12 Juli 2008

Bekerja untuk Orang No 54 Terkaya di Indonesia

Majalah GlobeAsia baru baru ini merilis nama 150 orang terkaya di Indonesia. Dalam e-mail yang dikirim seorang teman iseng menulis seperti ini, “Hayo cari nama kalian, siapa tau keselip disitu. he..he..” Gue memang mencari satu nama, tapi yang jelas bukan nama gue :_P yang gue cari adalah nama Soegiarto Adikoesomo.

Siapa sih Soegiarto Adikoesomo? Bagi orang bisnis, dia adalah Taipan, teman bisnis, saingan bisnis, bahkan musuh bisnis yang bisa sangat ditakuti. Perusahaannya tersebar di se-antero Indonesia, bahkan sampai ke pelosok China. Kekayaannya melimpah. Namun, ngga banyak orang yang tahu, dari semua fortune yang dia hasilkan sekarang ini, bagaimana ia merangkak dan berjuang dari titik nol.


Lahir 70 tahun yang lalu dari sebuah keluarga sederhana di Surabaya. Ia mulai bekerja sebagai pengantar kain di sebuah toko di kota kelahirannya tersebut. Pernah dituduh mencuri kain, padahal ia beli dengan jerih payahnya sendiri untuk istri tercinta. Dari situ, ia belajar betapa pedihnya menjadi orang kecil yang menggantungkan hidupnya pada orang lain dan bertekad untuk memulai usahanya sendiri.

Bermula dari sebuah toko bahan kimia kecil di Surabaya. Bersama karyawan pertamanya, Jimmy Tandyo, berkeliling dengan sebuah sepeda motor Vespa, mengantar jualannya. Kini ia sudah merajai trading dan logistik bahan kimia, termasuk penyimpanan (tanki) di pelabuhan pelabuhan utama di Indonesia. Tahun 80an, Unilever mengajaknya bekerja sama membangun pabrik Sorbitol (bahan baku yang banyak digunakan Unilever) di Pandaan, Jawa Timur. Dari kapasitas 5000 Ton per tahun, sekarang sudah menjadi penghasil Sorbitol no 2 di dunia, bersama pabrik-nya yang lain di Liuzhou, China. Tahun 2000an, menjadi pengusaha swasta pertama yang terjun ke dunia jual-beli Petroleum. Di era yang sama, ia juga mengakuisisi 100% kepemilikan 5 buah pelabuhan sungai di Guigang, China yang merupakan jantung pelayaran dari Guangzhou menuju Hongkong sampai ke Shanghai. Belum lagi sebuah hotel terbaru dengan privat beach di Nusa Dua, Bali dan sebuah Convention Centre bertaraf internasional lengkap dengan 18 hole golf course di Manado.

Itulah sosok Pak GIK, begitu ia akrab disapa. Ulang tahunnya yang ke-70 kemarin dirayakan dengan meriah di Hotel Mulia, Jakarta. Namun dibalik kemeriahan itu, sosok yang tampil adalah kerendahan hati, lembut, perhatian namun tetap tenang dan berwibawa. Dan karyawan pertamanya itu, dipercayakannya menjadi CEO dari sebuah unit usahanya yang paling besar.

Gue merasa beruntung bisa bekerja langsung di bawah beliau. Beberapa kali, terutama di China, langsung dengan beliau. Dari situlah gue mengenal sosok asli dari sang Taipan. Ia sangat menghargai pekerjaan bawahannya. Karena ia pernah merasakan pahit getirnya menjadi karyawan, ia selalu memperlakukan karyawannya dengan baik. Ia juga gemar memberi petuah tentang filosofi kehidupan, tentang keluarga, dan tentang bagaimana ia mendidik anaknya. Pernah suatu malam di Guigang, China, gue dan Roy diajak ke rumah barunya dan diajak berkeliling. Rumah yang tidak terlalu besar namun untuk ukuran di China, sudah cukup mewah. It’s a Penthouse di lantai paling atas sebuah apartment yang cukup mewah.

Di China, ia juga memiliki sebuah mobil Mercedes Sports (2 pintu) yang ke mana mana ia setir sendiri. Pernah suatu ketika, datang sopir menjemput dia dengan mobil tersebut. Sopirnya turun, lalu pindah duduk di sebelah. Lali beliau masuk dan duduk di belakang kemudi. Gue garuk garuk kepala, baru kali ini ada majikan yang nyetirin supir… Kemana mana beliau juga selalu ditemani sang istri. Bu GIK juga pribadi yang bersahaja dan tidak berperangai nyonya besar. Suatu malam, ketika sedang membahas report (jam 9 malam di penthouse-nya), melihat Pak GIK yang menguap beberapa kali, Bu GIK langsung membuatkan kopi, padahal di sana ada pesuruh. Dibalik pria yang hebat selalu ada wanita yang hebat :_)

Begitulah orang bisa menjadi orang besar. Bagi gue, Pak GIK besar bukan karena kekayaannya. Bukan karena ia salah satu orang terkaya di Indonesia. Bukan karena perusahaannya yang tersebar di mana mana. Namun karena dibalik kebesarannya, ia tetap begitu membumi sehingga menjadi kecintaan dari ribuan karyawan yang bekerja untuknya. Gue hanya salah satunya.

PS. Usia yang ditampilkan majalah GlobeAsia ngga salah juga. Walaupun sudah umur 70 tahun, Pak GIK masih terlihat berumur 60an. Segar dan enerjik.

1 komentar:

Jiewa mengatakan...

Profil yg inspiratif ya Ko.. u're lucky to know him. Kapan nih jd pengusaha juga ? :P