29 Oktober 2007

OUR HOME

Click above title for Song related to this blog

WHEN WE MAKE A HOME
( A lovely home...)
When we make a home,
when our love has grown
when all our apprehensions fade,
and we can say forever.
When we share our dreams,
everything we own
we'll build a life together,
when we make a home.
Safe and warm,(safe and worm)
We sheltered from the storm
(so happy together)
When we make a home together, love
will last forever.
Now, our love is young,
facing the unknown (forever more)
but we'll find joy together,
when we make a home.
(Music)
( A lovely home...)
When our hearts are one,
Though our minds are two
when we can cherish everyday,
And fill our lives with laughter.
We will dance and sing,
in the setting sun
we're make a home together,
when our hearts are one.
Safe and warm, (safe and warm)
we sheltered from the storm
(so happy together)
When we make a home together, love
will last forever.
Now, our love is young,
facing the unknown (forever more)
but we'll find joy together,
when we make a home.
Safe and warm,(safe and warm)
we sheltered from the storm
(so happy together)
When we make a home together, love
will last forever.
Now, our love is young,
facing the unknown (forever more)
but we'll find joy together,
when we make a home.

Namaku JG 12B. Sekilas namaku tampak ngga hoki, bahkan cenderung bawa sial, karena nomor sebenarnya dari aku adalah 14 (12, 12A terus 12B), apalagi one once said 14 is a bad luck number. Tapi sebenarnya dibalik angka sial itu, betapa beruntungnya aku dan kisah dibalik mendapatkan aku yang penuh keberuntungan.

Dulu, waktu gue ask Natz to marry me and she said yes, hal pertama yang gue lakukan adalah mencari rumah, atau tepatnya mengalokasikan dana untuk membeli rumah. Yang ada di benak gue, rumah dulu, baru menikah. Gue ngga mau tinggal di rumah Papa Mama atau Mertua. Terlalu banyak kisah ngga menyenangkan yang gue denger dari kehidupan menantu dan mertua yang tinggal di satu atap. Namun ternyata, nyari rumah itu ngga segampang yang gue kira. Terlalu mahal, terlalu jauh, terlalu kecil, reot, bahkan tusuk sate pernah kita survey. Dan karena ini bukan tujuan investasi, namun benar benar untuk rumah tinggal, berbagai aspek kita pertimbangkan benar dan harus matang. Begitulah, beberapa saat berlalu dan tak kunjung menemui rumah idaman yang pas buat kita. Banyak juga yang OK, tapi seperti yang dulu sering gue bilang sama Natz, “D, abangmu ini ngga punya uang untuk membeli yang begituan.” Dengan bercanda Natz membalas, “wuuu… ngga punya uang mau ngajak gue merit.” Itu pure becanda, my Natz is not a ‘matre’ girl.

Suatu hari gue memutuskan, “Ngga usah pikirin rumah dulu deh, kalau ngga, kita ngga merit merit.” Setelah merit nanti mau tinggal dimana, kita pikirkan nanti pas dekat dekat merit, kalau memang ngga dapet rumah, kan bisa nyewa rumah, atau nyewa apartemen, atau tinggal di hotel melati, bahkan kalau ngga ada uang yang cukup, kita nge-kos aja. Dan si Natz setuju.

Deket deket merit, sekitaran November 2006, kita kembali ke kegiatan mencari rumah. Soalnya kegiatan persiapan merit udah relatively berkurang. Kebetulan daerah perumahan Daan Mogot Baru lagi bangun cluster baru. Iseng iseng kita ajak mama untuk melihat lihat lokasi. Kalau mau beli rumah baru dari pemasaran, sudah habis yang hadap timur, sehingga all hadap barat. Harganyapun ngga murah, luas tanah 90 dibandrol Rp 460an juta. Wow. Sama pemasarannya kita diajak masuk ke salah satu rumah yang kebetulan dia pegang kuncinya.

Rumah ini menghadap ke timur, dan sudah dibeli orang, hanya saja belum serah terima dengan pihak pemasaran. Begitu lihat dalamnya rumah ini langsung jatuh cinta. 3 kamar tidur di lantai 2. 2 kamar mandi masing masing di atas dan di bawah. Kamar pembantu, kamar mandi pembantu menyatu dengan tempat cuci dan jemur pakaian dan ada pintu samping sendiri untuk pembantu. Untuk rumah ukuran kecil (6 x 15 2 lantai) rumah ini tertata dengan apik dan tampak luas.

Tapi yang available adalah rumah yang menghadap timur, dan sama sekali belum dibangun, baru berupa tanah, itupun belum diuruk, belum ada pengerjaan sama sekali. Baru jadi mungkin 6 bulan. This was not an option. Tapi sang marketing ngga kehabisan akal untuk menjual, Sandra, si marketing, nawarin kita rumah yang barusan kita liat itu. Memang rumah itu dititipi oleh pemiliknya kepada marketing untuk dijual. Tapi tentu saja, “jangan bilang bilang pemasaran ya bu.” Begitu kata si Sandra. Ia buka harga Rp 490 juta, lebih mahal dari rumah baru, soalnya siap huni. Hanya PAM saja yang kemungkinan bulan depan sudah masuk. OK, kita simpan untuk bahan pertimbangan.

Beberapa hari kemudian, kita datang dengan tawaran Rp 475 juta. Bargaining pun terjadi. Dalam beberapa hari, terus menerus telepon teleponan terus dengan Sandra masalah ini. Alot bukan main. Akhirnya disepakati harga Rp 480 juta belum termasuk biaya surat surat dan pajak. Total total mungkin 500 juta. Setelah beberapa hari mikir mikir, akhirnya kita sepakati juga. Rp 480 juta, tanda jadi 5 juta diminta ditransfer ke rekening seseorang, katanya suaminya Sandra. Ha? Kita curiga jangan jangan ada main main. Lebih baik kita bayar lebih, tapi ada surat suratnya ditangan. Ternyata ngga bisa, dia malah bilang pemiliknya ngga mau cash, mau-nya KPR, dan harus pakai bank NISP. Nah lho, aneh bin ajaib bukan? Mana ada pemilik yang reseh dan bego begitu. Ini pasti permainannya Sandra. Akhirnya kita batalkan kesepakatan. Ngga jadi beli deh, kayak main main aja. Kita beralih ke rumah yang lain, seberang gardu listrik, ngadep timur juga, luas dan tipe sama. Tapi kali ini kita mau deal langsung dengan pemiliknya.

Berselang beberapa hari, Pak Santoso (ketua lingkungan sekaligus usaha jual beli rumah) pulang dari jalan jalan. Emang, mama udah menunggu nunggu dia pulang, mau tanya mungkin pak Santoso tau rumah yang seberang gardu milik siapa. “Oh, Bu Meity lagi nyari rumah buat anaknya? Kalau mau saya punya yang sama tipe-nya dengan yang itu, di Blok JG no 12B” Lho 33x… Itu kan rumah yang ditawari Sandra, ternyata oh ternyata, punya pak Santoso toh.. wah, langsung deh kita ceritain semua ke Pak Santoso. Dan pak Santoso bersedia jual sesuai tawaran kita, Rp 475 juta. Tanpa perantara. Malam itu juga pak Santoso ambil kembali titipannya ke Sandra. Besok pagi, ngga gue, ngga Natz diteleponin dengan gencarnya sama Sandra, “boleh kok 480 juta cash, pemiliknya mau.” Ngga. Wong pemilik aslinya udah deal sama kita 475 juta he he he. Dasar makelar rakus, saking rakusnya ngga dapet apa apa.

Demikianlah. Dengan DP 5 juta ke Pak Santoso, rumah jadi milik kita. Mengenai pembayaran, gue sampai jual mobil baleno gue dan Natz jual avanza-nya. Avanza sih jualnya ke bokap Natz sendiri, harga tinggi pula. Itung Itung bantuan orang tua. Baleno setelah masang iklan di Pos Kota, terjual 65 juta. Baleno Gold tahun 2000, belinya mahal lho, tahun lalu 82.5 juta, turunnya hampit 20 juta. Rugi bener. Tapi memang pasaran segitu, dan lagi butuh duit, mau gimana lagi.

Bulan Desember 2006 akhir, gue mulai tinggal di rumah ini. Sendirian tentunya. Kan waktu itu belum merit. Setelah renov sana sini habis 20an juta. + pajak dan surat surat, rumah ini worth kurang lebih Rp 520 juta. Denger denger sekarang pasarannya sudah lebih dari Rp 550 juta.

Tanggal 21 Januari 2007, pas merit, ngga nyangka gue udah punya rumah. Pengantin pria pun bisa keluar dari rumah sendiri menjemput pengantin wanita di rumah orang tuanya.

Rumah ini, JG 12B, bukan sekedar rumah, it’s a home, not just a house. Bukan sekedar tempat tinggal, ia saksi dari cinta kita dalam membina rumah tangga. Dimana kisah hidup AjNatz bermula, kemudian tumbuh dan berkembang dengan AjNatz AjNatz kecil nan lucu. Tempat kelak buah cinta kita itu bermain dan bernaung. Tempat kelak kita meninabobokan mereka dengan penuh cinta. Tempat kita merasa damai, merasa aman, nyaman dan terlindung. Tempat kita merasa “cinta”. Tempat kita merasa “rumah”. Seperti lagu Sadao Watanabe di atas.

Rumah ini, punya 1 kamar utama, 2 kamar tamu, yang masing masing biasa kita sebut kamar ‘anak’ dan satu lagi kamar ‘deddy’. Kamar anak karena kamarnya sebelahan sama kamar utama, cocok banget kalau anak kita tidurnya di sana he he. Satu lagi, karena ada foto Deddy dengan salib Yesus di atasnya. Juga sebuah meja tempat galeri foto. Lebih sering tamu kita tempatkan di kamar ini, karena lebih proper, ranjang lebih besar dan nyaman. Juga ada balkon, yang kalau pagi hari, sinar matahari seakan menyapa yang sedang tidur dan panasnya ngga akan membiarkan kamu kembali tidur lagi. Itu bagian atas dari rumah, kamar tidur semua dan sebuah kamar mandi dengan shower dan closet. Kita suka tegelnya yang nuansa hijau, seger banget. Turun ke bawah, tangganya nuansa coklat, mulai dari keramik dan pegangannya. Tadinya pegangan catnya putih, ganggu banget deh, jadi gue ganti dengan cat warna cokelat sehingga serasi dengan keramiknya. Bagian bawah, ruang tengah (keluarga), ruang makan, ruang dapur, ruang tamu, kamar mandi tamu dan ruangan khusus pembantu lengkap dengan kamar tidur pembantu, kamar mandi pembantu, dan tempat jemur di atasnya. Ruang tamunya sangat kecil, cuma basa basi, tamu yang deket ngga pernah kita dudukin di sana, pasti di dalam, itu untuk tamu ‘ala kadarnya’. Untung kita punya satu set meja kursi warna hitam yang minimalis pemberian dari Papa Mama Natz. Manis dan pas sekali, dipadu dengan pajangan biola hitam di atasnya. Karena kecil ruangannya, tempat sandal pun harus yang minimalis dan ngga makan ruangan. Untuk yang satu ini banyak yang puji bagus ;)

Mulailah kita mengisi rumah ini dengan berbagai perabot dan aksesoris. Mulai dari ranjang utama. Kemudian TV, rak TV, meja makan, ranjang tamu (untuk kedua kamar) yang kesemuanya kita ngga beli. Either emang udah ada spt TV dan CD player, DVD player, karena gue kan dulu anak kos, jadi emang udah ada, atau hibah dari ortu Natz dan Koko gue he he. Mengenai kamar yang ketiga tiganya sudah terisi ranjang, Merry (Manafe) once bertanya, “Di, kok ranjang udah ada semua sih tiap kamar?” ini gue jawab dengan enteng, sok wise tapi guyon “Mer, kehidupan rumah tangga itu ngga selamanya harmonis, kalau lagi ribut, paling ngga gue ngga tidur di sofa he he.” Merry dan calonnya waktu itu datang membawa undangan pernikahan, sekalian lihat lihat rumah kita.

Baru kemudian kita isi dengan sofa coklat dengan meja yang minimalis. Itu kita dapatkan dari pameran JHCC, 6 juta 1 set, not a bad deal at all, banyak yang bilang sofanya bagus, soalnya bukan hanya bagus dilihat, tapi juga nyaman duduknya.

Kanopi, kita buat karena titah Papa. Maklum, mobil yang sekarang kita pakai dan parkir di rumah kan punya Papa. Tapi Mama Natz banyak Bantu dalam hal ini. Sebuah kanopi yang kokoh dengan bahan berkualitas kita dapatkan dengan 4.75 juta saja. Karena bahan beli sendiri, hanya bayar tukang. Dan hitungan Mama tepat banget!

Kitchen Set kita bikin sama Zoom interior consultant and contractor, pemiliknya Jumito, suaminya Cikita (nama asli Yulita – angkatan Natz di KPMG dulu, group Emil). Juga not a bad deal. 7.2 satu set dengan sebuah cresenda di bawah tempat meja nasi. Warnanya kita pilih yang serasi dengan meja sofa yang coklat tua. Gue rekomendasiin ke temen kantor AKR juga, Chyntia, anak IT dan dia juga pake. Dia malah bikin kitchen set + rak TV senilai Rp 10 juta lebih. Untuk yang ini gue belum tau dikasih komisi berapa he he he..

Di rumah kita ini miskin lahan. Semula teras depan dan belakang rumah ada halamannya buat ditanami, namun kita tutup 2-2nya. Yang belakang kita tutup supaya bagian dalam lebih luas. Kalau bagian depan, supaya ngga jadi sarang semut dan serangga serangga lain. Alhasil, cuma 2 tanaman pot yang kita punya, itupun tanaman sederhana. Pandan Bali, yang emang gue pengen punya sejak lama, kesannya mewah, dan karena besar, cukup 1 pohon aja ketimbang banyak kembang kembang yang kecil kecil. Satu lagi Palem. Palem biasa, yang dibawa ke Greja tiap perayaan minggu palem. Tujuannya gue nanam itu ya, supaya minggu palem ngga usah minta minta ke orang lain, malah gue bisa ngasihin orang lain. Ohya, masih ada sih 4 pot kecil tumbuhan kaktus, 2 punya mama, 2 punya gue. Ini kaktus walaupun ngga di urus dengan baik, tetep tumbuh dengan baik kok.

Terakhir, kita punya sepeda. Yang merah punya Natz, yang item punya gue. Kita beli di Hypermart mal Daan Mogot pas baru hari pembukaan perdana, banyak diskon. Dan ini jadi hobi baru kita. Bersepeda tiap sabtu dan minggu sore. Fun, menyegarkan, dan sekaligus olahraga sore. FYI, foto itu bukan di depan rumah kita. Jangan ketepu. Rumah kita belum level sebesar dan semegah itu. :p But, at least kita bahagia di rumah ini, karena inilah rumah kita.

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Хм… даже такое бывает.

Anonim mengatakan...

Прeогpомный pecпект aвтоpу… Bас пpиятно читать всeгдa… Стaтья по делу, солидаpeн )))

Anonim mengatakan...

Немного медленно грузится сайт, может потому что я из израиля Но главное что не зря ждал, интересно.

Anonim mengatakan...

Добавил в закладки. Теперь буду почаще читать!

Anonim mengatakan...

Отличный пост – слов нет. Спасибо.

Anonim mengatakan...

Хотелось бы что-то наваять в комментах креативного, но мысль не складывается, так что просто “зачОт”