Demikian juga banyak bangunan di sekitarnya. Salah satunya Greja Blenduk ini.


Abis dari situ, kita diajak ke bangunan kuno yang legendaris juga di Semarang. Lawang Sewu adalah bekas kantor per-Kereta api-an Jaman Belanda (NIS). Pernah juga dijadikan lokasi uji nyali, karena konon, bangunan ini banyak ‘hantu’ bule maupun lokal. Katanya, lantai 3 (atap) adalah tempat penyiksaan dan eksekusi. Waduh, dasar koe orang kompeni, di kantor KA aja suka menyiksa orang Fribumi... Ohya ada pungutan uang masuk 5000 per orang yang dipungut oleh PT KA. Nah lho. Padahal tidak ada perawatan sama sekali terhadap gedung ini. Tidak perlu dirawat sudah berdiri kokoh. Namanya juga bangunan kuno jaman Belanda. Ada guide juga yang udah seneng dikasih 20,000. pak Louis malah nambahin 10,000 jadi total 30,000. Kesenengan dia.


Lawang Sewu dalam bahasa Jawa artinya Seribu Pintu. Namun menurut si guide hanya 900 berapa gitu... Istilah Sewu (seribu) bagi masyarakat Jawa, biasanya untuk menyebutkan sesuatu dengan jumlah yang banyak (ngga mesti pas 1000).

Malamnya, kita diajak makan di daerah Semarang Atas (yang tidak banjir). RM Alam Indah di kawasan Taman Tabanas. Dari sini, dan resto lain pada umumnya, bisa melihat ke bawah, pemandangan (tigaperempat) kota Semarang. Udara pun cukup sejuk dibanding Semarang Bawah. Makanan di RM ini sendiri tidak begitu istimewa, tapi yang ditawarkan adalah suasana. Ohya, Bernard pesan teh Gopek, yang ternyata pemilik teh Gopek ini adalah bokap-nya Budi Susanto (manajer rising star di KPMG, yang dulu pernah jadi bawahan gue :_P )


Lebih malam lagi, kita ke night club bernama E-studio di kawasan Simpang Lima. Ini bagian dari kerjaan. Tiap tiap area yang kita datangi, harus disisipkan night visit seperti ini. Dimana lagi bisa dugem lalu dibayar :_P Tapi karena Bernard ngantuk berat, dari pagi sudah bangun untuk pesawat jam 6 yang ternyata delay, ya udah, jam 12 lewat kita balik hotel duluan.

Besok pagi, breakfast di hotel Horison tempat gue menginap. Breakfast disini cukup OK kalau dibanding hotel Bintang 4 lain macam Somerset atau Plaza Surabaya. Disini lebih komplit dan tiap hari bisa berbeda. Yang selalu ada itu: DIMSUM (yummy). Yang tiap hari berbeda itu ada satu stand yang dijaga mbak manis berpakaian adat Jawa Tengah. Tiap hari ada makanan khas Jawa dari daerah tertentu. Misalnya, ada Nasi Gandul khas Pati, lalu ada nasi liwet dan apa lagi lupa. Ngomong ngomong soal nasi gandul, ada yang enak di Pesangrahan (Jakarta), warungnya reot, tapi yang makan rame.


Selesai breakfast, Bernard ngajak ke Sam Poo Kong lagi, karena dia belum ke sana. Hari itu lagi rame (malah jadi kayak di lapangan Tien An Men), ada study tour dari SLTA Pelita Harapan II (Jakarta).


Hari terakhir, tak boleh lupa oleh oleh. Maka, siang itu, setelah discuss finding dan makan siang di Sambara (lagi lagi Sunda), kita meluncur kembali ke kawasan Simpang Lima untuk mampir ke Toko Bandeng Juwana. Rame sekali disana. Khas-nya memang Bandeng. Ada yang tahan 2 hari, ada juga yang tahan 1 bulan. Gue beli yang 1 bulan (bandeng vakum). Harganya 58k sekilo kalau beli diatas 5 ekor. Dibawah itu harga lebih mahal per kilonya. Ada juga moachi Semarang (pake wijen di luarnya), Wingko Babat, dan Lunpia. Yang lainnya kue kue biasa, bukan khas Semarang. Gue beli moachi gemini yang seinget gue enak banget (dulu pernah nyicip oleh oleh temen). Ternyata memang beneran enak lho...



Selain oleh oleh dari Semarang, kita dibekali pula buah tangan dari Makassar (nah lho). Sebab Pak Louis orang sana, dan memang ada persediaan (atau sengaja minta orang kirimin karena tau kita datang?). Minyak Gosok cap Tawon khas Makassar dan Minyak Kayu Putih Ambon. Masing masing 1 paket gue dan Bernard. Pak Louis memang baik hati. Oleh oleh di Bandeng Juwana pun dibayar oleh beliau. Sempet ada rebut rebutan mau bayar di depan kasir, tapi karena ramai yang antri, akhirnya tamu mengalah. Sampai ada yang bilang begini.. “Pak, yang punya saya aja dibayarin, daripada tamu-nya ngga mau” duh tuh orang…


Minggu depan gue ke Makassar mungkin orang sana bingung kok gue bisa udah dapet oleh oleh dari sana ya he he he :_P

Nyampe bandara tinggal masuk bagasi aja, soalnya udah city check in semalam di Hotel Horison (ada counter Garuda cukup besar di lobby). Untung hanya delay 15 menit. Wuih, lega banget. Ada 2 executive lounge di Bandara Ahmad Yani ini. Sampai Jakarta, besok besok nya (Sabtu) dapet kabar, Semarang banjir gede, termasuk Bandara Ahmad Yani lumpuh… untung ngga terjadi 2 – 3 hari sebelumnya, pas kita di Semarang :_)

Tapi judul diatas tidak untuk spesifik ngeledek kota Semarang. Hanya kalau denger kata Semarang, yang teringat ya itu... :_P

Foto Semarang kuliner di sini dan sini
Foto Sam Poo Kong di sini
Foto Kota Lama dan Lawang Sewu di sini
Foto Jogja dan Sendangsono di sini

2 komentar:

Veny mengatakan...

Betul kan >> "Semarang enak tenan" !! hua222

Aj & Natz mengatakan...

yoiii... wuenak tenaannn... ya kuliner, ya jalan jalan :P